Cadar, Siapa Takut?

Catatan : Neneng Wijoyo

MEPNews.id —Membagikan tajil jelang puasa di sepanjang jalan pada bulan ramadhan, nampaknya sudah menjadi pemandangan yang biasa. Siapa yang tidak ingin mendapatkan keberkahan dariNya? Jadi wajar saja jika mereka semua khususnya umat muslim berlomba lomba dalam hal kebaikan di bulan yang penuh maghfiroh ini.
Di ujung jalan sekitaran Mulyorejo sore hari itu, tiba-tiba mataku tertuju pada sekelompok ibu-ibu dan anak-anak yang tengah membagikan makanan. Mereka begitu antusias, bersemangat membagi-bagikan makanannya pada orang yang melewati jalan itu. Banyak yang berhenti disana untuk mengambilnya. Namun, ada hal menarik dari sekelompok ibu-ibu yang membuatku agak tersentak melihatnya.

P Beberapa diantaranya bercadar !? Bagaimana tidak terbelalak mata ini ? Ditengah ke “parno” an orang ketika melihat yang bercadar ataupun bercelana jingkrang, apalagi beberapa waktu ini Surabaya tengah menjadi pusat perhatian orang bahkan sedunia dengan teror bom nya! Tapi mereka seolah tidak perduli dengan ke-parno-an orang. Terlihat ibu yang bercadar ini mengomando anak-anak jika ada yang belum terbagi. Anak-anak pun dengan sigap dan semangat melaksanakan instruksinya. Mashaa Allah suatu pemandangan yang luar biasa bagiku di sore hari itu. Kagumku pada mereka, yang telah mampu membuatku merasakan kesejukan ditengah panasnya udara di Surabaya.
Ku intip…ada banner tergeletak di sudut sana,ternyata mereka adalah komunitas ibu-ibu dari salah satu sekolah SD Islam di bagian barat Surabaya, daerah seputaran Sambikerep.

IMG-20180527-WA0012

Mashaa Allah,
Di tengah maraknya teror bom beberapa waktu ini , yang membuat orang ketakutan, dan malas bepergian, tapi di bulan yang penuh kesucian ini ada sekelompok ibu-ibu yang tengah berjuang di jalanNya. Subhanallah, meski bercadar tetapi bukan bom, bukan ketakutan yang mereka bagikan di jalanan, tapi Cinta yang mereka bawakan untuk sesama. Mereka membawa anak-anaknya untuk berbagi kebaikan di jalanan. Ramadhan adalah “tamu agung” yang membawa banyak oleh-oleh. Untuk itu yang mereka persembahkan tidak bisa dianggap remeh. Karena dengan begitu mereka sedang berusaha untuk tidak melukai “tamu agung”nya. Tamu Agung yang membawa banyak oleh-oleh berupa pahala, maghfiroh, keberkahan.
Bagiku ada dua pelajaran yang bisa dipetik dari pemandangan di sore hari itu.
Pertama, mereka telah mampu menepis ketakutan orang-orang bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan dari dia yang bercadar itu, justru dibalik yang tersembunyi di balik longgarnya kain dan panjangnya kerudung mereka membawa keindahan untuk sesama.
Kedua, dengan melibatkan anak-anak berbagi dijalanan tadi, ibu-ibu para pejuang yang tangguh ini tengah menanamkan dan menumbuhkan empati anak-anak pada sesama sebagai sarana menggapai surganya, dalam menghormati tamu agungnya yang membawa “oleh-oleh pahala”.
Semoga semakin banyak bertumbuh bunda-bunda yang tangguh di negeri ini. Yang mampu membuktikan pada dunia bahwa Islam adalah Rahmatan Lil Alamiin. Bunda yang mampu mencetak calon -calon penghuni surga.
Kagumku padamu, wahai Para Bunda, Pejuang yang tangguh❤

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.