Anak, Wujud Spirit Ramadhan 1439H

Oleh Astatik Bestari

Mepnews.id – “Umi, nanti tarawihnya di rumah gih?” malam 1 Ramadhan lalu si sulung tanya ke saya.

“Tentu saja, kalau ke masjid, abi di rumah ndak ada yang menemani”. Jawab saya senyampang menjelaskan alasan kami tidak sholat di luar rumah. Ya, karena suami saya, abi mereka sedang sakit, siapa yang menemani beliau kalau kami, saya dan kedua anak saya ke masjid atau mushola terdekat.

“Terus yang ngimami sholat tarawihnya umi gih?” Ia tanya setengah bergurau, saya yakin itu. Ia tahu betul, kalau saya menaruh harapan besar bahwa hasil belajarnya di pesantren Tahfidzul Qur’an Al Utsmaniyah dapat diamalkan dalam beribadah sholat lima waktu sebagai imam sholat jamaah. Lalu saya jawab optimis keraguannya untuk mengimami sholat tarawih ini.

“Lho, ya Kakak dong” .

” Kakak ndak bisa niteni jumlah rakaatnya”. Ia senyum malu tapi nampak kalau ia siap mengemban tambahan tugas imam sholat tarawih untuk ngimami saya dan adiknya di samping tiap waktu sholat ia sudah menjadi imam sholat lima waktu di rumah.

“Gampang, ditulis saja jumlah salamnya, nanti bawa kertas dan bolpen , tiap salam Kakak nulis sdh dapat brp salam” karena saya tahu pasti ayat Qur’an yang akan dibaca adalah ayat ayat yang ia sukai. Saya maklum , ABG, 1 Juni nanti 16 tahun usianya. Sukanya apa diakomodasi dan diarahkan, ini upaya saya mengapresiasi capaiannya.

Di samping kakak, ada si bungsu sedang monoton TV dan sesekali menyimak obrolan saya dengan kakaknya.
“Adik yang jadi bilalnya ya”. Pinta saya kepada si bungsu. Tak ada penolakan yang berarti atas permintaan saya ini, sebaliknya, ia bersuka cita menerima pembagian tugas ini.
Beberapa malam Ramadhan sudah kami lalu dengan sbolat tarawih yang kami atur job descriptionnya: si kakak jadi imam sholat, adik jadi bilalnya, dan saya kebagian memimpin doa usai sholat.
“Umi, mestinya yang memimpin doa itu ya imam sholat “. Suatu malam usai sholat maghrib si bungsu mengungkapkan kelaziman yang memimpin doa usai sholat.

“Ndak apa-apa umi dulu, orang tua yang berdoa, anak-anak yang mengamini”. Saya jawab demikian karena saya tak ingin nyali si Sulung ciut karena banyak tugas ritual sholat yang diberikan kepadanya. Si bungsu memang ada saja yang dikomentari kalau ada proses sholat jamaah ini tidak sesuai dengan yang berlangsung pada umumnya. Kapan hari ia juga heboh soal bacaan surat Qur’an stelah bacaan rukun sholat alfatiha. Katanya,
” Kakak kalau ngimami sholat lama, surat yang dibaca panjang -panjang. Adik jadi pegel”.
Pada saat sholat tarawih pun ia meminta kakaknya untuk membaca surat atau ayat Qur’an yang pendek saja.

“Arrahmaan. Allahu akbar gitu lho, Kak. Adik ndak betah panas ini. Ongkep”. Si bungsu request ayat Qur’an yang dibaca sesudah al-fatihah. Maunya bacaan surat ayat Qur’an yang pendek banget. Memang kemarin malam cuaca panas. Apalagi baju si bungsu berlengan panjang dan bahannya panas, seragam komunitas diba’-nya.

“Ganti saja bajunya yang lengan pendek”. Saran saya berbisik. Si sulung tak memperdulikan rengekan adiknya. Ia sudah memulai sholat tarawih rakaat yang kesekiannya.

Kami tabiratul ihram ketika fatihah hampir selesai dibacakan si sulung. Rupanya si sulung tak menuruti request adiknya, ia tetap membaca bebrapa ayat surat al-baqoroh. Saya ndak ikut request -request seperti si bungsu, walaupun saya juga ongkep. Batin saya, “biar ongkep ini kusimpan dalam hati ” . Saya ikuti saja sang imam sholat saya ini.

Sholat tarawih selesai. Si bungsu masih heboh dengan hawa panas, meski kipas angin tepat di atas kepalanya. Usai berdoa ba’da sholat tarawih, lanjut 3 rakaat sholat witir. Si bungsu meski rewel tetap berdamai dengan hawa panas.

“Assholatu sunnatan witri…..” ia bertindak sebagai bilal sholat witir ; melanfadzkan niat sholat witir dengan lantang seolah jamaah sholatnya banyak seperti di mushola sebelah rumah kami.Lalu kakaknya memulai takbiratul ihram. Kami mengikuti berikutnya.

“Nuuun, walqolami wamaa yasthuruun. Allahu akbar”. Lalu saya dan si bungsu rukuk mengikuti si sulung , dia ternyata menuruti maunya si adik.

Ada syukur yang tak terlukiskan, ada bahagia yang tak terbendung, spiritual quotients mereka ditampakkan Gusti Allah bersamaan dengan ujian yang diberikan kepada kami, abi yang tak hadir mengimami sholat karena sakitnya. Syafahullah untuk abi

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.