Level CO2 Naik, Beras Jadi Kurang Bergizi

MEPNews.id – Indonesia, yang bergantung pada beras, perlu mengambil tindakan strategis jangka panjang untuk kebijakan pangan. Tim peneliti internasional menemukan, peningkatan level karbon dioksida (CO2) di atmosfer bisa mengurangi nilai gizi beras. Prediksinya, populasi di negara-negara dengan konsumsi beras tinggi bisa mengalami lebih banyak mal-nutrisi karena penurunan nilai gizi makanan pokok beras.

Sebagaimana dikabarkan Science Daily edisi 23 Mei 2018, tim peneliti internasional menganalisis sampel beras dari eksperimen di lapangan. Penelitian yang dimotori profesor dari University of Tokyo ini menganalisis sampel beras dari percobaan lapangan. Simpulannya, peningkatan level karbon dioksida di atmosfer bisa mengurangi nilai gizi beras.

Secara khusus, zat besi, zinc, protein, dan vitamin B1, B2, B5, dan B9, diperhitungkan bisa berkurang dalam bulir beras yang ditanam di bawah konsentrasi karbon dioksida lebih tinggi. Masalah ini bisa terjadi pada paruh kedua abad ini dan mempengaruhi 568-590 bagian per juta beras.

“Beras bukan hanya sumber utama kalori, tetapi juga sumber protein dan vitamin bagi banyak orang di negara berkembang dan bagi masyarakat miskin di negara-negara maju,” kata Profesor Kazuhiko Kobayashi dari University of Tokyo, mitra penulis studi para pakar internasional terkait efek polusi udara pada pertanian.

Tidak semua varietas padi merespon peningkatan level karbon dioksoda dengan cara yang sama. Maka, proyek penelitian di masa depan diarahkan untuk memeriksa kemungkinan menemukan varietas yang dapat tetap bergizi meskipun ada perubahan di atmosfer.

Beras yang diteliti itu ditanam di lokasi penelitian di Cina dan Jepang dengan menggunakan metode lapangan terbuka. Para peneliti membangun oktagon pipa plastik berukuran lebar 17 meter di tempat lebih tinggi sekitar 30 cm di atas puncak tanaman dalam sawah standar.

Kemudian, jaringan sensor dan monitor dipasang untuk mengukur kecepatan dan arah angin. Gunanya untuk menentukan berapa banyak karbon dioksida dikeluarkan dari pipa-pipa itu untuk meningkatkan konsentrasi karbon dioksida lokal ke tingkat eksperimen yang diinginkan. Teknik ini dikenal sebagai Free-Air Carbondioxide Enrichment (FACE).

“Saya pertama kali menggunakan teknik ini pada 1998. Kami tahu, tanaman yang dibesarkan di rumah plastik atau kaca tidak tumbuh sama dengan tanaman dalam kondisi lapangan terbuka normal. Teknik ini memungkinkan kami menguji efek dari konsentrasi karbon dioksida lebih tinggi pada tanaman yang tumbuh dalam kondisi sama seperti yang para petani benar-benar tanam beberapa dekade kemudian di abad ini,” kata Kobayashi.

Satwa liar setempat kadang menambah tantangan untuk penelitian ini. “Di lokasi lapangan pertama, kami harus menjaga semua pipa dan tabung di atas tanah karena rakun terus mengunyah apa saja dan mengganggu eksperimen,” kata Kobayashi.

Peneliti menganalisis 18 varietas beras berbeda untuk mendapatkan data tingkat protein, zat besi, dan zinc. Sembilan varietas padi yang ditanam di Cina digunakan untuk analisis vitamin B1, B2, B5, dan B9. Nama umum lain untuk vitamin itu adalah adalah tiamin (B1), riboflavin (B2), asam pantotenat (B5), dan folat (B9).

Enam ratus juta orang yang terutama tinggal di Indonesia, Bangladesh, Kamboja, Laos, Myanmar, Vietnam, dan Madagaskar mengonsumsi sedikitnya 50 persen energi dan/atau protein harian dari beras. Kondisi ini juga berlaku di Jepang pada tahun 1960-an, tetapi orang Jepang sekarang hanya mendapat sekitar 20 persen energi makanan harian mereka dari beras.

Penelitian ini dilakukan Chunwu Zhu, Jianguo Zhu, Qian Jiang, Xi Xu, Gang Liu dari Laboratorium Ilmu Tanah dan Pertanian Berkelanjutan di Chinese Academy of Sciences di Nanjing Cina, Kazuhiko Kobayashi dari University of Tokyo di Jepang, Irakli Loladze dari Bryan College of Health Sciences di Bryan Medical Center di Lincoln Amerika Serikat, Saman Seneweera dari Centre for Crop Health di University of Southern Queensland di Australia, Kristie L. Ebi dari Center for Health and the Global Environment di University of Washington Amerika Serikat, Adam Drewnowski dari Center for Public Health Nutrition di University of Washington Amerika Serikat, Naomi K. Fukagawa dari U.S. Department of Agriculture–Agricultural Research Service (USDA-ARS) di Beltsville Human Nutrition Center Amerika Serikat, dan Lewis H. Ziska dari USDA-ARS Adaptive Cropping Systems Laboratory di Beltsville Amerika Serikat.

Baca Juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.