Inspirasi Hernowo dan Spirit Menekuni Dunia Literasi

Oleh Ngainun Naim

MEPNews.id —- Sahur bersama keluarga baru saja usai. Masih ada waktu sekitar 20 menit menuju subuh. Saya buka HP.

Ratusan pesan WA masuk berjubel. Butuh waktu beberapa menit.

Grup kantor saya buka. Sebuah pesan duka membuat saya terbelalak. Saya tercekat. Diam. Shock. Sampai akhirnya bisa menguasai diri kembali.

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Pak Hernowo berpulang. Semoga khusnul khotimah.

Hernowo adalah sosok penting yang mewarnai perjalanan saya menekuni dunia literasi. Saya dua kali bertemu beliau. Terakhir tahun lalu di ITS Surabaya.

* * *

Saya mulai belajar menulis saat duduk di bangku kuliah di IAIN (sekarang UIN) Sunan Ampel Surabaya. Sebagaimana mereka yang belajar menulis, saya sering gagal menghasilkan tulisan.

Saat itu yang saya coba tulis adalah artikel. Berkali-kali saya mencoba menulis dan berkali-kali pula gagal.Sempat beberapa kali terbersit rasa putus asa. Saya pun berhenti belajar menulis.

Beruntungnya selalu ada faktor-faktor pemantik yang membuat saya kembali berusaha menulis. Mencoba dan terus mencoba sampai sebuah artikel bisa selesai. Artikel itu lalu saya kirim ke Harian Surya yang terbit di Surabaya. Satu kali mengirim, tanpa kabar. Sempat berharap tapi tetapi harapan itu hanya hampa belaka.

Tertatih saya mencoba membuat artikel lagi. Sungguh tidak mudah. Setelah berjibaku dengan kegagalan, sebuah artikel akhirnya selesai. Segera saya kirim dengan penuh harap. Namun harapan itu masih juga belum terwujud. Entah energi dari mana yang membuat saya mampu melakoni kegiatan menulis tanpa hasil tersebut.

Mungkin mimpi menjadi penulis yang menjadi daya dorongnya. Mungkin juga motivasi dari sana-sini. Sampai suatu kali, setelah artikel yang lebih dari dua puluh, artikel saya berhasil nangkring di rubrik “Kolom Komentar” Harian Surya Surabaya.Itu terjadi pada bulan Oktober 1996. Jangan bertanya soal perasaan saya saat itu. Sudah pasti bahagia tidak terkira. Rasa percaya diri membumbung tinggi. Saya membayangkan diri saya sebagai seorang penulis.

Semua penulis saya kira juga mengalami hal yang sama.Begitulah, masa kuliah S-1 antara tahun 1994-1998 adalah masa awal saya belajar menulis. Jatuh bangun tidak terhitung. Semangat menulis naik-turun. Kata produktif menulis belum masuk ke dalam kamus.Saat itu, saya benar-benar belajar. Tapi hasilnya masih jauh dari harapan.

Belajar dengan membaca buku-buku tentang menulis menjadi medianya.Seiring dinamika menekuni dunia menulis yang belum stabil, saya menemukan sebuah buku yang sangat luar biasa. Judulnya Mengikat Makna, Kiat-kiat Ampuh untuk Melejitkan Kemauan Plus Kemampuan Membaca dan Menulis Buku. Buku ber-cover unik dengan sampul dasar kuning itu diterbitkan oleh Kaifa, lini penerbit Mizan. Di bagian bawah tertera nama penulisnya yang dicetak dengan huruf besar semua, HERNOWO, General Manager Editorial Penerbit Mizan.Buku yang saya miliki adalah cetakan ketiga, edisi tahun 2002.

Begitu membuka isinya, saya sungguh terpesona. Bentuk buku tersebut benar-benar berbeda dengan buku-buku yang lainnya. Unik dan menarik. Membangkitkan minat saya menelusuri halaman demi halaman.Saya membaca buku karya Hernowo tersebut dengan penuh minat. Sungguh, saya terpesona dengan isinya. Ada banyak sekali ilmu yang saya peroleh di dalamnya.

Salah satu yang saya baca berulang-ulang adalah lima sikap yang perlu dibangun saat membaca. Kelima sikap tersebut adalah: (1) sabar; (2) telaten; (3) tekun; (4) gigih; dan (5) sungguh-sungguh.Sebelum menemukan lima sikap sebagaimana termuat di halaman 68, saya membaca “asal-asalan”. Banyak buku yang sudah saya baca dan banyak pula yang tidak masuk di ingatan. Setelah merenungkan formula yang ditawarkan Hernowo, saya kemudian membangun formula orientasi membaca, yaitu “Orientasi paham, bukan orientasi khatam”.

Pada tataran implementasi, orientasi ini berupa membaca “ngemil”. Ya, membaca yang dilakukan sedikit demi sedikit sampai paham. **

Penulis Dosen IAIN Tulungagung dan Penulis.

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.