Mengurai Benang Yang Terajut

Catatan Oase :

MEPNews.id —- Pernahkah kita membayangkan bagaimana benang benang yang sudah dipintal lalu diurai kembali. Tentu benang yang sudah hampir menjadi kain itu mengalami kerusakan, kembali menjadi serpihan benang benang yang tak berbentuk. Pekerjaan yang sudah dilakukan berhari hari memintal terasa sia sia, karena tak berwujud menjadi kain yang diinginkan. Kecewa dan tak puas, jelas akan mewarnai perasaan.

Mengapa orang melakukannya ? Bisa jadi orang tersebut merasa kecewa terhadap hasil pintalan yang tidak sesuai dengan yang diharapkan, atau memang ada persoalan didalam dirinya sebagai ” borderless “, rapuh. Kadang juga bisa karena tak memahami arti sebuah pintalan, sehingga berkecenderungan tergesa gesa, berpikirnya pendek dan mengedepankan prasangka, yang pada akhirnya tak mampu menghargai sebuah proses yang harus dijalani.

Dalam kehidupan sosial, tak jarang kita jumpai perilaku yang seperti itu. Jalan perjuangan seringkali kandas ditengah jalan, karena seringnya terlihat orang orangnya tak sabar menjalani proses. Akibatnya banyak melakukan aktifitas yang kontra produktif, memaksakan kehendak, ibarat mengurai benang yang sudah ditenun. Hal seperti ini dapat kita lihat kalau dalam dunia pendidikan, orang tua sudah mendidik anaknya dengan baik, namun disekolah tidak dilakukan hal hal baik bagi anak. Begitu juga sebaliknya.

Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia banyak sekali kita baca kisah kisah heroik perjuangan, namun kandas ditengah jalan, karena ketaksabaran dan ketakmampuan melihat jangka panjang sebuah perjuangan. Sikap pragmatis dan merasa harus saya yang melakukan, akhirnya menjadikan perjuangan terberai dan terbenam saling melemahkan.

Bagaimana Menghindarinya ?

Saling mengenal dan saling memahami adalah sebuah jalan menghindari keterberaian. Tentu tidak mudah agar bisa saling mengenal dan memahami, karena disana dibutuhkan kerelaan untuk bisa menerima dan membuka ruang untuk percaya.

Pengalaman dan kedewesaan bersikap sangat menentukan mengharmoni ritme sebuah perjuangan. Bukankah kalau pengalaman masa lalu terlatih untuk selalu menjaga komitmen, maka akan berpengaruh pada sikap selalu menjaga arah pada tujuan yang diperjuangkan. Inilah yang disebut dengan komitmen. Begitu juga sebaliknya, bila pengalaman masa lalu kita kurang sabar, terbangun oleh sikap yang saling mencurigai, karena bukan tidak mungkin kita pernah melakukan hal negatif yang layak dicurigai, sehingga kita mengukur perilaku orang lain sebagaimana kita pernah melakukan.

Intensitas interaksi dan saling membangun komunikasi yang dialogis dan terbuka merupakan jalan yang bisa menguatkan, namun juga harus didukung oleh sikap yang rela untuk bisa menghormati, mampu menjaga nafas panjang perjuangan dan yang terpenting bisa melihat persoalan dalam jangka yang lebih panjang dan luas.

Kisah tentang perjuangan dan komitmen dilakonkan dengab apik oleh Ibrahim, Siti Hajar dan Ismail. Ketika diperintahkan oleh Allah untuk membawanya kesebuah tempat, Ibrahim lalu menjalankannya dengan mengajak Istrinya yang baru melahirkan, Siti Hajar dan Ismail putranya.

Berhentilah Ibrahim bersama istrinya dan Ismail ke sebuah lemba yang tandus dan sepi. Siti Hajar bertanya kepada Ibrahim, Mengapa kamu bawah aku bersama anakmu ketempat ini ? Apakah ini perintah ? Nabi Ibrahim tidak menjawab, karena memang ia tak sanggup untuk menjawab. Sampai dengan pertanyaan ke tiga, barulah Ibrahim menjawab bahwa ini adalah perintah. Ibrahim mampu membangun komitmen, sehingga apapun yang diperintahkan, ia akan jalankan, ia yakin bahwa yang diperintahkan pastilah baik bagi dirinya. Ibrahim sudah terlanjur percaya dengan yang meerintahkannya. Siti Hajar juga begitu, dia sudah terlanjur percaya kepada Ibrahim, sehingga ajakan Ibarahim selalu dikabulkan. Siti Hajar mengenal betul bahwa Ibrahim merupakan sosok yang tegas dan tak pernah berbohong.

Nah kawan….sikap kita memperlakukan orang lain sangat dipengaruhi oleh pengalaman kita. Untuk menghindari sikap berlebihan yang diibaratkan mengurai kembali benang yang sudah ditenun, sejatinya bergantung pada cara kita mengelola diri. Sikap tergesa, tak sabar dan merasa diri penting, tak mampu melihat masalah dengan menggunakan cara pandang yang jauh, sesungguhnya akan merusak jalan mencapi tujuan perjuangan.

Semoga saja kita bisa dihindarkan !

Assalammualaikum wr wb…. Selamat pagi, selamat menjalani aktifitas yang berkah.

Surabaya, 23 Mei 2018

M. Isa Ansori

Anggota Dewan Pendidikan dan Staf Pengajar di Ilmu Komunikasi Untag 1945 Surabaya

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.