Leukemia Bisa Muncul Saat Anak Terlalu Bersih

MEPNews.id – Beberapa orang tua ingin membesarkan anak di lingkungan bersih dan bebas kuman. Memang, itu tampak baik dan sehat. Tapi, penelitian di Inggris mengisyaratkan; terlalu bersih juga tidak baik. Sekali-kali kotor dan bergelibat kuman malah bisa melatih sistem kekebalan menjadi lebih sehat.

Sadhana Bharanidharan, dalam MedicalDaily edisi 23 Mei 2018, mengabarkan penelitian terbaru tentang proses dua langkah penyebab leukemia yang paling mungkin. Makalah berjudul “A causal mechanism for childhood acute lymphoblastic leukemia” diterbitkan di Nature Review Cancer pada 21 Mei.

Leukemia dianggap sebagai kanker yang paling umum untuk masa kanak-kanak. Hampir 29 persen dari kasus kanker darah ini terjadi pada masa kanak-kanak. Kanker di sumsum pembentuk sel darah putih ini dapat cepat menyebar dan sering didiagnosis pada anak-anak di bawah usia 4 tahun.

“Saya menghabiskan lebih dari 40 tahun meneliti leukemia pada masa kanak-kanak. Selama itu ada kemajuan dalam pemahaman kita tentang biologinya dan pengobatannya,” kata Profesor Mel Greaves, dari Institute of Cancer Research di London, yang mengkaji bukti paling lengkap yang pernah terkumpul tentang acute lymphoblastic leukemia (ALL).

Leukemia biasanya diobati dengan kemoterapi. Greaves mengungkapkan hampir 90 persen kasus leukemia di era modern bisa disembuhkan.

“Tapi, yang sangat mengganggu saya. Ada sesuatu yang besar yang hilang. Ada kesenjangan dalam pengetahuan kita. Mengapa atau bagaimana anak-anak sehat dapat terkena leukemia dan apakah kanker ini dapat dicegah.”

Maka, Greaves selama lebih dari 30 tahun mempelajari penelitian tentang genetika, biologi sel, imunologi, epidemiologi dan pemodelan leukemia pada hewan. Dalam kesimpulannya, ia menemukan proses dua langkah mutasi genetik sebagai penyebab leukemia.

Langkah pertama melibatkan mutasi genetik pra-kelahiran. Ini mempengaruhi janin dan bayi yang belum lahir untuk terkena leukemia. Namun, hanya 1 persen dari mereka yang lahir dengan risiko genetik ini yang benar-benar kena penyakit kanker darah.

Langkah kedua terjadi di antara 1 persen anak yang penyakitnya justru dipicu akibat kesalahan genetik kedua. Menurut Greaves, kesalahan genetik ini dapat terjadi karena paparan infeksi. Kejadiannya terutama di antara anak-anak yang tidak berinteraksi dengan bayi lain atau anak-anak lain dan yang mengalami masa kanak-kanak ‘terlalu bersih’ pada tahun pertama kehidupan.

“Penelitian ini adalah puncak dari beberapa dekade kerja, dan akhirnya memberikan penjelasan kredibel tentang bagaimana jenis utama leukemia masa kanak-kanak berkembang,” kata Greaves. “Penelitian ini menunjukkan leukemia memiliki penyebab biologis yang jelas. Leukemia dipicu berbagai infeksi pada anak-anak yang memiliki kecenderungan sistem kekebalannya belum benar-benar prima.”

Studi ini menentang temuan sebelumnya yang menisyaratkan radiasi ion, kabel listrik, gelombang elektromagnetik atau bahan kimia buatan menjadi kemungkinan penyebab kanker darah. Justru, system kekebalan yang tidak pernah dilatih lah yang cenderung menjadi penyebabnya.

Meski demikian, Greaves serta para ahli lainnya, ingin menegaskan orang tua seharusnya tidak terlalu merasa bersalah karena memicu kanak-kanak kena leukemia. “Jika anak mengalami mutasi genetik tak disengaja di dalam rahim, itu ya bukan salah siapa-siapa,” kata Greaves.

Facebook Comments

POST A COMMENT.