Tidur Ibu Terkait dengan Pola Asuh Permisif

MEPNews.id – Ada penelitian yang melihat hubungan antara tidur ibu dan pola asuh permisif pada anak selama masa remaja akhir. Ibu yang tidak cukup tidur atau yang kualitas tidurnya buruk lebih cenderung menggunakan pola asuh permisif (pengasuhan dengan disiplin terlalu longgar atau tidak konsisten).

ScienceDaily 21 Mei 2018 mengabarkan, penelitian itu dilakukan Kelly Tu pakar studi pengembangan dan keluarga University of Illinois di Amerika Serikat, bersama rekan-rekannya. Penelitian yang dimuat dalam Journal of Sleep Research ini juga mengungkap kualitas tidur ibu sangat penting bagi kalangan rumah tangga yang secara sosial ekonomi kurang beruntung.

“Tidur pendek dan terganggu adalah hal umum di antara orang tua yang punya anak kecil. Pola tidur seperti itu dapat mempengaruhi kesehatan mental dan fisik serta fungsi sehari-hari,” kata Tu, asisten profesor di Departemen Pengembangan Manusia dan Keluarga. “Nah, kami ingin pemperluas penelitian di luar anak-anak kecil. Kami ingin tahu bagaimana pola tidur mempengaruhi pengasuhan remaja.”

Selama masa remaja (11 – 18 tahun), keterlibatan orang tua masih jadi faktor penting dalam seberapa baik anak menyesuaikan diri secara sosial, emosional, dan perilaku.

Penelitian ini menunjukkan hubungan antara pola asuh permisif dengan kerentanan remaja atas perilaku bermasalah atau berisiko. Perilaku berisiko tersebut dapat termasuk berafiliasi dengan teman sebaya yang menyimpang atau yang nakal, terlibat dalam perilaku nakal (vandalisme atau bolos sekolah), atau penggunaan dan penyalahgunaan narkoba.

Tu menjelaskan, “Mengingat pola asuh permisif dapat meningkatkan perilaku berisiko remaja, kami ingin mengambil langkah mundur untuk menanyakan apa yang mendorong pengasuhan permisif ini. Kami juga ingin mengkaji apakah tidur bisa menjadi faktor yang berkontribusi.”

Data penelitian mengungkapkan, ketika ibu tidak mendapat cukup tidur atau kualitas tidurnya buruk, itu berpengaruh pada pengasuhan permisif ketika anak sudah remaja. Wujudnya, mereka lebih mudah tersinggung, mengalami gangguan perhatian, atau terlalu lelah sehingga mereka kurang konsisten mengasuh anak. “Di sisi positifnya, kami menemukan bahwa ibu yang mendapat tidur memadai cenderung tidak permisif pada anak remaja mereka.”

Untuk memeriksa durasi dan kualitas tidur ibu, 234 responden diminta mengenakan aktigraf (perangkat seperti jam tangan) sebelum tidur selama tujuh malam berturut-turut. Aktigraf ini mendeteksi gerakan sepanjang malam untuk menentukan apakah ada gangguan dalam tidur. Selain data gangguan tidur, informasi tentang ras/etnis dan status sosioekonomi juga dikumpulkan.

Di sisi lain, para remaja dengan rata-rata 15 tahun mengisi kuesioner (subskala dari Inventori Perilaku Orangtua) tentang bagaimana mereka menganggap pola pengasuhan ibu mereka. Mereka menilai perilaku berdasarkan skala ‘kemungkinan atau tidak mungkin.’ Contoh pernyataan yang dinilai antara lain; “Membiarkan saya pergi dengan mudah ketika saya melakukan sesuatu yang salah” atau “Tidak bisa menolak atas apa pun yang saya inginkan” atau “Tidak memeriksa apakah saya telah melakukan yang Ibu katakan kepada saya.”

Temuan menunjukkan, ibu yang memiliki durasi tidur yang lebih lama atau yang dapat tertidur dengan pulas ternyata memiliki anak remaja yang melaporkan tingkat pengasuhan permisif lebih rendah.

Ras/etnis dan status sosialekonomi juga menjadi faktor penting dalam menghubungkan kualitas tidur dengan pola asuh permisif. Ibu-ibu Afrika-Amerika dan ibu-ibu dari strata social-ekonomi rendah yang mendapat tidur berkualitas (efisiensi tidur lebih tinggi, lebih jarang bangun malam) ternyata memiliki tingkat pengasuhan permisif lebih rendah. Namun, untuk ibu yang sama ini, tapi dengan kualitas tidur lebih buruk, menghasilkan tingkat pengasuhan permisif yang lebih tinggi.

“Sejumlah penelitian sebelumnya mendokumentasikan kesenjangan tidur di antara etnis minoritas dan individu yang secara social-sekonomi kurang beruntung. Temuan kami konsisten dengan itu. Untuk status sosial-ekonomi, kami perlu mempertimbangkan stres atau tantangan sehari-hari yang dihadapi ibu-ibu ini,” kata Tu. “Ibu-ibu dari rumah tangga sosial-ekonomi rendah mungkin menghadapi stres tambahan atau kesulitan keuangan yang dapat mempengaruhi tidur dan/atau pengasuhan mereka.”

Yang menarik adalah, peneliti juga menemukan efek positif dari tidur berkualitas terhadap perilaku pengasuhan pada etnis minoritas dan ibu yang secara sosial-ekonomi kurang beruntung. Maka, temuan dari penelitian ini menunjukkan perlunya perawatan diri dan pentingnya tidur.

“Tidur adalah titik yang lebih mudah untuk ditangani dalam hal perubahan yang bisa dilakukan seseorang. Misalnya, tidak minum kafein atau tidak berolahraga terlalu dekat dengan waktu tidur, membangun rutinitas tidur, dan memikirkan lingkungan tidur,” katanya. “Orangtua mungkin tidak terlalu berpikir tentang hal-hal ini ketika punya anak-anak. Tapi, tak kalah pentingnya, orang tua harus mendapatkan cukup tidur karena dapat mempengaruhi interaksi keluarga dan kesejahteraan anak-anak.”

Baca Juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.