Pendidikan Bersinergi

Catatan Oase :

MEPNews.id –Seperti biasanya dalam kelas kelas yang saya dampingi, saya selalu memulai proses belajar dengan sebuah pertanyaan. Nah kali ini pertanyaan dimulai dengan ” Mengapa sebuah pesan itu bisa diterima atau tidak bisa diterima oleh penerima pesan ? “. Ada banyak jawaban yang muncul dari pikiran pikiran mahasiswa, diantaranya pesan yang disampaikan kurang jelas, sulit dipahami, latar belakang yang berbeda dan lain lain. Ada juga yang menjelaskan dulu dengan membedah alur penerimaan pesan. Disebutkan bahwa pesan disampaikan oleh pemberi pesan dalam bentuk gagasan, symbol yang dibahasakan dalam bentuk lisan maupun tulisan melalui sebuah alat atau media dan kemudian diterima oleh penerima pesan dalam bentuk symbol atau gagasan yang diwujudkan melalui respon balik yang dilakukan. Sebagai contoh kalau saya menginginkan si A untuk membersihkan kamarnya, maka saya akan menyusun pesannya dengan bahasa yang baik dan cara yang baik, mengapa agar responnya juga bisa berlangsung dengan baik. Saya tentu tidak akan menyampaikan pesan dengan intonasi yang meninggi atau dengan kata kata yang bersifat melemahkan. Hal yang ingin saya dapatkan dalam memberi pesan adalah orang lain memahami dan menjalankan pesan tersebut.

Bergayung sambutnya antara maksud pemberi pesan dengan kemauan penerima pesan tentu akan menjadi sebuah rangkaian peristiwa komunikasi yang indah. Dan bisa dibayangkan ini sangat menyenangkan semuanya. Keadaan seperti akan terlihat sebagai harmoni yang indah bila terjadi dalam sebuah proses pembelajaran yang berlangsung dikelas kelas yang dilakukan oleh kawan kawan guru kita. Tersampaikannya pesan yang dimaksud oleh guru dan kemudian direspon dengan kesadaran yang baik oleh murid karena pesan yang disampaikan mampu menggugah kebutuhannya. Inilah kalau didalam Al Qur’an disebutkan dengan sebuah nukilan kalimat yang indah ” berdakwalah kalian dengan bahasa kaumnya “.

Pesan pendek tersebut sejatinya memberi makna yang dalam kepada siapapun yang berkepentingan untuk memberikan hal terbaik kepada orang lain, misalkan orang tua kepada anak atau sebaliknya, guru terhadap murid, murid terhadap guru, pendakwah kepada ummatnya dan lain lain. Makna yang dalam itu berupa sebuah peringatan bahwa dalam menyusun pesan perhatikanlah siapa yang akan kalian tuju. Sehingga siapapun pemberi pesan harus memahami siapa lawan bicaranya atau siapa yang akan ditujunya. Pesannya harus jelas, mudah dipahami dan terukur bisa dijalankan dan yang tak kalah pentingnya adalah memberi kesan saling melengkapi.

Setiap orang pasti punya kebutuhan dalam berinteraksi. Salah satu kebutuhan penting dalam hidup manusia adalah untuk didengar apa yang menjadi suara hatinya dan diapresiasi atas segala kerja yang dilakukan. Maslow menyebutnya sebagai kebutuhan aktualisasi. Kebutuhan itu menyangkut penghormatan dan penghargaan atas apa yang dimiliki dan atas apa yang dikerjakan. Tidak terkecuali para murid yang ada dikelas kelas sahabat sahabat guru.

Bagaimana Melakukannya ?

Saya yang kebetulan beraktifitas dalam bidang layanan, seringkali mendapatkan perlakuan yang kurang simpatik dari ” klien “. Klien datang yang sejatinya berharap mendapatkan bantuan baik itu berupa saran maupun pendampingan seringkali lupa dengan maksud kedatangannya. Mereka seringkali meminta bantuan tetapi kemudian meminta saya melakukan sesuatu yang menjadi keinginannya. Nah cara seperti ini tentu bukanlah hal yang baik.

Kalau sudah seperti ini, Saya akan selalu berusaha mengingatkan kembali maksud kedatangannya. Bahwa bertemunya kita adalah dalam rangka mendapatkan sesuatu yang terbaik. Terbaik yang dimaksud adalag memberikan jawaban atas maksud kedatangannya. Nah disinilah kita harus berupaya untuk saling mendengarkan dan saling melengkapi, menyadari diantara mempunyai kekurangan, sehingga bertemunya kita dalam rangka mendapatkan yang terbaik.

Memulai sebuah kesempurnaan adalah memahami bahwa kita tidak sempurna, dalam aktifitas perasaan dan kesadaran bahwa antara guru dan murid saling membutuhkan , saling melengkapi merupakan hal yang penting. Guru bisa memulai dengan menggali apa yang menjadi kebutuhan murid dengan menempatkan diri pada posisi yang tepat. Apa yang dilakukan guru pasti akan mendapatkan respon dari murid bagaimana mereka seharusnya bersikap dalam belajar. Kalau situasinya sudah memungkinkan proses memasukkan pesan, maka saat itulah pesan bisa disampaikan. Saat guru mampu menempatkan diri dan murid merespon dengan caranya, maka kebutuhan bersinergi sedang terjadi.

Bersinergi Itu Meringankan

Pekerjaan apapun, tugas apapun bila dilakukan dengan cara saling berbagi dan saling melengkapi akan terasa indah dan ringan. Karena energi yang dikeluarkan oleh masing masing tidak terlalu besar, tetapi karena banyak berasal dari berbagai sumber akhirnya menjadi besar. Bersinergi itu berbagi peran untuk mencapai satu tujuan. Bersinergi juga mengandung makna saling menguatkan dalam mencapai tujuan.

Pendidikan bersinergi merupakan jalan membentuk sikap bahwa kita memiliki kekurangan, kekurangan kita dapat ditutup dengan jalan interaksi yang kita lakukan dalam rangka saling mengisi dan menguatkan. Pembiasaan membangun sinergi dalam aktifitas pembelajaran akan berdampak pada murid untuk saling menghargai dan memghormati perbedaan yang dihadapi. Ditengah maraknya sikap saling melemahkan, saling mengalahkan, pembiasaan proses belajar dengan berbagi peran antar murid dengan murid dan guru dengan murid merupakan jawaban.

Nah yang segera ditunggu adalah kemauan untuk bersinergi. Apa yang disampaikan oleh Prof Dr KH Didin Hafidhuddin dapat menjadi penguat niat bersinergi.

Dalam surah al-Maidah ayat 3, Allah SWT berfirman, “Dan tolong-menolonglah kamu sekalian pada kebaikan dan takwa dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan ….“

Ayat tersebut di atas secara tegas memerintahkan kepada orang yang beriman bahwa di dalam menyelesaikan berbagai permasalahan sosial kemasyarakatan, termasuk masalah politik, budaya, ekonomi, dan kepemimpinan, harus mengedepankan sinergi dan koordinasi (taawun). Karena, hanya dengan sinergilah permasalahan seberat dan sekompleks apa pun pasti dapat diselesaikan dengan baik. Sinergi inipun dapat memadukan berbagai macam potensi dan kekuatan, baik yang dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang, sehingga terjadi saling mengisi dan saling memperkuat. Ibarat sebuah bangunan yang mampu berdiri dengan tegak ketika terjadi sinergi dan saling menopang yang harmonis antarberbagai unsur yang terdapat di dalamnya. Bahkan, bukan sekadar berdiri tegak, keindahan bangunan tersebut pun akan tampak dengan jelas.

Rasulullah SAW memberikan suatu ilustrasi bahwa mukmin yang satu dengan mukmin yang lain ibarat satu bangunan yang saling memperkuat. Al-mukmin lil-mukmin kal bunyaan al-waahid yasyuddu ba’duhum ba’dhon (HR Muslim).
Pernyataan Rasulullah SAW ini sejalan dengan firman Allah SWT pada QS ash-Shaff [61]: 4. “Sesungguhnya Allah sangat mencintai orang yang berjuang di jalan-Nya dalam keadaan berbaris rapi seperti sebuah bangunan yang kokoh.“

Hanya saja, sinergi dan koordi nasi ini akan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat secara luas manakala dilandasi oleh dua hal yang utama, yaitu al-birr (kebaikan) dan takwa. Artinya, sinergi dan koordinasi haruslah pada hal-hal yang positif dan berguna bagi peningkatan keadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan masyarakat. Tidak boleh sinergi ini dilandasi oleh dua hal yang buruk, yaitu dosa dan permusuhan. Tidak ada taawun dalam hal-hal yang destruktif, merugikan, dan membahayakan bagi kelangsungan hidup masyarakat.

Semoga bermanfaat !

Assalammualaikum wr wb…..Selamat pagi, selamat menjalankan aktifitas berbagi kebaikan, semoga Allah selalu meridhoi…aamien

Surabaya, 22 Mei 2018

M. Isa Ansori

Anggota Dewan Pendidikan Jatim, Staf Pengajar di Ilmu Komunikasi Untag 1945 Surabaya

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.