Kiai Pintu

Oleh: Moh. Husen

MEPNews.id — Seseorang dijuluki sebagai Kiai Pintu. Dia bagai sayyidina Ali yang disebut oleh Kanjeng Nabi sebagai babul ilmi atau pintunya ilmu. Kata Nabi, ana madinatul ilmi wa Ali babuha. Aku, kata Nabi, adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya. Wa man arodal madinah, falya’tiha min babiha. Barangsiapa mau menuju kota ilmu, kata Nabi, maka dia harus melewati pintunya. Sayyidina Ali adalah pintunya ilmu, yang kemudian dengan rendah hati menimpali sabda Rasul tersebut bahwa setelah membuka atau bertemu pintu ilmu, maka kemanakah kita semua hendak pergi kecuali ke kotanya ilmu, yakni menuju Rasulullah Muhammad SAW.

Kiai Pintu ini tidak percaya diri jika harus mengurai banyak hal mengenai puasa Ramadhan, maka ia selalu membukakan pintu untuk membawa dan berkenalan kepada siapa saja yang menurut versi Kiai Pintu ini sangatlah berkompeten dan pantas untuk menjelaskan berhikmah-hikmah kandungan rahasia puasa Ramadhan.

Kepada banyak orang Kiai Pintu senantiasa mendorong untuk mengaji dan mengikuti orang yang telah dianggap dan dipercaya sebagai guru oleh mereka sendiri. Kiai Pintu sudah sangat senang melihat orang-orang mengikuti orang yang mereka anggap guru itu, karena setahu Kiai Pintu, guru-guru mereka itu senantiasa mengajarkan kebaikan dan keselamatan dunia akhirat yang bersumber dari Kanjeng Nabi bagi mereka semua.

Apalagi sekarang ada Kiai YouTube, jadinya Kiai Pintu makin senang karena nggak mungkin orang-orang zaman now sekarang ini mudah disesatkan dan dihasud oleh tetangga kanan kiri, karena mereka, menurut pantauan Kiai Pintu adalah penikmat dan bahkan pecandu Kiai YouTube. Jadi semakin gampang dan bersinar saja dakwah Islam dan kebaikan di era maniak gadget seperti sekarang ini.

Cara mencari ilmu sekarang ini semakin canggih, dekat, dan simpel saja. Persoalannya ialah kita mau menjalankan ilmu yang kita miliki atau tidak? Hanya disitu saja persoalannya. Kearifan, rahmatan lil alamin, hikmah-hikmah, kebaikan-kebaikan sudah tersebar dimana-mana. Tinggal kita ini sendiri yang sebaiknya berintrospeksi diri, mau oke atau tidak.

Memang masing-masing orang berbeda-beda dalam mencari guru. Ada guru dianggap guru hanya karena ajarannya sinkron dengan yang dia fikirkan dan dia kehendaki. Ada juga yang melalui seleksi yang macam-macam, dari soal akhlak, nasab, ngajinya dulu dengan siapa, masa lalunya bagaimana, dan seterusnya dilacak sedemikian rupa, jika klop dan sesuai dengan keinginan dirinya, maka dipercayalah ia sebagai guru.

Ada juga yang berpendapat siapa saja yang memberikan ilmu dan berjasa mengantarkan ia kepada Allah dan Rasulullah, tak peduli bagaimana kehidupan aslinya dia, maka dialah guru, yakni sang penghantar menuju Sang Sejati. Asalkan dia mengajarkan kebaikan, maka dialah guru. Undhur ma qola wa la tandur man qola. Kata Sayyidina Ali, lihat omongannya dan jangan lihat siapa yang ngomong.

Kiai Pintu selalu berkata: “Taatilah gurumu selama ia mengajarkan kebaikan. Kalau ngajak ngebom dan sedikit-sedikit merancang jihad berperang melawan, menghancurkan dan membinasakan orang lain, maka mulai berfikirlah sejak kapan manusia benar-benar bisa mengerti salah benar orang lain secara maha benar sehingga ia layak dibinasakan. Kepada orang lain cukup berhati-hati dan saling maaf-memaafkan saja karena siapa tahu hari esok sepuluh tahun lagi dia jadi wali kekasih Allah kita semua nggak tahu. Kalau menjauhi atau menghindari dari orang-orang yang berpotensi jahat dan merugikan, itu sangat oke, sebagaimana sel penjara merupakan penjauh dari tindak kejahatan dan tindak merugikan. Tapi kalau ngajak membunuh dengan dalih jihad dan lain sebagainya, sebaiknya jangan dan tinggalkan sang guru tersebut !”

Hingga puasa hampir seminggu ini, Kiai Pintu sepertinya masih prihatin dan berduka atas tragedi bom bunuh diri yang merupakan tragedi kemanusiaan yang tidak main-main. (Banyuwangi, 22 Mei 2018)

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.