Pernikahan Meghan: “Pemberontakan” Ketiga Diana

Catatan selfie Heti Palestina Yunani

MEPNews.id — Ada spirit Putri Diana di Royal Wedding 19 Mei kemarin. Bukan tentang detail Princess of Wales yang ditautkan Pangeran Harry dan Meghan Markle dalam konsep pernikahannya mulai cincin, buket, hingga kehadiran tiga saudara Diana. Tetapi ini tentang tradisi yang menjadi babak lanjutan ‘pemberontakan’ kecil Diana. Mungkin tak banyak yang fokus bagaimana isi janji pernikahan keduanya kemarin. Meneruskan ‘jejak’ alm ibu mertuanya, Meghan juga melakukan hal yang sama ketika menikahi pangeran kerajaan yang memberinya cinta tak terperi.

Apa itu? Setelah dipuji amazing oleh Pangeran Harry, Meghan ternyata tak mengucap isi janji pernikahan pada bagian “to obey”. Secara eksplisit, Meghan hanya berjanji untuk mencintai dan menghormati Pangeran Harry sebagai suaminya, tetapi tidak untuk mematuhinya. Pengantin kerajaan lainnya yang mengikuti jejak Diana itu termasuk Kate Middleton saat menikahi Pangeran William pada 2011. Inilah bagian terbaik menurut saya tentang pernikahan Meghan yang gorgeous dalam balutan gaun modern ala Carolyn Bessette Kennedy rancangan Givenchy.

Ini mengingatkan saya pada Kartini, idola saya. Ketika dinikahi Bupati Rembang, ia menerimanya dengan satu syarat tak ada ritual membasuh kaki suaminya dalam panggih (temu pengantin). Inilah yang menunjukkan “kemenangan jiwa” Kartini sebagai perempuan yang menghendaki posisi yang sama dengan laki-laki. Perjuangan itu saya hormati lagi dalam versi modern lewat Diana. Ialah yang pertama kali dalam kerajaan itu yang berani men-skip isi janji suci itu. Kebebasannya sebagai perempuan juga tercermin ketika meminta cerai dari Pangeran Charles yang tak mencintainya lagi.

Dari sisi ini saja, saya menilai keberuntungan Meghan sangat tinggi. Bukan karena ia bisa diterima sebagai keluarga kerajaan dalam posisi janda, berumur lebih tua dari Harry dan menjadi bangsawan akibat pernikahannya itu. Bukan! Memang itu semua keberuntungan mahal yang langka yang bisa diterima seorang Meghan, artis Amerika setengah Afrika, tetapi menjadi perempuan terhormat dengan memperoleh hak-haknya adalah lebih penting dari istana, berlian dan gelar. Tanpa menafikan banyaknya keistimewaan perempuan sebagai istri jika patuh kepada suami, demikianlah seharusnya menjadi perempuan Meghan! That’s the way love goes. Selamat!

 

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.