Ngopeni yang Mendasar, Memperkuat Kapasitas Individu

By: Syaifulloh

Penikmat Pendidikan

MEPNews.id —- Melanggengkan kebaikan berdasar kebaikan lumrah terjadi dan dilaksanakan oleh individu atau organisasi manapun sesuai dengan landasan pendirian suatu organisasi atau tujuan hidup setiap insan.

Walaupun singkat, saya sempat ngangsu kaweruh kepada cicit Mbah Hasyim, KH A. Fahmi Amrulloh. Dari diskusi yang umum tentang fenomena perkembangan Islam dan banyak hal terkait fenomena yang terjadi di negara ini sampai pada kebutuhan real yang mendasar dibutuhkan masyarakat.

Ada statement yang cukup menarik perihal pergerakan Islam yang sangat dinamis akhir-akhir ini. Yaitu maraknya kajian-Kajian Islam yang banyak menarik minat umat Islam untuk mengikuti kajian-kajian itu. Beliau menyampaikan: NU sebagai organisasi yang besar, kurang ngopeni yang mendasar memberikan kajian keislaman kepada umat Islam.

Masih melihat jumlah yang mengikuti pengajiandengan jumlah ribuan dalam satu acara tertentu. Tapi belum melakukan kajian keislaman rutin sehingga dapat menambah pengetahuan yang kaffah bagi warga.

Ketika momentum itu digarap oleh ormas yang lain dan dilakukan secara intens dan berhasil menarik minat kalangan Islam berpendidikan untuk mengikuti kajian itu menjadikan semerbaknya dakwah Islam.

Di tengah diskusi juga ada kawan yg bercerita tentang fenomena menghadapi dakwah sunah yg dilakukan oleh kelompok lain dan mulai dapat dukungan yg cukup baik dari masyarakat.

Pola kajian yang mudah berdasarkan AlQuran dan hadits berasal dari kitab-kitab yang ada dan disajikan dengan mudah oleh mereka dan menyampaikan materi adalah pendakwah hafal AlQuran, hadits dan kitab-kitab kuning rupanya menjadi tren yg terus berkembang pesat.

Pola kajian ini sepertinya digandrungi dalam kajian Islam bagi orang-orang yg belajar mendalami Islam. Kajian serius dalam menuntaskan tema-tema terbaru dan dibutuhkan.

Strategi dakwah dengan menggunakan teknologi yang dilakukan oleh para pendatang baru dalam mengajak kepada pemahaman Islam telah merebut hati sebagian muslim. Pola menggunakan teknologi ini tidak bisa dibendung oleh siapapun karena disampaing orang terus mendatangi kajiannya. Juga dengan mudah orang bisa mengakses dari berbagai media yang ada untuk melihat berbagai kajian yang tersedia.

Di sisi lain, ada pengajian yang tersebar di YouTube dilakukan oleh tokoh Islam memberi pelajaran yg kurang elok dan elegan dengan memberi penilaian kepada tokoh dan organisasi tertentu yang jauh dari ukhuwah Islamiah.

Pertanyaan yg cukup sederhana adalah mengapa pada perkembangan dekade ini orang2 pada gandrung dengan kajian2 yang langsung bersumber dengan AlQuran Hadits? Bisa dilihat perkembangan kedepan adalah perkembangan yang di ikuti perkembangan nalar, ketika menangkap dan mendapat ilmu terbaru mereka akan mempertanyakan ilmu itu, baik rujukannya maupun tungkat keontetikan dari ilmu yang di dapat. Dan mereka menanyakan dan berguru langsung kepada orang2 yang memiliki kapasitas.

Ilmu yang terbaik adalah ilmu yang bersanad jelas. Jargon ini memberikan garis demarkasi yg jelas bagaimana ilmu itu diperoleh. Tetapi jargon ini sepertinya hanya dipegang oleh orang NU. Bagi yang lain mencari ilmu itu kepada siapapun yang terpenting berlandaskan AlQuran dan Hadits yang mutawattir.

Pola pandangan yang berbeda ini sepertinya menjadikan kelompok berseberangan dengan kajian2 Islam dianggap menjadi ancaman dalam pola pengajarannya. Bisa jadi dengan semakin membessrnya mereka ada organisasi yang merasa terancam karena menggerogoti pengikutnya.

Tumbuhnya kesadaran dan menumbuhkan kesadaran untuk saling menguatkan Islam sepertinya perlu menjadi agenda bersama dalam memperkuat ukhuwah. Bukan karena kalah dalam mengelola kajian akhirnya dengan dalih menjaga NKRI malah membubarkan kajian2 keagamaan untuk memberi bekal keislaman yang dibutuhkan oleh orang2 yang memang membutuhkan ilmu berdasarkan ilmu yang mendasar.

Mereka yang cenderung kurang suka dengan ritual-ritual akan cenderung lebih suka mengikuti kajian yang mendasar karena mereka masih membutuhkan ilmu itu. Jadi sikap memusuhi malah akan menjadi bumerang kepada perkembangan ukhuwah Islam kedepan.

Ngopeni yang mendasar inilah yg porsinya diambil oleh pendakwah baru dan mendapat sambutan dari masyarakat karena menggunakan dan mengelola kajian mereka cukup menarik minat.

Ormas yg sejak awal sudah besar mestinya menjadi otokritik mengapa kajian mereka begitu menarik. Sehingga dapat membuat kajian sesuai kaidah yang ada dengan dipola sesuai kebutuhan yang mendasar tentang ilmu-ilmu Islam yang sangat luas. Karena Islam adalah agama nalar sehingga pemeluknya bisa terus belajar kepada guru yang mumpuni dalam ilmu keagamaan.

Semakin dimusuhi dan dibubarkan kajiannya. Membuat orang semakin penasaran dan akan semakin belajar untuk mengetahuinya. Sehingga pola gerakan dengan hanya menyalahkan justru tidak akan mendapat simpati dari orang-orang Islam yang lain

Wassalam

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.