Ketika Orang Tua dan Guru “Durhaka” Kepada Anak

Catatan Oase :

MEPNews.id —- Dalam sebuah tayangan televisi, Anies Baswedan pada saat menjadi menteri pendidikan mengatakan bahwa saat ini kita menghadapi tantangan bagaimana menyiapkan generasi kedepan, gurunya adalah guru abad 20, ruang kelasnya adalah ruang kelas abad 19 dan siswanya adalah siswa abad 21.

Pendidikan kita mengalami kepincangan realitas, satu sisi anak anak harus dipersiapkan menghadapi zamannya, sementara mereka yang mempersiapkan berada pada satu level mundur dan fasilitasnya pada posisi dua level mundur kebelakang. Para guru dan orang tua termasuk didalamnya.

Pendidikan sejatinya mempersiapkan anak menghadapi zamannya, sehingga harus dipahami merencanakan pendidikan anak merupakan upaya mempersiapkan anak anak menghadapi masanya. Kepentingan terbaik anak harus menjadi pijakan membuat perencanaanya. Sehingga pendekatan pendekatan klasik yang tidak sesuai dengan kebutuhan anak anak sudah seharusnya ditinggalkan.

Revolusi Pembelajaran

” Education is not preparation for life, education is life itself ” begitu John Dewey menyebutnya. Pendidikan bukan persoalan bagaimana kita memyiapkan anak anak untuk menghadapi kehidupannya, pendidikan itu sendiri adalah kehidupan. Harus dimaknai bahwa kehidupan itu bukan diajarkan, tapi kehidupan itu dijalani.

Mengajarkan cara menghadapi kehidupan tentu tidak akan selalu sama dengan kehidupan yang akan dijalani, karena memang terjadi dua kutub waktu yang saling berbeda. Para guru dan orang tua akan menjadikan cara dia menghadapi hidup sebagai proses pembelajaran kepada anak anak untuk menghadapi masa depannya. Jelas saja akan banyak terjadi masalah.

Seringkali kemudian para orang tua dan guru ” memaksakan ” hal yang dirasakan baik pada zamannya lalu diterapkan kepada anak anaknya. Konflik kadang dijumpai, anak anak tidak selalu merasa nyaman dengan apa yang dilakukan oleh orang tuanya dan gurunya. Kalau toh mereka mengikuti bukan karena kesadarannya, tapi karena keterpaksaannya, supaya tak dianggap sebagai anak yang durhaka.

Yang paling mengetahui kebutuhan anak tentu anak itu sendiri. Dalam revolusi belajar, Tony Busan menyarankan dengan menggunakan pendekatan ” Brain Mangaement “, bagaimana memanagemen kerja otak sesuai dengan fungsi fungsinya. Carl Roger menyebutnya sebagai pendekatan ” participative leraning “.

Bagaimana Menerapkannya ?

Memulai menjadikan kepentingan terbaik anak, maka menjadikan anak sebagai dasar perencanaan langkah terbaik adalah sebuah keniscayaan, tapi sayangnya tidak semua orang tua ataupun guru mampu mempraktekannya. Seringkali orang tua maupun guru mempeelakukan anak sebagai sebuah obyek atas kemauannya. Sehingga anak harus menerima kemauan terbaik guru maupaun orang tua. Meski kadang anak berupaya untuk menolaknya.

Penolakan terbuka yang dilakukan anak kepada orang tua maupun gurunya seringkali berbuah konflik. Nah sudah seperti ini maka anak akan berada pada posisi yang bersalah. Akibatnya anak akan distigma sebagai anak yang melawan orang tua ataupun guru. Anak dianggap sebagai anak durhaka, anak yang tidak patuh terhadap orang tua maupun guru.

Ketidak patuhan terhadap sesuatu yang dianggap akan menjerumuskan pada hakekatnya adalah penolakan terhadap kemudhorotan. Sehingga penolakan atas dasar sesuatu yang dianggap tidak baik merupakan sebuah perjuangan menyelamatkan diri keterpurukan. Penolakan anak terhadap perintah orang tua karena apa yang diperintahkan orang tua menuju kemudhorotan ini pernah dikisahkan dengan apik dalam Al Qur’an bagaimana Ibrahim A. S menolak perintah bapaknya menyembah berhala. Dengan santun Ibrahim membalas perintah orang tuanya dengan sebuah pertanyaan bagaimana mungkin aku meminta pertolongan pada benda yang aku buat, sementara untuk menolong dirinya sendiri saja dia tak mampu. Ibrahim mengajak orang tuanya untuk menggunakan logika dan pengelolaan logikanya. Perintah melakukan sesuatu yang melanggar norma norma kehidupan adalah suatu kedurhakaan, meski itu diperintahkan oleh orang tua ataupun guru. Sebagai anak ataupun siswa tetap dituntut santun dalam menolaknya.

Memulai memahami kebutuhan anak dalam belajar adalah sebuah keniscayaan. Karena dengan memahami itulah kita bisa memulai awal pembelajaran. Dimulai dari apa yang dibutuhkan, lalu dengan cara seperti apa anak berminat menjalankannya, serta menyepakati nilai nilai yang harus dipegang adalah upaya mencegah konflik dan kedurhakaan anak maupun orang tua serta guru.

Menjadi Tauladan Yang Baik

Tauladan yang baik dalam pendidikan pernah disampaikan oleh Allah dalam Al Qur’an tidaklah boleh anak berkata ” uf ” yang dimaknai dengan pengertian membantah. Mengapa bisa terjadi bantahan ? Tentu karena ada sesutu yang berbeda, sehingga agar bisa teehindar saling bantah diperlukan upaya pemahaman yang sama. Islam menyebutnya sebagai ” ta’aruf “. Saling mengenal dan memahami, tidak hanya mengenal secara nama tapi juga mengenal secara hati.

Bagaimana Nabi Muhammad menggambarkan keterpercayaan itu dimulai agar saling mengenal, Nabi SAW memberikan syarat agar terjadi kebersamaan hati dan rasa maka antara pengajar dan pembelajar haruslah memegang prinsip shiddiq, amanah , fatonnah dan tabligh. Berpegang pada kebenaran, dapat dipercaya, cerdas dan pembelajar, mau berdiskusi dan saling melengkapi dalam kemulyaan majelis ilmu.

Nah kawan….kedurhakaan adalah sebuah perbuatan yang harus dihindari. Karena kedurhakaan jelas akan menjerumuskan manusia pada kenistaan dan ketakberdayaan. Menjadikan generasi lemah menghadapi masa depannya adalah sebuah kedurhakaan sehingga penolakan terhadap upaya pelemahan adalah upaya menegakkan kebenaran

Ilustrasi tentang kebersamaan menghindari perpecahan digambarkan dengan indah oleh Allah dalam surat Ar Rum : 21

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri) Siti Hawa tercipta dari tulang rusuk Nabi Adam sedangkan manusia yang lainnya tercipta dari air mani laki-laki dan perempuan (supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya) supaya kalian merasa betah dengannya (dan dijadikan-Nya di antara kamu sekalian) semuanya (rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu) hal yang telah disebutkan itu (benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir, yakni yang memikirkan tentang ciptaan Allah swt.

Assalammualaikum wr wb…. Selamat pagi, selamat beraktifitas, semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan kepada aktifitas kita…aamien.

Trowulan, Mojokerto, 20 Mei 2018

M. Isa Ansori

Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak Jatim, Anggota Dewan Pendidikan Jatim, Pengajar Psikologi Komunikasi Untag 1945 Surabaya

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.