Bisakah Pasta Gigi Obati Penyakit Paru Ganas?

MEPNews.id – Jawabnya, bisa! Tapi, tentu saja bukan pasta giginya. Yang bisa digunakan adalah komponen antimikroba dari pasta gigi. Triclosan, zat aminoglikosid yang mengurangi atau mencegah bakteri berkembang di gigi, juga dapat memerangi penyakit yang mengancam nyawa antara lain cystic fibrosis.

ScienceDaily edisi 17 Mei 2018 mengabarkan, para peneliti dari Michigan State University di Amerika Serikat menemukan, ketika triclosan dikombinasikan dengan antibiotik tobramycin, bisa membunuh sel-sel yang melindungi bakteri cystic fibrosis, yang dikenal Pseudomonas aeruginosa, dengan efektivitas 99,9 persen.

Cystic fibrosis adalah penyakit genetik umum. Satu dari 2.500 hingga 3.500 orang didiagnosis mengandung penyakit ini pada usia dini. Cystic fibrosis menghasilkan lendir tebal di paru-paru, yang menjadi magnet bagi datangnya bakteri. Nah, bakteri ini sulit dibunuh karena dilindungi penghalang berlendir yang dikenal sebagai biofilm. Kondisi ini memungkinkan penyakit tetap berkembang bahkan sudah diberi antibiotik.

“Masalah yang kami tangani adalah mencari cara untuk mengenyahkan biofilm ini,” kata profesor mikrobiologi Chris Waters, penulis utama hasil studi yang diterbitkan dalam jurnal Antimicrobial Agents and Chemotherapy.

Menurut Waters, ada banyak infeksi umum terkait biofilm. Antara lain infeksi dan pembengkakan di telinga, sakit gusi yang disebabkan gingivitis. Tapi, penyakit yang berpotensi fatal akibat cystic fibrosis adalah endocarditis (radang jantung) serta infeksi terkait implan tulang pinggul buatan dan alat pacu jantung.

Dalam penelitian, Waters bersama Michael Maiden dan Alessandra Hunt, menanam 6.000 biofilm dalam cawan petri. Lalu, mereka memadukan tobramycin dengan sejumlah senyawa berbeda untuk melihat mana yang bekerja paling baik dalam membunuh bakteri di biofilm. Mereka mendapatkan 25 senyawa potensial efektif, tetapi satu yang paling menonjol.

“Sudah diketahui bahwa triclosan, bila digunakan sendiri, tidak efektif membunuh Pseudomonas aeruginosa,” kata Hunt, mitra pasca-doktoral mikrobiologi dan genetika molekuler. “Tapi, ketika saya melihatnya terdaftar sebagai senyawa yang mungkin digunakan dengan tobramycin, saya tertarik. Akhirnya, kami menemukan triclosan bisa bekerja setiap waktu.”

Triclosan telah digunakan lebih dari 40 tahun untuk sabun, makeup dan produk komersial lainnya, karena punya sifat antibakteri. Baru-baru ini, FDA (lembaga pengawas obat dan makanan di Amerika Serikat) membatasi penggunaan triclosan dalam sabun dan pembersih tangan karena kurangnya data efektivitasnya dan karena kekhawatiran penggunaan secara berlebihan. Namun, bukti lain menunjukkan, penggunaannya dalam pasta gigi relatif aman dan efektif dalam memerangi gingivitis, sehingga masih disetujui FDA.

“Membatasi penggunaan triclosan adalah hal yang benar dilakukan,” kata Maiden, mahasiswa pascasarjana kedokteran. “Kuncinya adalah jangan sampai terjadi resistensi terhadap suatu zat. Jika ditemukan di banyak produk, kemungkinan resistensi itu meningkat.”

Sementara itu, tobramycin merupakan pengobatan yang paling banyak digunakan untuk cystic fibrosis. Tapi, biasanya tobramycin tidak membersihkan paru-paru dari infeksi. Pasien biasanya menghirup obat itu untuk melegakan sakit, namun tetap terinfeksi kronis sepanjang hidup mereka hingga akhirnya butuh transplantasi paru.

“Tapi, transplantasi juga bukan pilihan yang layak. Pasien yang melakukan transplantasi mengalami tingkat kegagalan 50 persen dalam lima tahun,” kata Waters. “Masalah lainnya, tobramycin bisa menjadi racun. Efek samping yang diketahui dari obat itu antara lain toksisitas ginjal dan gangguan pendengaran.”

Hunt menjelaskan, “Temuan kami tentang perpaduan triclosan dan tobramycin bisa memberi dokter pilihan potensial. Dokter bisa menggunakan lebih sedikit tobramycin dalam pengobatan, dan berpotensi mengurangi penggunaannya hingga 100 kali lipat.”

Maiden menegaskan, hanya menyikat gigi dengan pasta yang memiliki triclosan tidak akan membantu mengobati infeksi paru-paru.

Sejauh ini, eksperimen masih dalam tahap laboratorium. Tahun depan, Waters dan rekan akan mulai menguji keefektifan terapi kombinasi ini pada tikus. Harapannya, itu menuju ke uji coba manusia setelah paduan dua obat ini disetujui FDA.

“Kami berusaha agar terapi potensial ini disetujui sehingga dapat memberikan pengobatan baru untuk pasien cystic fibrosis, serta mengobati infeksi biofilm lainnya yang sekarang tidak dapat diobati. Kami pikir ini dapat menyelamatkan nyawa.”

Studi ini didanai National Institutes of Health, Cystic Fibrosis Foundation, dan Hunt for a Cure di Grand Rapids, Michigan.

Baca Juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.