Ujian Kebangsaan, Catatan Prie GS

(Repost)

MEPNews.id —-Radikalisme telah sangat berbahaya sejak dari dalam dirinya sendiri. Tetapi itu baru bahaya pertama. Jauh lebih berbahaya adalah bahaya kedua, yakni jika si radikal bertemu dengan si pemeralatnya. Bahaya pertama bersifat kaku, keras, sekaligus naïf. Bahaya kedua berwatak cair, luwes, sekaligus telengas. Telah banyak telaah dan teori mengapa golongan pertama dan kedua itu ada dan bagaiman mereka bekerja. Tulisan ini tak hendak menjelaskan lagi soal itu. Tulisan ini lebih untuk menyemangati agar negara, bersama rakyat, menjadi tangguh dan kokoh menghadapi musuh bersama ini. Berikut adalah pandangan saya:

Kekuatan Struktural

Tutup seluruh perdebatan tentang Bentuk Negara dan Dasar Negara. Semua telah final dan jelas. Usaha untuk mengaburkan, memperdebatan, apalagi membongkarnya, sama dengan menggugurkan seluruh upaya pendiri bangsa. Siapa saja yang tidak mempercayai kualitas para pendiri bangsa adalah tindakan a-historis. Bentuk Negara dan dasar Negara itu tentu selalu bisa dipersoalkan, selalu ada yang bisa diangap kurang. Tapi silakan menggelar seluruh ideologi berbangsa dan bernegara lalu ambil satu saja yang bisa dengan serta merta bisa di copy paste begitu saja lalu menjadi ideologi tanpa cela. Saya memiliki analogi sederhana untuk ini.

Anda dan pasangan Anda, seperti saya dan istri saya, tentu adalah orang-orang yang selalu bisa dipersoalkan kekurangannya. Ada banyak kekurangan di pasangan kita dan di dalam diri kita. Dasar negara tentu serupa, bisa memiliki kekurangan, tetapi begitu juga dengan kita, pemilik dasar itu. Adalah tugas sesama pihak yang kurang untuk saling menambahkan, saling melengkapi dan menguatkan. Rahasia pasangan yang awet itu ternyata bukan karena mereka pihak yang sempurna. Bukan. Mereka adalah pihak yang menyadari kekurangannya lalu secara bersama-sama dan bersungguh untuk saling memahami, menerima lalu merawatnya. Itulah ibadah kebangsaan.

Ibadah kebangsaan itu tak mudah bahkan jika faktor pemberatnya hanya berupa diri sendiri. Padahal diri sendiri itu hanya setengah faktor belaka. Banyak teori sosial menjelaskan tentang penyebab negara gagal yang bukan disebabkan (hanya) oleh dirinya sendiri, merupakan lebih karena soal-soal di luar mereka. Kini, di era yang sangat transparan ini, yang bahkan lokasi dapur rumah kita bisa diintip cukup dari sebuah bilik di lain benua, adakah sebuah negara saja, yang begitu merdekanya, sampai ia sanggup berdiri sendiri? Tak ada. Apalagi di era proxy war, gelombang digital serta virtual ini. Cukup hanya dengan dua tiga orang memborong seluruh duit sebuah negara, negara itu akan mengalami kiamat finansial dan sosial.

Jadi, walau istri saya bukan pihak yang sempurna, walau saya bukan suami ideal, ia adalah sitri saya dan saya adalah suiminya. Apa dan siapa saja yang mengancam kedaulatan dan kemartabatan, kami memiliki mantra sederhana: sadumuk bathuk, sanyari bumi: walau hanya senoktah jari, tetapi jika id dioleskan di kening, ia harus menjadi perosoalan hidup dan mati. Itulah hukum adat kebangsaan. Tentu analogi ini terlalu sederhana untuk bisa mencerminkan kompleksitas yang sesungguhnya. Tetapi begitulah peran analogi lengkap dengan lebih dan kurangnya. Semoga Anda mengerti.

Kekuatan Inetelektual

Untuk menumbuhkan kekuatan struktural, tak ada cara yang lebih efetif selain dengan kekuatan intelektual Struktur itu urusan insinyur sipil, intelektual itu urusan arsitek. Teknik sipil itu mengatasi perihal benar dan kuat, arsitek kebagian mengurus persoalan etik dan artistiknya. Sebuah rumah, sebuah bangunan, walau kuat dan benar secara konstruksi, tetapi kalau kehilangan keindahanya, ia bukanlah rumah, bukan hunian, melainkan hanya sekadar bangunan, semen dan batu batu. Tugas arsitek adalah membuatnya sebagai rumah, sebagai hunian. Hunian pun bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk bisa dihuni bersama, keluarga, kakek-nenek, sanak-saudara dan pembantu. Itulah tugas-tugas etik.

Tak peduli seberapapun kehebatan seorang arsitek jika ia tak sanggup menerjemahkan definisi etik sesuai kebutuhan konteksnya ia adalah arsitek yang gagal. Konteks kebangsaan pasti berbeda-beda, ia bersifat unik dan otentik, dan ini haram untuk diabaikan

Oprah Winfrey pernah terkejut saat mewancari artis Bollywood, Aishwarya Rai, tentang betapa ayah ibu, kakek neneknya, masih berkumpul jadi satu di rumahnya yang besar. Di dalam konteks sosial Oprah, pengumpulan semacam ini tak terbayangkan karena itu semacam chaos family. Tetapi dengan sengat baik, Aishwarya menjelaskan, betapa bagi konteksnya, sanggup berkumpul dengan dengan lelehur sampai ajal adalah sebuah kemuliaan. Inilah budaya extended family system yang telah menjadi rohani genetik, masyarakat Asia termasuk Indonesia. Apakah itu semata-mata kebaikan, tentu tidak. Tetapi apakah ini keburukan, juga tidak.

Tetapi ia kontekstual, itulah kebaiknnya. Saya bertaruh, walaupun sebagai cucu Anda kaya raya, undanglah nenek Anda dari kampung dan Anda pindah ke rumah Anda untuk menjalani masa tuanya yang cemerlang versi Anda. Percayaah, hanya dalam dua hari ia akan meminta pulang karena rindu pada kamarnya yang kecil dan pengap di desa. Itulah konteks. Memisahkan manusia dari konteks kemanusiaanya, sama dengan memisahkan ikan dari airnya.

Saat bom meledak di Surabaya, saya sebetulnya sedang sangat ingin menulis hasil silaturahmi saya ke Sosiolog Arief Budiman di Salatiga. Momen itu sungguh emosional bagi saya. Tetapi ledakan bom itu membuat guncangan di hati saya. Hampir dua hari saya kehilangan nafsu menulis. Tulisan soal Arief itu saya tunda untuk menyiapkan tulisan ini yang saya kerjakan dengan sangat lambat untuk ukuran kebiasaan saya menulis. Tetapi rumah Arief yang diarsiteki Romo Mangun itu agaknya harus saya kunjungi hanya agar ilhamnya masuk ke tulisan ini.

Rumah itu seluruhnya tampak sempurna di mata saya. Desainnya, pilihan materialnya, caranya menyesuaikan kontur lahan, ada sawah di depan, hutan mini… saya bisa berdialog dengan lingkunan ini berlama-lama. Ia lebih dari sekadar menyatu dengan alam dan tetapi mengindahkan dan memulikan alam. Tetapi tahukah Anda apa pengakuan Leila Budiman, istri Arief tentang rumah indahnya ini ketika mereka telah berangkat menjadi sepuh apalagi ketika Arief tergolek sakit? ‘’Rumah ini ramah lingkungan tetapi tidak ramah anak kecil dan orang tua,’’ kata Leila di buku Arief Budiman, Melawan tanpa Kebencian.
Apakah pernyatan ini sebuah penyesalan atas sebuah rumah? Pasti tidak. Ini sebuah ketakjuban dan sisanya adalah kesadaran atas bahwa betapapun menakjubkan selalu ada yang kurang dari apa yang yang kita takjubi.

Secara kesejarahan, saya adalah generasi yang takjub pada kecerdasan dan terutama kemuliaan para pendiri bangsa. Saat Soekarno harus memilih kemerdekaan di tanggal 17 Agustus, ia tak hanya datang dari kalkulasi intelktual tetapi juga spiritual. Ia harus meminta keyakinan para sepuh dari empat penjuru angin: di luar dua sufi yang saya harus membongkar ingatan untuk mengingat namanya, dua di antaranya saya ingat dengan jelas: KH Hasyim Asyari dan RM Panjimas Sosro Kartono. Gentar saya membayangan orang-orang ini bukan karena hanya kadar kelimuannya melainkan juga asketisme hidupnya. Untuk apa semua itu? Bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk kepentingan pihak lain dan kepentingan negaranya. Sosrokartono, di puncak intelektualitasya malah menarik diri dan mengabdikan diri ‘’hanya’’ sebagai ‘’kawula kang ngawulani kawulaning Gusti’’, hamba yang menghamba pada hamba Tuhan.

Kekuatan lain yang hendak saya tambahkan sebagai pekerjaan rumah bersama itu adalah:
1. Kekuatan Emosional.
2. Kekuatan Spiritual.

Tetapi penjelasan atas keduanya terpaksa saya tunda, karena hati saya kembali terguncang. Tersiar kabar mendadak: Dalang Ki Enthus Susmono dipanggil Tuhan di usia 52 Tahun. Saya harus menghentikan tulisan ini sejenak. Semoga Beliau dimuliakan Allah. Dosa-dosanya diampuni, dan dosa saya sebagai teman, sebagai wartawan yang kala itu pernah menulisnya, kadang sengaja atau tidak, terbawa oleh subyektivitas pribadi, juga diampuni. Semoga kesalahan saya menjadi tambahan kemuliaan bagi Beliau. ***

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.