Tantangan Allah Melalui Setan Dibelenggu

Oleh: Moh. Husen

MEPNews.id —–Manusia bisa tidak menuruti dan mengabaikan bisikan kebaikan dari malaikat. Demikian pula dengan bisikan setan. Ajakan keburukan dari setan juga bisa tidak dituruti dan diabaikan. Dengan kata lain kita semua umat manusia bisa menjalani kebaikan dan keburukan tanpa harus ada bisikan dari malaikat maupun setan.

Manusia bisa melakukan hasud, dengki, kebodohan, dendam, hingga bom dan pembunuhan tanpa harus dibisiki setan. Manusia bisa melakukan apa saja cukup dengan kemampuan yang dimiliki dirinya sendiri. Tidak harus dibisiki malaikat untuk puasa dan sebagainya. Cukup memilih oke dan setuju dengan kewajiban puasa dari Tuhan, sudah beres.

Tidak juga harus ada kecanggihan dakwah dari para muballigh untuk membuat manusia memilih kebaikan. Juga tidak harus ada provokator laknat yang canggih untuk mengajak segerombolan orang sepakat dengan bom bunuh diri. Keburukan model apapun bisa dilakukan oleh manusia tanpa ajakan siapapun.

Kemampuan semua makhluk Allah hanya sebatas berusaha, mengajak, menawarkan, menanam, kebaikan ataupun keburukan. Akan tetapi jika menanam hasud dan dengki dipemikiran dan hati orang, apakah pasti bisa berhasil? Apakah jika menawarkan kebaikan kepada pemikiran dan hati orang, apakah pasti disetujui? Semuanya belum tentu. Kemampuannya hanya sebatas berusaha. Berhasil dan tidaknya semuanya belum tentu.

Maka, meskipun dalam bulan Ramadhan setan dibelenggu oleh Allah, tapi tetap saja manusia bisa menjalani perilaku buruk tanpa harus ada provokasi anjuran dari setan. Meskipun setan dibelenggu, tidak pernah menghalangi kita semua untuk curang, menyakiti, menghantam, dan kejam sehari-hari selama bulan Ramadhan.

Sehingga mudah-mudahan puasa yang kita jalani ini mampu berfungsi untuk membantu menahan diri dari menjalani keburukan, yang sesungguhnya telah mampu kita jalani sungguh pun tanpa bantuan dari bisikan para setan yang paling sangat canggih sekalipun.

Sungguh anugerah Allah berupa setan dibelenggu di bulan Ramadhan ini merupakan tantangan yang luar biasa kepada manusia, seakan-akan Allah “mengejek” secara total kita semua namun sekaligus justru untuk melatih kita: “Setan sudah Aku belenggu nih, apakah Antum masih mampu menjalani kebaikan? Atau justru malah bisanya Antum tetap hanya menjalani keburukan?”

La haula wa la quwwata illa billah. La ilaha illa Anta, subhanaka, inni kuntu minaddholimin. Ya Allah, maafkan aku dan kami semua. Kalau tidak hanya karena Rahmat-Mu, kami semua pasti akan merugi. (Banyuwangi, 18 Mei 2018)

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.