Menemukan Lapar

Oleh: Moh. Husen

MEPNews.id —- Alhamdulillah hari pertama puasa Ramadhan telah tiba. Puasa yang telah kita rindukan bersama kini benar-benar hadir dalam hari-hari kita selama sebulan penuh. Binar-binar indahnya lapar dan haus akan menghiasi dalam setiap harinya. Kultum shubuh, takjil, tarawih, tadarus, hingga panggilan sahur-sahur dari corong menara masjid akan menemani kita semua merasakan bahwa bulan ini adalah bulan Ramadhan.

Tanpa tradisi kreatif selama bulan Ramadhan, tentunya akan terasa hambar. Tanpa mereka yang mengaji didengungkan dengan pengeras suara menara masjid atau corong atas musholla, rasanya puasa seakan sepi dan mati. Toh hanya sebulan sekali. Kalau setiap hari sesudah Ramadhan membaca Al-Quran masuk menara hingga jam sepuluh malam, tentunya wajar jika dianggap menggangu. Kebaikan apapun saja memang bisa mengganggu jika tak tepat.

So, berbahagialah dengan datangnya bulan puasa ini.

Bagi orang yang hidupnya berkecukupan, sudah jadi bos besar, pekerjaannya tinggal  duduk dan selesai, mungkin kalau sekedar menahan tak makan dan tak minum dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari, menjadi tidaklah berat. Setelah itu makan minum sekenyangnya lagi sebagai pengganti lapar dan dahaganya sehari penuh.

Ia bisa jadi tak pernah menemukan lapar sama sekali. Ia kenyang-kenyang saja selama sebulan penuh. Sekedar pindah jadwal makan baginya adalah hal mudah-mudah saja untuk dijalani. Tak ada yang sulit dan normal-normal saja baginya.

Maka, sudahkah tubuh kita dalam puasa kali ini telah benar-benar menemukan lapar? Seberapa jujur diri kita dengan pertanyaan yang memojokkan diri sendiri: Benarkah kita sudah lapar dan dahaga dalam menjalani puasa ini? Pantaskah jika kita balas dendam setelah buka puasa mentang-mentang diperbolehkan bebas makan dengan makan yang sekenyang-kenyangnya sampai kita tak menemukan lapar sama sekali dalam setiap berpuasa kita? Tidak perlukah kita sedikit-sedikit saja menemukan lapar di malam hari cukup dengan makan sewajarnya saja?

Hari-hari pertama kita menjalani kewajiban puasa Ramadhan ini, ada baiknya kita perlu benar-benar menemukan lapar kembali, untuk benar-benar bisa menghayatinya, mempelajari dan merenunginya, serta bisa mengambil hikmah untuk bisa diterapkan dalam kehidupan kita. Dari menemukan lapar fisik secara nyata ini hendaknya kemudian direnungi dan dipelajari agar tak menjadi seperti yang disabdakan Nabi: “Berapa banyak orang yang berpuasa namun hasil dari puasanya hanyalah lapar dan dahaga belaka.”

Setidaknya dampak perenungan itu bukan hanya mengerti mengenai menggunung dan berlimpah ruahnya pahala puasa, melainkan dari menemukan lapar kita jadi mengerti betapa sangat begitu agung dan mulianya mereka yang mau berbagi agar saudara-saudaranya tak sampai kelaparan yang teramat sangat lapar sekali. (Banyuwangi, 17 Mei 2018)

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.