Jika Orang Dewasa Penuh Perhatian, Maka Anak Lebih Gampang Berempati

MEPNews.id – Agar manusia berfungsi secara sosial, mereka harus mampu berempati. Artinya, harus mampu mengetahui, memahami, dan berkomunikasi tentang keadaan mental orang lain. Antara lain, tentang keyakinan, keinginan dan niat orang lain.

Tidak ada konsensus di antara para peneliti tentang kapan anak-anak mengembangkan kemampuan berempati. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan, itu muncul sekitar usia empat tahun. Tapi, sebagaimana dikabarkan ScienceDaily edisi 15 Mei 2018, penelitian di Lund University di Swedia menunjukkan anak-anak sudah dapat menunjukkan kemampuan ini lebih awal. Itu bisa terwujud dalam situasi sosial yang mereka alami bersama orang dewasa yang terlibat.

Bersama rekan-rekannya, pakar psikologi perkembangan Elia Psouni mempelajari bentuk paling sederhana dari kemampuan ini: pemahaman anak-anak bahwa orang lain mungkin memiliki keyakinan keliru tentang sesuatu karena tidak tahu. Hasil penelitian bersama Andreas Falck, Leni Boström, Martin Persson, Lisa Sidén, dan Maria Wallin ini dipublikasikan di jurnal Child Development edisi 20 April 2018.

Sebagai bagian dari penelitian, anak-anak usia 33 – 54 bulan diminta memprediksi apa yang akan terjadi dalam cerita bergambar yang tiba-tiba dihentikan. Para peneliti mempelajari apakah anak-anak mampu memprediksi tokoh utama cerita akan membuat ‘langkah yang salah’ karena meyakini sesuatu yang keliru. Apakah kemampuan itu terpengaruh oleh kondisi anak-anak mendapatkan cerita itu sendirian, bersama orang dewasa yang sibuk dengan urusan lain, atau dengan orang dewasa yang terlibat langsung bersama anak dalam menikmati cerita itu.

Dalam dua eksperimen, anak-anak ditunjukkan film yang dibuat para peneliti. Film itu tentang si kecil Maxi yang ayahnya memindahkan mainan kesayangannya (pesawat terbang), sementara Maxi sedang bermain di luar. Ketika Maxi kemudian kembali ke dalam ruangan dan ingin mengambil pesawatnya, film itu tiba-tiba dihentikan. Peneliti lalu bertanya kepada anak-anak di mana Maxi mencari pesawat itu? Dalam percobaan ketiga, anak-anak dibacakan buku bergambar dengan cerita dan ilustrasi yang sama yakni si Maxi. Dari buku cerita yang juga dikembangkan para peneliti itu, halaman terakhirnya disobek. Lalu, anak-anak kembali ditanya dengan pertanyaan serupa.

Biasanya, anak-anak di bawah usia empat tahun menjawab Maxi akan mencari pesawat di mana ditempatkan saat itu, meskipun cerita menunjukkan Maxi tidak tahu pesawat telah dipindahkan dari tempat aslinya. Namun, dalam studi Lund, bahkan anak-anak usia termuda yang mendengar cerita bersama orang dewasa yang terlibat (yakni, peneliti yang memberikan tes), banyak yang dengan tepat memprediksi apa yang akan terjadi.

“Banyak anak mendeteksi dengan benar dan memberi tahu kami tentang keyakinan keliru Maxi, yaitu Maxi mencari pesawat di mana dia benar-benar meninggalkannya. Yang menarik, anak-anak ini tidak mengingat cerita secara keseluruhan dengan lebih baik daripada anak-anak lain. Tapi, secara khusus, mereka memperhatikan dan menyebutkan kenyataan bahwa ‘Ayah’ memindahkan mainan ketika Maxi tidak ada di sana. Ini menunjukkan mereka lebih memperhatikan ciri khusus dari cerita,” kata Elia Psouni.

Telah diketahui di kalangan peneliti bahwa anak-anak bahkan yang berusia dua tahun sudah menunjukkan beberapa pemahaman tentang perspektif orang lain melalui tindakan spontan mereka. Misalnya ketika anak-anak kecil dipedaya, atau saat anak membantu orang lain mencari sesuatu. Di sisi lain, anak-anak kecil tampaknya tidak memahami apa yang mereka pahami, dan tidak dapat menjelaskan alasan di balik tindakan spontan ini.

Nah, studi yang dilakukan Lund menunjukkan, anak-anak sebenarnya dapat mengetahui, memahami, dan menalar tentang perspektif orang lain lebih dini daripada yang diperkirakan sebelumnya. “Pemahaman awal anak-anak kecil tentang perspektif itu tampaknya mengharuskan mereka ‘berbagi perspektif’ dengan orang lain –dengan berfokus pada informasi yang sama pada saat yang sama,” kata Elia Psouni.

Yang menarik, penelitian menunjukkan anak-anak yang mendapatkan cerita sendirian (saat menonton film atau saat dibacakan buku bergambar) dan anak-anak yang didampingi orang dewasa tetapi sibuk dengan aktivitas lain, ternyata sama-sama sering gagal dalam membuat prediksi yang benar. “Berada di ruangan yang sama dengan anak saja tampaknya tidak cukup. Yang lebih penting adalah keterlibatan aktif orang dewasa bersama anak,” kata Elia Psouni.

Dalam eksperimen baru, para peneliti sekarang berfokus pada bagaimana anak-anak memandang gambar di film/buku dengan cara tertentu ketika mereka melihat bersama orang dewasa yang aktif terlibat. Mereka juga mengeksplorasi potensi metode yang baru dikembangkan untuk digunakan dalam praktik, misalnya di masa pra-sekolah.

“Kemampuan dasar untuk memahami bahwa orang lain juga memiliki keyakinan, keinginan, dan niat mereka sendiri, seperti dalam kisah Maxi, adalah dasar bagi perkembangan anak-anak terkait keterampilan sosial yang lebih luas dan pemikiran kritis. Sangat penting untuk memperkuat kedua perspektif itu pada anak-anak zaman sekarang,” Elia Psouni menyimpulkan.

Baca juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.