Bagaimana Sih Mekanisme Munculnya Motivasi?

MEPNews.id – Ada banyak kata-kata, kejadian, atau apa pun yang bisa menjadi sumber motivasi. Ada banyak juga orang yang berprofesi atau berfungsi sebagai motivator. Tapi, itu semua tidak serta-merta membuat seseorang termotivasi untuk melakukan sesuatu. Mengapa? Tentu saja ada faktor internal.

Mulai dari memutuskan untuk bangun pagi hingga mematikan TV dan bersiap tidur malam, ternyata otak selalu menimbang-nimbang manfaat vs masalah dari setiap pilihan yang kita buat. Nah, ada mekanika tertentu tentang bagaimana otak membuat keputusan yang sulit, menghitung-hitung apakah layak mengeluarkan usaha tertentu untuk mendapatkan imbalan potensial.

ScienceDaily edisi 14 Mei 2018 membahas jurnal The Proceedings of National Academy of Sciences (PNAS) yang menerbitkan temuan para psikolog dari Emory University di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat. Temuan ini menjelaskan bagaimana sistem syaraf dan otak membentuk mekanisme untuk melahirkan motivasi diri.

“Penelitian kami menunjukkan, korteks prefrontal ventromedial di otak, yang sebelumnya tidak dianggap memainkan peran kunci dalam pilihan-pilihan berbasis upaya, sebenarnya sangat terlibat dalam pembentukan harapan yang mendasari pilihan tersebut,” kata Michael Treadway psikolog dari Emory yang juga penulis senior dari makalah itu.

Laboratorium Treadway di Emory University berfokus pada memahami mekanisme tingkat molekuler dan sirkuit atas gejala kejiwaan yang berhubungan dengan suasana hati, kecemasan dan pengambilan keputusan. Penelitian tentang mekanisme motivasi ini juga masuk ke level molekuler.

“Dengan memahami bagaimana otak bekerja secara normal ketika memutuskan untuk mengeluarkan upaya tertentu, kita bisa mendapatkan cara untuk menunjukkan apa yang terjadi dalam gangguan saat motivasi sedang berkurang, antara lain saat depresi atau skizofrenia,” kata Treadway.

Beberapa penelitian sebelumnya mengamati tiga wilayah otak yang dianggap berperan dalam pengambilan keputusan; korteks singulate anterior dorsal (dACC), insula anterior (aI) dan korteks prefrontal ventromedial (vmPFC). Studi terdahulu itu menunjuk ke vmPFC sebagai pusat perhitungan atas nilai subjektif selama pengambilan keputusan probabilitas. Tetapi, bukti sebelumnya juga menyatakan keputusan tentang pengeluaran usaha, estimasi nilai subjektif tersebut tidak dihitung oleh vmPFC tapi oleh dACC dan aI.

Keterbatasan bagi studi sebelumnya tentang pilihan berbasis upaya adalah bahwa mereka menyajikan secara bersamaan masalah dan manfaat dari pilihan terhadap subyek eksperimental. “Di dunia nyata, kita biasanya harus membuat keputusan berdasarkan informasi yang tidak lengkap,” kata Amanda Arulpragasam, penulis pertama dari makalah PNAS yang juga kandidat PhD psikologi dari lab Treadway.

Maka, Arulpragasam merancang penelitian yang memungkinkan para peneliti memodelkan saraf yang berbeda untuk effort (usaha) dan untuk reward. Subyek penelitian juga menjalani pencitraan resonansi magnetik fungsional (fMRI) saat melakukan tugas pengambilan keputusan berdasarkan upaya di mana cost dari effort dan reward dari choices (pilihan) disajikan secara terpisah dari waktu ke waktu.

Subjek penelitian dapat memilih untuk tidak berusaha sama sekali dan menerima reward $ 1, atau melakukan upaya fisik tertentu dengan reward uang dalam berbagai besaran hingga $ 5,73. Upaya fisik itu melibatkan penekanan tombol cepat dengan persentase berbeda dari tingkat penekanan tombol maksimum masing-masing peserta. Peserta penelitian juga diminta menekan tombol menggunakan jari kelingking yang tidak dominan, untuk membuat tugas cukup menantang sehingga jadi tidak menyenangkan meskipun tidak menyakitkan.

Dalam percobaan pertama, peserta ditunjukkan tabel vertikal yang mewakili persentase tingkat penekanan tombol maksimum yang diperlukan untuk melakukan tugas. Mereka kemudian ditunjukkan ukuran reward untuk melakukan tugas. Uji coba hadiah pertama itu menyajikan informasi dalam urutan berlawanan. Setelah menerima kedua set informasi, peserta penelitian diminta memilih opsi tanpa usaha atau opsi dengan usaha.

Desain eksperimen ini memungkinkan para peneliti memisahkan efek dari pilihan baru pada pembentukan ekspektasi nilai dari keputusan masa depan.

Hasilnya, tampak peran besar vmPFC dalam mengkodekan reward yang diharapkan sebelum semua informasi terungkap. Data juga menunjukkan dACC dan aI terlibat dalam pengkodean atas perbedaan antara apa yang diharapkan peserta penelitian dan apa yang sebenarnya mereka dapatkan, dan bukannya pengkodean atas besarnya cost dari usaha.

“Beberapa pihak berpendapat, keputusan tentang effort memiliki sirkuit saraf yang berbeda dari keputusan tentang probabilitas dan risiko,” kata Treadway. “Kami menunjukkan tiga wilayah otak ikut berperan tapi dengan cara berbeda daripada yang sebelumnya diketahui.”

Baca juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.