Mengapa Learning by Teaching Others Itu Sangat Efektif?

MEPNews.id – Efek ‘learning by teaching others’ (belajar dengan cara mengajari pihak lain) terbukti efektif dalam banyak penelitian. Bukan hanya dosen pada mahasiswa, guru pada murid, trainer pada trainee, tapi juga siswa pada teman-temannya. Orang yang menggunakan sebagian waktu untuk mengajarkan apa yang telah dipelajari ternyata menunjukkan ingatan dan pemahaman lebih baik daripada yang hanya menghabiskan waktu untuk belajar kembali sendiri.

Namun, yang masih belum betul-betul terungkap adalah, mengapa metode ini begitu efektif untuk bisa lebih memahami dan mengingat apa yang telah mereka pelajari? Christian Jarrett, dalam Research Digest edisi 4 Mei 2018, mengabarkan hasil penelitian yang mungkin bisa menjawabnya.

Dalam jurnal yang dipublikasikan di Applied Cognitive Psychology, para peneliti yang dipimpin Aloysius Wei Lun Koh menguji teori bahwa mengajar bisa meningkatkan pembelajaran karena mendorong si pengajar untuk membangkitkan kembali apa yang sebelumnya telah mereka pelajari. Dengan kata lain, para peneliti percaya manfaat pembelajaran dari mengajari orang lain ini adalah manifestasi dari apa yang dikenal sebagai “testing effect” –cara yang mengingatkan kembali pada apa yang telah kita pelajari sebelumnya bisa mengarah pada akuisisi informasi yang lebih dalam dan lebih lama daripada sekadar belajar pasif meski dalam waktu yang sama.

Untuk menguji teori itu, para peneliti merekrut 124 mahasiswa dan meminta mereka meluangkan waktu sepuluh menit unuk mempelajari teks beserta angka-angkanya tentang Efek Doppler dan gelombang suara (topik yang mereka sama sekali belum pernah ketahui sebelumnya) dengan maksud nantinya mengajarkan materi itu tanpa catatan. Para relawan penelitian diberitahu bahwa mereka boleh membuat catatan saat belajar tetapi tidak boleh membawanya untuk tahap berikut saat mengajar.

Setelah fase studi, para relawan penelitian dibagi menjadi empat kelompok. Dalam satu kelompok, relawan lima menit sendirian berdiri dan memberikan pelajaran tentang materi pelajaran tanpa membawa catatan (mereka boleh menggunakan flip chart kosong untuk menggambarkan angka-angka jika mau). Tiga kelompok lain masing-masing menghabiskan waktu yang sama untuk menyelesaikan soal soal aritmatika perkalian; berdiri dan mengajar kata demi kata berdasarkan skrip (termasuk membuat referensi atas angka yang sudah digambar di papan tulis); atau menuliskan semua yang dapat mereka ingat dari teks (suatu bentuk praktik pengambilan memori yang dirancang untuk menginduksi efek pengujian).

Seminggu kemudian, semua relawan penelitian kembali ke lab untuk tes tentang pengetahuan dan pemahaman mereka terhadap teks studi asli. Mereka diminta menjawab enam pertanyaan yang mengharuskan mereka menjelaskan konsep-konsep kunci dari materi pembelajaran.

Temuan kritisnya adalah, kelompok yang mengajar tanpa catatan bisa mengungguli kelompok yang menghabiskan waktu yang sama untuk menyelesaikan soal aritmatika dan kelompok yang mengajar dari naskah. Begitu juga dengan kelompok yang hanya menggunakan waktu yang sama untuk mengingat kembali apa yang mereka pelajari. Kinerja pemahaman akhir dari kelompok yang mengajar tanpa catatan dan kelompok praktik mengingat kembali adalah sebanding.

Para peneliti mengatakan, “Hasil ini menunjukkan, manfaat dari strategi learning-by-teaching disebabkan oleh praktik retrieval; strategi learning-by-teaching memang kuat bekerja tetapi hanya akan lebih berhasil ketika pengajaran melibatkan teknik mengingat kembali materi yang diajarkan.”

Temuan baru ini tidak mengganggu gagasan pengajaran sebagai metode pembelajaran efek, tetapi memiliki implikasi praktis tentang bagaimana pendekatan learning-by-teaching bisa diterapkan dalam pendidikan atau pelatihan.

“Untuk memastikan bahwa siswa dan tutor belajar dan mengingat materi pendidikan yang mereka telah siapkan dan sajikan di kelas, mereka harus menginternalisasikan materi yang akan dipresentasikan itu sebelum mengkomunikasikannya kepada audiens. Jangan sekadar bergantung pada catatan studi selama proses presentasi,” kata para peneliti.

Meski demikian, ada beberapa kelemahan dalam penelitian ini. Peserta penelitian di semua kelompok pada awalnya sudah dipersiapkan untuk harus mengajarkan materi –yang mungkin memiliki manfaat belajar tersendiri.

Sekadar jadi pembaca yang kritis dapat mendapat masalah dengan kurangnya realisme dalam penelitian –yakni tidak ada audiens peserta didik dalam salah satu kondisi pengajaran sehingga tidak ada interaksi, yang tentunya juga memainkan bagian dalam manfaat pembelajaran dari mengajar.

Lun Koh dan rekan mengakui beberapa masalah ini. Maka mereka meminta penelitian lebih lanjut untuk menilai pentingnya praktik mengingat kembali di berbagai skenario dan kegiatan pengajaran.(*)

Facebook Comments

POST A COMMENT.