Karya Tulis Ilmiah, Apa Kurang Ilmiah? Mencari Jejak Masalah Pembelajaran

By: Syaifulloh

Penikmat Pendidikan

MEPNews.id —- Karya tulis ilmiah yang dibuat oleh guru merupakan karya yang diperlukan sebagai salah satu syarat untuk kenaikan golongan. Karya Tulis Ilmiah (KTI) menjadi syarat penting bagi guru yang hendak naik pangkat sesuai amanat Permen PAN dan RB Nomor 16 Tahun 2009 Tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.

Tradisi keilmuan harus dimulai dengan tradisi membaca, dari membaca inilah kunci utama seorang guru dalam membuat karya tulis, dari kebiasaan membuat karya tulis ini bisa menihgkat menjadi karya tulis ilmiah melalui penelitian-penelitian yang dilakukan oleh guru.

Karya tulis ilmiah merupkan fenomenal dibuat oleh guru berdasarkan kisah nyata yang dialami di kelas ketika prosss belajar mengajar dilakukan secara langsung melalui proses pembelajaran bermakna yang dialami oleh seluruh siswa untuk mendaptkan kompetensi yang dimaksudkan.

Mengapa karya fenomenal? Seperti diketahui dari berbagai macam penelitian menunjukkan minat baca Indonesia masih rendah seperti Hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) menyebut, budaya literasi masyarakat Indonesia pada 2012 terburuk kedua dari 65 negara yang diteliti di dunia. Indonesia menempati urutan ke 64 dari 65 negara tersebut. Sementara Vietnam justru menempati urutan ke-20 besar.

Pada penelitian yang sama, PISA juga menempatkan posisi membaca siswa Indonesia di urutan ke 57 dari 65 negara yang diteliti. PISA menyebutkan, tak ada satu siswa pun di Indonesia yang meraih nilai literasi ditingkat kelima, hanya 0,4 persen siswa yang memiliki kemampuan literasi tingkat empat. Selebihnya di bawah tingkat tiga, bahkan di bawah tingkat satu.

Data statistik UNESCO 2012 yang menyebutkan indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, setiap 1.000 penduduk, hanya satu orang saja yang memiliki minat baca. Angka UNDP juga mengejutkan bahwa angka melek huruf orang dewasa di Indonesia hanya 65,5 persen saja. Sedangkan Malaysia sudah 86,4 persen.

Dari hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa urusan membaca ini masih menunjukkan tradisi membaca yang cukup rendah dari berbagai komponen masyarakat di Indoesia.

Tetapi hal itu tidak terjadi pada berbagai macam group di sosial media. Hampir semua guru memiliki atau mengikuti group untuk berperan aktif dalam group tersebut. Walaupun group itu di ikuti oleh insan pendidik, kebanyakan yang dibahas hanya masalah guyonan saja dan pasti menjadi perbincangan yang ramai kalau membahas sesuatu yang jauh dari unsur pendidikan. Kalau membahas masalah serius tentang pendidikan sangat jarang ada komentar dan tanggapan untuk didiskusikan secara serius agar dapat diaplikasikan dengan baik di dalam proses belajar mengajar sehingga bisa dijadikan modal di dalam membuat karya tulis ilmiah.

Dengan budaya literasi yang rendah sesuai hasil penelitian di atas,tetapi para guru di Indonesia bisa membuktikan dengan kehebatannya karena para guru bisa menghasilkan karya tulis ilmiah sebagai salah satu syarat untuk kenaikan pangkatnya. Walaupun perpustakaan sekolah tidak memiliki buku penunjang yang cukup untuk digunakan bahan pustaka dalam membuat KTI, tetapi kenyataannya setiap ada syarat bagi guru dalan membuat KTI, dengan waktu yang relatif pendek para guru dapat mengumpulkan KTI yang dimaksud.

Karya tulis ilmiah yang dibuat dari berbagai pelatihan-pelatihan yang di ikuti oleh guru yang diadakan oleh berbagai lembaga menjadi salah satu karya terbesar dalam membantu guru bisa membuat karya tulis ilmia ini dengan hasil yang sangat fenomenal karena hampir semua guru yang bersertifikasi baik negeri ataupun swasta juga diwajibkan membuat PTK yang menjadi syarat untuk sertifikasi.

Sudah tidak terhitung jumlah karya tulis ilmiah sudah dibuat oleh guru, mungkin berjumlah jutaan kalau dikumpulkan seluruh Indonesia. kalau dilihat dari jumlah guru baik negeri maupun swasta yang ada di Indonesia. Suatu jumlah yang membanggakan dari produk pendidikan yang dinamakan karya tulis ilmiah ini.

Karya tulis yang ditulis oleh guru sendiri secara individu dibuat sesuai penelitian tindakan kelas (PTK) dengan beberapa siklus yang diperlukan untuk melihat kenaikan nilai sesuai KKM yang di inginkan oleh guru mata pelajaran tersebut.

PTK yang dibuat dari Berbagai model pembelajaran dibedah secara ilmiah melalui karya fenomenal guru-guru tersebut menghasilkan karya ilmiah yang bisa dinikmati oleh para pemirsa
dan semestinya diterapkan di dalam pembelajaran.

Semua model pembelajaran yang digunakan sebagai ajang penelitian untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas terbukti bisa meningkatkan hasil pembelajaran seluruh siswa untuk mencapai KKM yang ditetapkan oleh guru tersebut. Bila menilik hasil pencapaian KKM sesuai siklus yang diterapkan mestinya juga berdampak pada peningkatan kualitas pendidkan secara baik dan konsisten di seluruh pelosok negeri ini karena penelitian dilakukan dengan menggunakan prosedur ilmiah.

Hal ini menunjukkan bahwa penelitian ilmiah yang dilakukan oleh guru sudah pasti menunjukkan sesuai petunjuk pada buku panduan karya tulis ilmiah atau sesuai dengan petunjuk karya tulis ilmiah yang diperoleh saat mengikuti pelatihan KTI dari narasumber dari berbagai institusi.

Kebenaran ilmiah yang sudah dihasilkan oleh guru dan sudah dalam bentuk laporan KTI, sebetulnya bisa diuji dengan cukup sederhana dan cukup mudah dilakukan oleh siapapun yang pernah menggauli tentang KTI.

Sediakan laptop untuk pembuat KTI tersebut lalu beri masalah baru, diminta membuat latar belakang masalah, rumusan masalah dan tujuan penelitian. Ini dilakukan untuk melihat sejauh mana kemampuan memahami masalah dan menganalisa kebutuhan memecahkan masalah dalam pembelajaran yang akan dituangkan dalam membuat KTI.

Bila membuat latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian bisa dibuat maka KTI yang sudah jadi bisa dijadikan indikator bahwa pembuat memang bisa membuat KTI. Kalau latar belakang dan seterusnya tidak bisa membuat, maka dipastikan KTI yang sudah jadi tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Disinilah letak ketidak ilmiahan karya tulis ilmiah yang sudah dibuat. Secara urutan KTI sudah pasti ilmiah karena sudah sesuai dengan panduan KTI. Tetapi ketika pembuat KTI yang tidak memahami substansi dari masalah yang diteliti, itu akan menjadi masalah besar dikemudian hari.

Akhirnya walaupun sudah terkumpul jutaan KTI di Indonesia yang sudah dibuat oleh para pendidk ternyata belum berdampak signifikan bagi penguatan pendidikan. Bisa jadi hal itu dikarenakan hasil penelitian berupa KTI masih hanya sebatas kebutuhan adminstratif belum pada implementasi secara terus menerus.

Bisa juga “habit” membaca yang kurang dari guru bisa menjadi kendala besar dalam membuat KTI sebagai dasar dalam memahami kontekstulitas masalah yang dihadapi untuk dikupas sesuai dengan landasan teori serta metodologi penelitian yang digunakan dalam memecahkan kasus yang dihadapi.

Ali Bin Abi Thalib. “Ilmu itu lebih baik daripada harta, ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu akan berkurang jika dibelanjakan tetapi ilmu akan bertambah jika diamalkan.” ***

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.