Anak Itu Peniru Selektif, bukan Asal-asalan

MEPNews.id – Ada pandangan, anak adalah peniru ulung. Anak kecil bisa secara membabi-buta meniru semua yang dilakukan orang dewasa untuk menyelesaikan tugas, termasuk meniru tindakan yang tidak relevan. Ah, apa betul? Ada penelitian baru yang menantang gagasan itu. Ternyata perilaku meniru itu juga tergantung pada apakah anak-anak melihat satu atau beberapa orang dewasa melakukan tugas yang sama.

Psikolog umumnya menganggap anak-anak prasekolah sebagai peniru terhebat. Misalnya, mereka akan meniru apa pun yang dilakukan orang dewasa untuk mengeluarkan hadiah dari dalam kotak, termasuk melakukan hal-hal yang tidak relevan dan konyol. Jika seorang dewasa menepuk wadah itu dua kali sebelum mengangkat gerendel untuk membuka kotak, maka begitu juga yang dilakukan kebanyakan anak-anak yang menonton demonstrasi itu.

Ada nama ilmiah resmi untuk mega-mimikri semacam ini. Namanya, overimitation atau meniru berlebihan. Mungkin, dengan meniru apa saja bisa membantu anak-anak belajar ritual atau kebiasaan lainnya. Mungkin anak-anak berlebihan meniru sehingga orang dewasa yang memiliki pengetahuan khusus akan menyukainya. Mungkin juga, overimitation ini dilebih-lebihkan oleh orang dewasa.

Dalam situasi pembelajaran realistis –di mana anak-anak dapat mengukur apakah kebanyakan orang dewasa selalu menepuk kotak itu atau menggunakan cara lain– aksi meniru itu bisa menghilang secara dramatis.

Bruce Bower dalam Sciencenews edisi 15 Mei 2018 menyebut, itu adalah kesimpulan enelitian tim yang dipimpin psikolog Cara Evans dari Institut Max Planck for Science of Human History di Jena, Jerman. Hasil penelitian akan dipublikasikan akhir tahun ini di Developmental Science.

“Istilah ‘overimitation‘ bisa secara keliru menunjukkan bahwa anak-anak tanpa berpikir dan asal-asalan meniru tindakan yang tidak relevan,” kata Evans. “Sebaliknya, anak-anak justru meniru orang dewasa dengan cara yang sangat fleksibel, selektif dan adaptif.”

Para peneliti menguji 252 anak usia 4 – 6 tahun yang mengunjungi pusat sains bersama orang tua mereka di Inggris. Dari mereka, 201 anak menonton video dan 51 anak lainnya tidak melihat. Video itu mempertontonkan empat orang dewasa secara berturut-turut menunjukkan cara memindahkan kapsul berisi stiker dari kotak plastik bening. Pertama-tama, 4 dari 4, 3 dari 4, 1 dari 4, atau tidak seorang pun dari orang dewasa itu melakukan tindakan yang tidak relevan –yakni menggeser pintu kecil di kotak untuk membuka ruang kosong. Kemudian, mereka menggunakan salah satu dari dua tuas untuk memindahkan kapsul di depan pintu.

Setelah menonton video itu, setiap anak diberi kesempatan untuk mendapatkan stiker dari kotak masing-masing. Mereka yang berhasil mendapat dua stiker boleh mencoba mendapatkan stiker baru.

Sejalan dengan studi overimitation sebelumnya, hampir semua anak yang melihat empat orang dewasa mendemonstrasikan rutinitas buka pintu berlebihan segera meniru perilaku tersebut di semua percobaan. Tapi, hanya 40 persen dari anak-anak yang melihat tiga dari empat orang dewasa membuka pintu berlebihan meniru hal yang sama pada percobaan pertama. Bahkan, persentase itu turun hampir setengahnya pada putaran kedua (melihat dua orang dewasa) dan ketiga dengan kotak itu. Seperti halnya anak-anak yang tidak melihat video, anak-anak yang melihat cara buka pintu tidak relevan oleh hanya satu orang dewasa ternyata juga tidak banyak meniru tindakan itu.

Menurut Evans, ternyata anak-anak usia prasekolah tidak asal-asalan mengikuti cara yang dilakukan orang banyak. Cukup hanya satu dari empat orang dewasa menunjukkan cara mendapatkan hadiah secara efisien, maka anak-anak segera siap menirunya.

Evans menduga, anak-anak meniru prosedur yang tidak berguna itu karena mereka menganggap ‘ini adalah cara yang dilakukan orang.’ Mereka tetap meniru meski langkah tambahan itu sepertinya tidak diperlukan.

Evans melihat hubungan antara temuannya dan hasil eksperimen konformitas terkenal oleh psikolog Solomon Asch pada 1950-an. Asch mengamati masing-masing mahasiswa pergi bersama sekelompok teman sebaya yang, menurut ibarat Asch, dengan suara bulat sama-sama berpendapat garis dengan panjang berbeda itu sebenarnya memiliki panjang yang sama. Tetapi, para mahasiswa ini bisa menolak tekanan teman sebaya jika hanya ada satu orang lain yang tidak sependapat dari kelompok.

Ketika harus memutuskan siapa yang harus ditiru dan siapa yang harus diabaikan, anak-anak dan orang dewasa dapat sama-sama bisa melakukan diskriminasi.

Baca Juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.