Menahan Diri Atas Keinginan, Pelajaran dari Selera Makan Pak Syafril

Catatan Parenting Umroh (12)

MEPNews.id —- Salah satu masalah bagi jamaah umroh dan haji adalah makanan. Beda rasa, beda selera menjadikan nafsu makan menjadi berkurang.

Maka, kalau jamaah haji Indonesia 40 hari harus di tanah suci, mereka rata-rata membawa bekal lauk sendiri. Mulai sambal pecel, rendang hingga tempe.

Maka tatkala jamaah rombongan Umroh Wardhana kemarin, ada masalah soal makanan dan lidah ini adalah hal biasa. Meskipun banyak yang memilih kompromi.

Adalah pak Syafril, asal Padang dan pengusaha rumah makanPadang di Surabaya yang gelisah sepanjang hari kalau tiba saatnya makan.

Makanan lezat di Hilton Mekkah tak menarik sama sekali.

 

IMG-20180515-WA0027

“Gak bisa saya makan. Semua masakan gak ada rasanya. Bumbunya gak nendang..” tegasnya. “Ya terpaksa saya memilih roti.”

Pak Syafril dan istrinya Bu Zaimar, berangkat berdua. Tapi yang paling bermasalah soal makanan hanya pak Syafril. Maklum, dia ahli masakan padang, maka lidahnya protes saat makan model Arab atau makanan hotel.

Untung banyak kawan yang menemani. Abah Udin tampak setia menemani. Bahkan pelan pelan memberi nasihat soal perlunya sabar dan menerima nikmat Allah yang ada didepan kita.

“Sesekali terimalah yang ada pak Syafril. Esok kalau sudah balik Surabaya akan ketemu masakan padang lagi.” Tegas abah Udin menasehati.

Bahkan, abah Udin sabar menasehati dalam hal lain. Termasuk menemani pak Syafril berangkat ke masjid. Beberapa kali Abah Udin juga mengingatkan pak Syafril agar mendorong kursi roda bu Zaimar, istrinya.

“Ayo dorong itu istri, temani. Jangan biarkan dengan bu Rahmi saja. Biar jamaah lain juga berkesempatan dengan bu Rahmi, ” tegasnya.

Ada dua pelajaran penting dalam catatan ini.

Pertama, kesabaran dan menahan diri bukanlah teori yang hanya diterapkan saat ramadhan. Saat umroh, konsep itu sudah bukan teori lagi. Tapi aplikatif.

Menahan diri atas keinginan (termasuk soal makanan) kayaknya hal sepele. Tapi kalau itu tidak mampu diatasi, bisa merembet ke hati yang tidak ikhlas.

Kedua, apalabila hati tidak ikhlas, maka berderet penyakit lain mengikuti. Misalnya amarah, iri, dan malas dan banyak hal lain. Maka, meski hanya 9 hari, manahan diri atas sebuah keinginan, adalah latihan yang sesungguhnya saat kita kembali ke tanah air. ***
Catatan : Yusron Aminulloh
Penulis, Master Trainer MEP, penggerak literasi nasional dan sahabat para orangtua.

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.