Tragedi Ujung Galuh Yang Tak Luruh

Catatan Oase  :

MEPNews.id —- Surabaya semula berasal dari Junggaluh, Ujunggaluh atau Hujunggaluh. Tetapi, dalam sejarah pemerintahan regent atau kebupatian (kabupaten), serta keadipatian (kepatihan) Surabaya disebut Surapringga. Dari berbagai sumber, terungkap salah satu kepala pemerintahan yang cukup melegenada adalah Adipati Jayengrono. Kerabat kerajaan Mojopahit ini diberi kekuasaan untuk memerintah di Ujunggaluh.

Di bawah pemerintahan Jayengrono, perkembangan pesat Ujung Galuh sebagai pelabuhan pantai terus manarik perhatian bangsa lain untuk berniaga di sini. Suasana Ujung Galuh berkembang pesat, menyapa rakyat, memendar asa bahagia berlabuh disandaran Ujung Galuh yang merengkuh.

Selaksa harap mewarna dibenak, ketika usiamu semakin menua seksi. Pesolek rautmu semakin elok dengan untaian taman taman kota dan gedung gedung menjulang tinggi. Ujung Galauh berpendar menjadi kota metropolis yang terasa egois. Dibawah duli pemerintahan ” Kanjeng Ratu Tri Rismaharini ” saya mengistilahkan lain dari walkota Tri Rismaharini “, semua tlatah kota disulap menjadi wajah yang elok, bersih nan rupawan. Taman taman menghiasi pojok pojok kota, jembatan menjorok kelaut sebagai wahana pelipur lara ketika duka menyapa. Menatap hamparan laut dan langit biru serasa mendiami nirwana.

Minggu ( 13 Mei 2018 ) ditengah keriangan warga kota melaksanakan ” ritual mingguan ” car free day serta persiapan mempesoleki kota dengan festival rujak ulegnya “, tak dinyana serentetan teror bom menyapa kota. Pagi itu, ketika ummat kristiani sedang bersimpuh berdoa dialtar gereja, serentetan dentuman bom berhamburan memekakkan rasa kemanusiaan kita, korban tak berdosa berjatuhan, perih mendengar dan merasakannya. Semoga Tuhan memberkahi !

Teror telah menjadi hantu kota, Ujung Galuh mencekam, bahkan tak pelak Sang Ratu dengan segala nestapa yang dirasa, memerintahkan para punggawa untuk mengeluarkan maklumat. Dan hari ini maklumat yang berisi seluruh anak anak yang bersekolah diminta untuk belajar dirumah, demi menjaga hal hal yang tak diinginkan.

Takutkah rakyat Ujung Galuh ? Serentetan sumpah serapa dan umpatan kepada pelaku teror bom menghiasi wajah media sosial, tak pelak juga sekumpulan rangkaian kata para kanjeng dan ratu menghiasi wajah media dengan segala himbauan agar rakyat tenang dan tidak takut terhadap teror.

Aksi keprihatinan digelar dimana mana, kecaman dan serapah menghiasi wajah aksi, karena memang aksi teror tak bisa ditoleransi, memerih dalam hati, menapaki hati merobek kasih.

Lalu Berhentikah Teror Itu ?

Teror adalah sebuah perbuatan yang ditujukan untuk menimbulkan ketakutan, kegelisahan dan kecemasan. Siapa saja bisa menjadi pelaku teror. Siapa saja yang perbuatannya bisa menimbulkan kegelisahan, ketakutan dan kecemasan, dialah adalah teroris yang sejatinya.

Betapa bisa bayangkan berapa banyak diantara keluarga dan kerabat kita mengalami kecemasan dan kegelisahan serta ketakutan ketika mereka sakit, mereka takut tak bisa berobat dan membayar biaya rumah sakit. Belum lagi betapa banyak anak anak dan keluarga tak menentu masa depannya, karena tak bisa bayar sekolah, betapa banyak keluarga keluarga disekitar kita, tak tahu esok harus makan apa karena tak ada uang dan harta. Dan banyak lagi teror teror yang menyebabkan kita gelisa melihat masa depan kita, sebagaimana ketakutan kita pada teror bom. Saat ini ada 11.000 anak SMA dan SMK yang terteror dengan kebijakan pendidikan pemerintah kota, mereka terancam tak bisa sekolah, lalu masihkah kita membiarkan ?

Nah kawan sejatinya teror itu telah menjadi kawan kita sehari hari, lalu mengapa harus takut ? Membersamai ketakutan, kegelisahan dan kecemasan dengan kemampuan mengelola diri dan hati adalah jalan kita melawan teroris.

Semoga bermanfaat !

Assalammualaikum wr wb….selamat siang, semoga Allah menenangkan hati kita. Aamien

M. Isa Ansori

Anggota Dewan Pendidikan Jatim dan Pengampu Psikologi Komunikasi

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.