Soal Bencana, Pengguna Twitter Sering Bohong

MEPNews.id – Kita tahu Twitter dipenuhi informasi keliru. Tetapi, seberapa baik pengguna platform media sosial yang paling aktif ini dalam mendeteksi kebohongan, terutama selama keadaan darurat umum? Ternyata, selama kejadian bencana, pengguna Twitter aktif cenderung menyebarkan kebohongan.

Kesimpulan itu didapat dari penelitian tim Buffalo University terhadap lebih dari 20.000 tweet selama bencana Badai Sandy 2012 dan kasus pengeboman Boston Marathon 2013 di Amerika Serikat. Hasil studi itu dipublikasikan di jurnal Natural Hazards 11 Mei 2018 dan dirilis ScienceDaily edisi 12 Mei 2018.

Peneliti mengkaji empat rumor palsu; masing-masing dua dari maraton dan badai itu termasuk maluapnya air di kantor New York Stock Exchange. Hasilnya, 86 hingga 91 persen pengguna Twitter aktif menyebarkan informasi keliru, dan hampir sama banyaknya yang tidak melakukan apa pun untuk memperbaikinya.

Peneliti memeriksa tiga jenis perilaku. Pengguna Twitter bisa menyebarkan berita palsu, mencari konfirmasi, atau meragukannya. Hasilnya;

  • 86 hingga 91 persen pengguna menyebarkan berita palsu, dengan cara retweet atau ‘likeposting
  • 5 hingga 9 persen berusaha mengkonfirmasi berita palsu itu, biasanya dengan retweet dan menanyakan apakah informasinya benar.
  • 1 hingga 9 persen menyatakan keraguan, seringkali dengan mengatakan tweet asli tidak akurat.

“Sepengetahuan kami, ini studi pertama yang menyelidiki bagaimana pengguna Twitter sering menebar kebohongan selama kejadian bencana. Sayangnya, hasilnya melukiskan gambar yang kurang menyenangkan,” kata penulis utama studi, Jun Zhuang PhD, profesor di Departemen Teknik Industri dan Sistem di School of Engineering and Applied Sciences, University of Buffalo.

Bahkan, setelah berita palsu itu dibantah di Twitter dan outlet media berita tradisional, studi ini tetap menemukan:

  • Kurang dari 10 persen pengguna yang menyebarkan berita palsu menghapus retweet yang salah.
  • Kurang dari 20 persen dari pengguna yang sama mengklarifikasi tweet palsu dengan tweet

“Temuan ini penting karena menunjukkan betapa mudahnya orang tertipu ketika mereka dalam kondisi paling rentan. Peran platform media sosial bermain sangat penting dalam penipuan ini,” kata Zhuang, yang melakukan penelitian serupa mengenai Badai Harvey dan Badai Irma.

Meski demikian, ada catatan lebih positif. Sementara pengguna cenderung menyebarkan berita palsu, Twitter dan platform media lainnya bergerak cepat memperbaiki kesalahan informasi tersebut.

Selain itu, Zhuang mengatakan penting untuk dicatat bahwa penelitian ini tidak mempertimbangkan pengguna Twitter yang mungkin telah melihat tweet asli dengan berita palsu dan memutuskan untuk mengabaikannya. “Ada kemungkinan banyak orang melihat tweet ini, lalu memutuskan itu tidak akurat, dan kemudian memilih untuk tidak terlibat menyebarkan,” kata Zhuang.

Baca juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.