Meretas Mimpi Menjadi Guru Profesional

Catatan : Widyastuti, SPd

MEPNews.id —- Sungguh satu kehidupan yang sebenarnya bukan pilihanku, untuk menjadi guru, tetapi tidak tahu mengapa ketika masuk perguruan tinggi, aku milih Psikologi Pendidikan dan konseling ternyata masuk katagori Fakultas Pendidikan dan aku harus menjadi guru.

1992 selesai aku bersikukuh tetep tidak ingin menjadi guru, namun apa daya 1992 ketemu teman sesama IKIP Malang zaman itu bilang ke suami saya.

“Wong lulusan negeri kok gak kerja. Wis GTT ae di tempatku, kata temanku itu. Kebetulan waktu itu dia sudah menjabat WAKA Kesiswaan sehingga mudah mereferensikan aku ke kepala sekolah untuk menjadi GTT di sekolah tersebut.”

Hari hari menjadi sangat kunikmati 1992 lulus menjadi bu RT (7 Tahun ) baru 1999 impianku sebagai wanita yang berkarir terwujud. Tapi aku bukan perempuan gampang menyerah aku tidak berhenti berjuang dengan karirku dan dua anakku yang sekarang sudah sarjana ISI Yogyakarta dan Diploma 3 kominikasi Di Akindo Yogyakarta.

Kehidupan karir memang agak cepat kurasakan ,1999 GTT langsung 2002 langsung guru bantu nasional dan 2007 CPNS mesti sekarang masih golongan IIIc dan untuk ke IIID harus menjadi korban KUOTA.

Hidup profesional bagiku bukan satu hal yang sulit karena aku biasa dengan bekerja all out pulang sore bahkan malam disekolah bagi aku itu biasa. Yang perting semua tugas yang dibebankan bisa kuselesaikan dengan baik .

Pengakuan profesional guru dengan memberikan sertifikasi guru memberikan angin segar menurutkan, zaman sertifikasi melalui pemberkasan.

Menjadi luar biasa sertifikat dibuat menjadi tren dikalangan guru untuk menambah nilai bagi berkas yang dikirim foco copi SK sertifikat peningkatan kinerja bisa menjadi setumpuk undung, kemudian dirubah menjadi PLPG untuk bisa mendapat sertifikasi sebagai guru profesional.

Saya pikir PLPG jauh lebih baik, kita bisa refres mengajar yang biasanya bersifat itu itu saja dan RPP copas di PLPG kita bisa membuka jalan untuk bener bener Profesional.

Persoalan pertama muncul setelah ada sertifikasi. Muncul issue klasik misalnya di kota tertentu karena gaji guru makin besar, 2 kali gaji maka tingkah guru pun aneh diisukan banyak perselingkuhan, meski yang positif uang sertifikasi untuk haji untuk umroh. Meski ada juga yang untuk nyicil beli mobil dan lain lain.

Tapi ada yang diatur, misalnya sertifikasi untuk beli laptop tapi muncul persoalan lagi laptop untuk apa karena masih banyak yang membuka laptop saja belum ngeh (ironis kan). Terus pertanyaan nya yang mana yang untuk profesional ?

Mesti persoalan profesional guru sudah bisa diatasi dengan muncul PP dan PERMEN untuk mengatur semua penerima sertifikasi guru dan ada sangsi bagi pengunaan uang sertifikasi yang menyimpang. Meski terasa belum ketat pengawasannya.

Seperti misalnya untuk umrah, guru wajib di potong sertifkasi satu kali penerimaan ,tapi yang untuk memberi mobil mewah selingkuh (tidak nutup kemungkinan) belum bisa terdeteksi sangsi nya ini PR besar yang butuh penjelasan.

Yang menjadi persoalan bagi kita adalah? ketika uang itu kita gunakan untuk belajar di S1 linier atau S2 . terutama S2mengapa masih ada hambatan ? Padahal itu jelas untuk meningkatkan profesional guru.

Pernah aku mendengar pernyataan begini. Guru SMK itu tidak perlu S2 karena kwalifikasi hanya lulusan S1, sehingga ketika aku memutuskan S2 linier aku mendapat hambatan terutama untuk ijin belajar.

Bisa saja aku memilih S1 tapi aku fikir aku sudah sebagai assesor kompetensi nasional dr LSP Coshespa dari tahun 2008 RCC sampai 2014. Bahkan sudah berkeliling hampir seluruh SMK kecantikan di Jawa Tengah dan berbagai SMK di luar kota.

Dan yang lebih ironis, aku sudah menjadi anggota DEWAN PENDIKAN JOMBANG dari tahun 2010 sampai sekarang.

Ternyata etikat baikku untuk menjadi guru profesional belum mendapat jalan terang. Hanya dukungan dari orang disekelilingku dan utama kepala sekolahku yang sekarang.

Jalan buntu kedua yang muncul ketika aku mencoba menjadi profesional dengan jalur pendidikan lanjutan adalah : karena usia ku sudah diatas 50.

Pastinya untuk tingkat jenjang S2 sudah tidah terbuka beasiswa akhirnya aku memakai jalur mandiri dengan menggunakan uang sertifikasi tapi ironis PENCAIRAN SERTIFIKASI SERING TERLAMBAT. Dan diberikan 3 bulan sekali.

Ini membuat kesulitan sendiri sebagai guru yang tentu saja harus pinjam sana pinjam sini ditutup setelah sertifikasi cair ,orang pasti bilang salahnya sendiri sekolah lagi.

Kan S1 saja cukup, bagi aku tidak begitu profesional itu sesuai kwalifikasi pendidikan sesuai kwalifikasi kinerja dan lulus uji kompetensi sebagai guru dibidangnya .

Dalam hati dalam tulisan aku berharap solusi aku berharap jalan keluar menurut ku perjuangan PGRI untuk memberikan sertifikasi per bulan mengikuti gaji mengapa belum terlaksana dan apabila 3 bulan mengapa terlambat harus nya tepat waktu.

Supaya setiap yang dilakukan guru dalam rangka mencapai profesional guru menjadi pasti dengan hati yang tenang profesional mengajar gak harus cari tambahan sana sini.

Sampai ada tawaran, sertifikat sertifikasi itu digadaikan saja, banknya mau kok dibayar hutang nya kalau sertifikasi sudah cair. Sebuah cara bagus tetapi ketika sertifikasi itu tidak diterima tepat waktu, maka kepercayaan bank penanggung akan berkurang.

Allahhu bisshowaf, Allah Maha Tahu yang kita lakukan katanya beri imbalan sebelum keringat nya kering.

Terus bagaimana sertifikasi itu bisa cair tepat waktu atau mengikuti gaji ,karena saya dengar para pegawai itu bisa tunjangan mengikuti gaji, ada apa dengan katanya guru sekarang tak lagi UMAR BAKRI . ***

Penulis adalah , WIDYASTUTI ,SPd
GURU TATA KECANTIKAN SMKN 2 JOMBANG

PENDIDIKAN ; S1 IKIP MALANG PSIKOLOGI PENDIDIKAN BIMBINGAN , S2 PKK UNIV NEGERI YOGYAKARTA ( SEMESTER 6), ANGGOTA DEWAN PENDIDIKAN KABUPATEN JOMBANG ,
AKTIFIS ORMAS AISYIYAH KAB JOMBANG, AKTIVIS PEREMPUAN PEDULI KEK PADA PR DAN ANAK …

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.