Memucat Pasikan Pancasila

Catatan Oase :

MEPNews.id —- Dalam beberapa hari ini banyak didiskusikan tentang sikap dari sahabat sahabat saya dosen yang dianggap bersikap berbeda dalam menyikapi ” keberadaan ” organisasi yang dianggap bertentangan dengan Pancasila. Seolah dalam diskusi itu tergambar bahwa siapapun yang dianggap berbeda dengan pemilik kebijakan, maka dikategorikan sebagai ” musuh “.

Bagi saya sebuah pandangan terhadap sesuatu persoalan boleh saja berbeda, karena memang kita mempunyai pengalaman dan latar belakang yang berbeda. Sehingga seharusnya pandangan yang berbeda kepada sebuah persoalan seharusnya dianggap sebagai pengayaan ilmu pengetahuan. Penyeragaman pandangan terhadap suatu persoalan justru akan mengingkari hakekat dari kemanusiaan dan kebagsaan kita. Kita akan kembali kepada masa masa sulit membangun demokrasi, sebagaimana pernah terjadi di zaman orde baru.

Pondasi kenegaraan kita dibangun atas keberagaman pandangan, namun sangat mampu diharmonikan oleh para pendiri bangsa ini. Sehingga menjadi rangkaian ke Indonesiaan yang elok, menghargai dan menghormati keberadaan setiap perbedaan.

Bukankah kita masih ingat, sebelum diproklamasikan kemerdekaan Indonesia, para pendiri bangsa ini berembug bagaimana mempersiapkan proklamasi, lalu tujuannya seperti apa negara yang akan diproklamasikan ini. Mereka membentuk sebuah wadah yang dikenal dengan sebutan BPUPKI dan PPKI. Ditempat itu ada Soekarno

BPUPKI beranggotakan 62 orang yang diketuai oleh Dr. Kanjeng Raden Tumenggung (K.R.T.) Radjiman Wedyodiningrat dengan wakil ketua Ichibangase Yosio (orang Jepang) dan Raden Pandji Soeroso.” ( Dikutip dari BPUPKI Wikipedia Indonesia.

Daftar Anggota BPUPKI :

Ketua (Kaicoo) : Dr. K. R. T. Rajiman Wediodiningrat
Ketua Muda (Fuku Kaicoo) : Ichibangase
Ketua Muda (Fuku Kaicoo) : R. P. Soeroso

1 Ir. Sukarno.
2 Drs. Muhammad Hatta
3 Ki Hajar Dewantara
4 Dr. Raden Suleiman Effendi Kusumaatmaja
5 Dr. Samsi Sastrawidagda
6 Dr. Sukiman Wiryosanjoyo
7 Drs. Kanjeng Raden Mas Hario Sosrodiningrat
8 K. H. A Ahmad Sanusi
9 Haji Abdul Wahid Hasyim
10 Haji Agus Salim
11 Ir. Pangeran Muhammad Nur
12 Ir. Raden Ashar Sutejo Munandar
13 Abdul Kahar Muzakir
14 Ir. Raden Mas Panji Surahman Cokroadisuryo
15 Ir. Raden Ruseno Suryohadikusumo
16 Abdul Kaffar
17 K.H. Abdul Halim Majalengka (Muhammad Syatari)
18 Kanjeng Raden Mas Tumenggung Ario Wuryaningrat.
19 Ki Bagus Hadikusumo
20 Kiai Haji Abdul Fatah Hasan
21 Kiai Haji Mas Mansoer.
22 Kiai Haji Masjkur.
23 Agus Muhsin Dasaad
24 Liem Koen Hian
25 Mas Aris.
26 Mas Sutarjo Kartohadikusumo
27 Mr. A.A. Maramis
28 Mr. Kanjeng Raden Mas Tumenggung Wongsonagoro.
29 Mr. Mas Besar Martokusumo.
30 Mr. Mas Susanto Tirtoprojo
31 Mr. Muhammad Yamin
32 Mr. Raden Ahmad Subarjo
33 Mr. Raden Hindromartono,
34 AR Baswedan
35 Mr. Raden Mas Sartono.
36 Mr. Raden Panji Singgih.
37 Mr. Raden Syamsudin
38 Mr. Raden Suwandi.
39 Mr. Raden, Sastromulyono.
40 Mr. Yohanes Latuharhary
41 Ny. Mr. Raden Ayu Maria Ulfah Santoso
42 Ny. Raden Nganten Siti Sukaptinah Sunaryo Mangunpuspito
43 Oey Tiang Tjoei
44 Oey Tjong Hauw
45 Bandoro Pangeran Hario Purubojo
46 P.F. Dahler
47 Parada Harahap
48 Prof. Dr. Mr. Raden Supomo.
49 Prof. Dr. Pangeran Ario Husein Jayadiningrat
50 Prof. Dr. Raden Jenal Asikin Wijaya Kusuma
51 Raden Abdul Kadir
52 Raden Abdulrahim Pratalykrama
53 Raden Abikusno Cokrosuyoso
54 Raden Adipati Ario Purbonegoro Sumitro Kolopaking
55 Raden Adipati Wiranatakoesoema V.
56 Bendoro Kanjeng Pangeran Ario Suryohamijoyo.
57 Raden Asikin Natanegara
58 Raden Mas Margono Joyohadikusumo
59 Raden Mas Tumenggung Ario Suryo
60 Raden Oto Iskandardinata
61 Raden Panji Suroso
62 Raden Ruslan Wongsokusumo
63 Raden Sudirman
64 Raden Sukarjo Wiryopranoto
65 Tan Eng Hoa
66 Itibangase Yosio
67 Bendoro Pangeran Hario Bintoro
68 Matuura Mitukiyo ( Perwakilan Jepang )
69 Miyano Syoozoo ( Perwakilan Jepang )
70 Tanaka Minoru ( Perwakilan Jepang )
71 Tokonami Tokuzi ( Perwakilan Jepang )
72 Itagaki Masumitu ( Perwakilan Jepang )
73 Masuda Toyohiko ( Perwakilan Jepang )
74 Ide Teitiroo ( Perwakilan Jepang )
75 Dr. Kanjeng Raden Tumenggung Rajiman Wedyodiningrat
76 Dr. Raden Buntaran Martoatmojo

Daftar Anggota PPKI :

(1) Ir. Soekarno,
(2) Drs. Moh. Hatta,
(3) Drs. Radjiman Wediodiningrat,
(4) Ki Bagus Radjiman Hadikoesoemo,
(5) Oto Iskandardinata,
(6) Pangeran Purubojo,
(7) Pangeran Soerjohamidjojo,
(8) Soetardjo Kartohamidjojo,
(9) Prof. Mr. Dr. Soepomo,
(10) Abdul Kadir,
(11) Drs. Yap Tjwan Bing,
(12) Dr. Moh. Amir,
(13) Mr. Abdul Abbas,
(14) Dr. Ratulangi,
(15) Andi Pangeran,
(16) Mr. Latuharhary,
(17) Mr. Pudja,
(18) A. H. Hamidan,
(19) R. P. Soeroso,
(20) Abdul Wachid Hasyim,
(21) Mr. Mohammad Hasan,
(22) Wiranatakusunah,
(23) Ki Hajar Dewantara,
(24) Mr. Kasman Singodimedjo,
(25) Sajuti Melik,
(26) Mr. Iwa Koesoema Soemantri,
(27) Mr. Achmad Soebardjo.

Ada banyak tokoh dengan latar belakang agama dan etnis yang berbeda, tapi mereka bisa duduk bersama, merumuskan arah Indonesia.

Menepis Ego Mendahulukan Kepentingan Bersama

Betapa elok dan indahnya para pendiri bangsa ini memberi tauladan membangun bangsa. Mereka mampu menahan dari ego diri, keangkuhan kelompok dan kepentingan pribadi, yang ada dalam benak mereka adalah membangun Indonesia butuh kebersamaan, bersinergi antar semua kekuatan. Keangkuhan dan kesombongan diri dan kelompok merasa paling benar dan berhak justru merupakan pengingkaran terhadap ke Indonesiaan.

Rumusan Pancasila lahir dari sebuah perdebatan yang cukup tajam, karena mereka mampu melihat jauh kedepan kepentingan teebaik Indonesia, maka pendiri bangsa ini bisa menerima dengan lapang dada rumusan yang dihasilkan.

Membuka Ruang Dialog Untuk Kepentingan Terbaik Indonesia

Rumusan Pancasila yang kita sepakati hari ini merupakan hasil dari sebuah perebatan panjang Pancasila 1 Juni 1945, 22 Juni 1945 Piagam Jakarta dan kemudian 18 Agustus 1945.

Apa itu kepentingan terbaik Indonesia ? Indonesia diproklamasikan jelas jelas disebutkan untuk mencerdaskan dan mensejahterakan rakyatnya. Nah dalam rangka mewujudkan gagasan itu dan mencapainya, tidak bisa dilakukan sendiri sendiri, mengingat keberagaman Indonesia. Sehingga melibatkan dan bersinergi antar semua menjadi keniscayaan.

Membuka Ruang dialog merupakan salah satu kunci kita bisa membangun Indonesia. Duduk bermusyawarah dan melahirkan rumusan demi kepentingan terbaik Indonesia adalah keniscayaan.

Akhirnya saya mencoba merenungkan beberapa sikap kebangsaan kita yang cenderung merasa benar sendiri, memaksakan kehendak, menganggap musuh siapaun yang dianggap beda, tak mampu menghargai perbedaan apalagi menghormati, beginikah sikap pendiri bangsa ? Kalau tidak, sejarah mana yang kita baca dan kita jadikan rujukan ? Tauladan dari siapa yang kita ambil ?

Nah bukankah sikap kita yang katanya paling Pancasila saat ini justru telah menjadikan Pancasila kita menjadi pusat pasi.

Saatnya menjadikan kebudayaan menjadi bahasa komunikasi agar bisa mempersatukan rasa ke Indonesiaan kita.

Semoga bermanfaat !

Assalammualaikum wr wb…. Selamat pagi, selamat berakhir pekan, semoga Allah selalu menjembarkan hati kita agar penuh dengan rasa kasih sayang…aamien.

Surabaya, 13 Mei 2018

M. Isa Ansori

Pengajar psikologi komunikasi dan Anggota Dewan Pendidikan Jatim

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.