“Emas” dalam Dongeng

Catatan : Yanto Musthofa

MEPNews.id —- Dalam kenangan masa lalu saya, beberapa guru di sekolah selalu punya bahan untuk mengatasi kejenuhan belajar murid-muridnya. Bisa dalam bentuk jalan-jalan keliling kampung, “hiking” ke bukit kapur di tepi desa, field trip ke pantai, permainan lari-kejar di halaman sekolah, atau dongeng.

Yang disebut terakhir ini juga menjadi andalan guru ngaji. Terkadang, murid-murid merajuk, “Pak, dongeng, Pak, dongeng.” Tapi tentu saja, tak setiap permintaan mendongeng dituruti.

Salah satu dongeng legendaris yang masih terngiang dalam memori saya adalah tentang seseorang yang bernafsu ingin memiliki banyak emas. Saat datang mengajukan keinginan itu ke “orang pintar”, dia diberi bekal keajaiban. Semua benda yang disentuhnya seketika berubah menjadi emas.

Sungguh girang bukan kepalang orang itu. Semua benda di rumahnya dia sentuh, dan semua berubah menjadi emas. Kursi, meja, lemari, bahkan dinding dan segenap rumahnya berubah menjadi emas.

Namun, kegembiraan itu tak berlangsung lama. Wajahnya tiba-tiba kusut, karena saat hendak memasukkan nasi ke dalam mulutnya, makanan itu pun berubah menjadi emas. Maka, ia bergegas kembali ke orang pintar untuk membatalkan seluruh keajaiban itu.

Di masa kini, banyak orang menginginkan semua informasi yang didapat dari sentuhan jari pada gawai menjadi berita. Internet selalu menyediakan semua informasi yang sesuai dengan keinginan dan nafsunya. Dengan riang gembira, “emas” informasi disebarkannya ke teman, rekan kerja, dan sanak-kerabat.

Bedanya dengan “emas” dalam dongeng, “emas” informasi gawai tak segera menyadarkan orang akan bahaya kebinasaan. Tapi, cepat atau lambat, tersumbatnya akal sehat dan hati nurani oleh nafsu permusuhan serta kebencian dalam “mengemaskan” setiap informasi akan mencelakakan, tidak hanya dirinya sendiri, tapi juga orang lain. ***

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.