Bunda Titik, Mantap Doa dengan Bahasa Hati

Catatan Parenting Umroh (10)

MEPNews.id — Bunda Titik sudah lama pensiun sebagai pegawai Pemprov Jatim. Tapi kesibukannya yang tak berhenti, membuat seolah dia baru bekerja.

Dimanapun ada aktivitas lingkungan, kerukunan antar sahabat, beliau selalu ada. Bahkan, masih terbiasa kesana kemari untuk mengurusi setumpuk pekerjaan.

“Makanya saya awet tua, ” candanya. Bukan awet muda karena sudah tua. Sepuluh tahun terakhir, seperti tidak ada perubahan. Karena energi dirinya ia gunakan untuk hal positif. Penyakit hati seperti mengeluh, malas, terkikis habis sehingga penyakit fisiknya enggan datang menemuinya.

Demikian juga saat Umroh, Bunda Titik menjadi omah dan eyang yang sabar. Bergandengan erat dengan Bunda Neneng dan Mami Eka, tampaknya jarang lepas. Terutama saat beribadah di masjid Nabawi maupun di Masjidil Haram.

IMG-20180513-WA0013

 

“Saya seneng Umroh ini. Guyup, dan dimudahkan Allah. Apalagi dibimbing total dari awal hingga akhir, ” tegasnya.

Bunda Titik juga merasa nikmat beribadah dan dialog dengan Allah, tatkala tidak diwajibkan membaca buku doa saat berdoa meminta sesuatu pada Allah.

“Mantep saya matur ke Gusti Allah dibatin saya dengan doa bahasa ibu. Jawa dan Madura. Sampai saya bisa meneteskan air mata, karena terjadi dialog yang sangat dekat dengan Allah. Saya merasakan doa dengan bahasa hati,” tambahnya.

Selama umroh bersama Wardhana 9 hari, Omah Titik juga diberi kesehatan sama Allah. Sehingga ibadah menjadi sempurna.

“Saya yang tua begini tidak menyangka bisa nembus Raudah yang disesali ribuan orang. Tapi karena dikawal bu Rahmi, dituntun dengan doa yang khusu’, akhirnya Allah izinkan kami bisa masuk.”

Sehat sejak berangkat hingga pulang Umroh adalah kenikmatan yang tak ternilai. Sehingga tidak ada waktu tidak untuk menemukan kebersamaan ibadah dengan jamaah lain.

Meski bagi yang sakit, kalau tujuannya Allah, juga menemukan kenikmatan. Yakni rasa syukur dan intropeksi diri. Karena sehat dan sakit adalah datangnya dari Allah.

Yang sehat tidak boleh bangga sampai lupa bersyukur, dan yang sakit tidak boleh minder atau nelangsa karena itu juga cara Allah agar kita selalu mengingatNya. ***

Catatan : Yusron Aminulloh
Penulis, Master Trainer MEP, penggerak literasi nasional dan sahabat para orangtua.

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.