Apakah Mbah Sariyadi Gugup?

Oleh: Moh. Husen

Mestinya beracara santai dan riang gembira bahagia di hari Minggu, tapi tiba-tiba tersiar kabar bom teroris meledak di Gereja Santa Maria Surabaya. Kita semua turut berbela sungkawa atas peledakan bom ini. Dan berharap segala sesuatunya bisa segera normal kembali, terutama keamanan dari ancaman peledakan bom.

Seseorang yang tak ahli bom dan tak mengerti sama sekali mengenai lalu lalang analisis sebab akibat mengenai teroris dan peledakan bom, dari jauh kota Surabaya, saat mendengar ada peledakan bom di Gereja tersebut langsung berdoa: “Ya Allah lindungilah kami semua dari kejahatan pelaku peledakan bom. Maafkan kebodohan dan keangkuhan kami. Selamatkan kami semua dari kekejaman bom, Ya Allah…”

Mungkin terlihat sangat konyol jika ada peledakan bom, dia malah berdoa. Tapi mungkin memang demikianlah kemampuannya. Dia tidak bisa dibandingkan dengan pendekar-pendekar yang mampu berbicara panjang lebar mencoba menguliti dan memetakan, atau hanya mengira-ngira saja mengenai peledakan bom, serta tidak turun tangan langsung mengurusinya. Dan masih lumayan jika mau berdoa, setidaknya dia masih peduli dengan kondisi bangsanya mengenai Gereja milik saudaranya yang jauh dari tempat tinggalnya.

Kemampuan tercepat kita sekarang ini memang menghina, dan bukannya rendah hati untuk sinau bersama. Kalau dalam dunia sekolah ada kelas unggulan, dimana yang nilainya bagus-bagus dikumpulkan dalam satu kelas unggulan, yang lainnya ditaruh sekenanya di kelas paling belakang, umpamanya yang unggulan kelas 1A, 1B dan seterusnya, apalagi 1Z jika ada, menjadi kelas kumpulan para siswa yang tidak pandai, jadinya malah yang tidak pandai benar-benar tidak bisa bertemu dan belajar kepada yang pandai. Begitu pula sebaliknya, dikiranya yang pandai tidak perlu belajar dan mengerti kepada yang tidak pandai.

So, mungkinkah kita bisa melihat “kelucuan” yang mungkin saja “tidak lucu” andai bisa terjadi sinau bareng antara pelaku peledak bom yang dianggap bodoh dan goblok dengan pihak diluar itu yang dianggap tidak bodoh? Adakah yang sabar dan kuat untuk selalu ngemong dan angon dalam pluralitas tanpa ada sekat “kelas unggulan” sehingga baik yang dianggap unggul dan tidak unggul bisa bertemu dan saling belajar bersama?

Sembari menyaksikan lalu lalang berita bom di Gereja Santa Maria Surabaya, tidak ada salahnya sembari terus update mendengarkan berita tersebut, tak ada salahnya juga jika kita sejenak menikmati kopi reportase singkat hangat dengan merk judul: Apakah Mbah Sariyadi Gugup?

Ternyata Mbah Sariyadi tidak gugup ditulis sebagai Mbah Sariyadi. Dia santai dan ketawa-ketawa saja. Sekitar pukul 8 malam menjemput tamu-tamunya yang datang dari Jombang turun di stasiun kereta api Kalistail, lantas mengantarkannya bersama kawan-kawannya untuk Ngaji Bareng melingkar dengan siapa saja–jika ada korak ya monggo, preman ya monggo, bahkan kalau ada teroris ya monggo, pejabat, kiai, tukang parkir atau siapapun saja monggo–di pondok pesantren Hubburridho Siliragung.

Acara berlangsung dan berjalan dengan lancar. Meskipun sepertinya masyarakat “pemula” disekitar tidak kuat jika harus diajak “begadang” hingga hampir jam 2 dini hari. Pulang Shubuh. Bangun-bangun lihat tv dan sosmed, ramai dibicarakan mengenai peledakan bom di Gereja Santa Maria Surabaya.

Siang hari setelah semalam Ngaji Bareng itu, Mbah Sariyadi dan tamu-tamunya berencana insya Allah mau bersilaturahmi dan bersahabat baik-baik ke Gunung Raung, sebagaimana sabda Nabi: “Sesungguhnya Uhud adalah gunung yang mencintai kami dan kami mencintainya”. Semua gunung pun demikian, cintanya tak pernah kurang. (Banyuwangi, 13 Mei 2018)

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.