Antibiotik Bisa Tingkatkan Risiko Batu Ginjal

MEPNews.id – Jika Anda atau anak Anda mengkonsumsi antibiotik, harap hati-hati. Lakukan sesuai petunjuk pihak-pihak kesehatan yang berwenang. Jika tidak, ada sejumlah risiko negatif. Salah satunya, kemungkinan terjadinya batu di ginjal.

“Dalam penelitian, kami menemukan lima kelas antibiotik yang biasa diresepkan ternyata terkait dengan meningkatnya risiko batu ginjal,” jelas Dr Gregory Tasian, dikutip Alan Mozes di HealthDay News edisi 11 Mei 2018.

Tasian adalah asisten profesor urologi dan epidemiologi di Perelman School of Medicine, University of Pennsylvania, di Amerika Serikat. Ia penulis utama hasil penelitian yang dipublikasikan secara online 10 Mei di Journal of American Society of Nephrology.

Penelitian timnya menunjukkan, peningkatan risiko batu ginjal tampak dalam tiga sampai lima tahun setelah pemakaian. Menurutnya, pasien anak adalah yang paling rentan mengalami kondisi itu. Temuan tim Tasian itu memperkuat beberapa temuan penelitian sebelumnya.

Lima kelas antibiotik terkait dengan risiko batu ginjal andalah sulfa (Bactrim, Gantanol); cephalosporin (Keflex); fluoroquinolone (Cipro); nitrofurantoin/methenamine (Macrobid, Hiprex); dan penisilin spektrum luas. Tujuh kelas antibiotik oral lainnya tidak teramati menunjukkan risiko batu ginjal.

Tasian mengingatkan, ini tidak berarti orang harus menghindari antibiotik ketika benar-benar perlu. “Antibiotik telah menyelamatkan jutaan nyawa. Antibiotik diperlukan untuk mencegah kematian dan bahaya serius infeksi. Manfaatnya lebih besar daripada potensi bahayanya. Namun, penggunaan antibiotik harus tepat dan bijaksana. Kurangi penggunaan antibiotik yang tidak tepat.”

Dr. Maria DeVita, direktur program nefrologi di RS Lenox Hill di New York City, yang tidak terlibat penelitian itu, sependapat bahwa penggunaan tepat adalah tindakan penyeimbang. “Penelitian itu menjadi pengingat bahwa dokter harus memperhatikan efek merugikan dari antibiotik, dan perlu meningkatkan pelayanan antibiotik yang tepat.”

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases di Amerika Serikat mengungkapkan, batu ginjal bisa muncul setelah penumpukan mineral di urine pasien. Dalam beberapa kasus, kerikil kecil padat itu melewati saluran kemih tanpa gejala. Dalam kasus lain, saluran kencing bisa berdarah diiringi rasa sakit tajam di punggung, pinggang, perut bagian bawah atau selangkangan.

Tasian mencatat, insiden batu ginjal melonjak 70 persen dalam tiga dekade terakhir, sebagian besar dialami anak-anak dan remaja. Para ahli belum bisa menjelaskan mengapa itu terjadi. Tapi, beberapa penelitian menduga ada gangguan dalam susunan bakteri (microbiome) di saluran usus dan saluran kencing yang sering dipicu antibiotik. Pada saat yang sama, antibiotik semakin umum diresepkan. Pada 2011 saja, para dokter Amerika menetapkan 262 juta program antibiotik, dengan wanita dan anak-anak sebagai penerima terbesar.

Berdasarkan itu, tim peneliti Tasian menggunakan data perawatan kesehatan di Inggris untuk mengisolasi kasus batu ginjal di antara jutaan pasien yang dirawat 641 praktisi kesehatan antara 1994 – 2015. Hasilnya, sekitar 26.000 pasien batu ginjal teridentifikasi. Tim kemudian memeriksa apakah para penderita batu ginjal ini pernah diresepkan salah satu dari 12 kelas berbeda antibiotik oral dalam tiga sampai 12 bulan terakhir. Rentang waktu panjang ini dipilih karena batu ginjal butuh waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan untuk terbentuk. Risiko terbesar pembentukan batu ginjal ada dalam tiga sampai enam bulan setelah rejimen antibiotik, lalu menurun selama tiga sampai lima tahun berikutnya.

Secara khusus antibiotik sulfa, cephalosporin, fluoroquinolon, nitrofurantoin/methenamine, dan penisilin spektrum luas bisa meningkatkan risiko 1,3 hingga 2,3 kali lebih besar untuk batu ginjal. Namun penelitian itu tidak membuktikan bahwa obat-obat ini secara langsung menyebabkan batu ginjal.

“Untuk lima kelas antibiotik itu, risiko terbesar ditemukan pada pasien lebih muda,” kata Tasian. “Namun, peningkatan risiko juga signifikan di semua usia, termasuk manula. Khusus penisilin spektrum luas tidak terkait dengan peningkatan risiko batu ginjal pasien di atas 75 tahun.”

Baca juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.