Nikmatnya Menyruput Sumsum Kaledo

MEPNews.id – Kalau sedang jalan-jalan ke Sulawesi Tengah, yang enak tentu jalan-jalan menyusuri pantai Teluk Palu. Kalau sudah puas jalan-jalan, tinggal cari makanan khas setempat. Nah, untuk makanan khas, rasanya tidak salah kalau menikmati kaledo.

Ada yang menyebut, kaledo singkatan dari ‘kaki lembu Donggala’. Ya, antara Donggala dan Palu jaraknya 72 kilometer, dan makanan khas ini jadi milik bersama. Orang Kaili penduduk Palu menyebut ‘ka’ berarti ‘keras’ dan ‘ledo’ berarti ‘tidak’ sehingga ‘kaledo’ diartikan ‘tidak keras’.

Keras dalam makanan kaledo ini terwakili dari tulang yang disajikan. Tulang dalam mangkok ini umumnya disajikan berdampingan dengan singkong rebus di atas piring. Tulangnya itu biasanya dari lutut yang penuh sumsum. Namun sekarang banyak juga yang dari tulang iga atau tulang belakang.

Penampilan sekilas kaledo mirip sop buntut. Kuahnya bening kekuningan dengan tebaran lemak di sana-sini. Tapi, jangan khawatir, kuahnya mengandung jahe dan serai serta kaya asam jawa muda. Kandungan asam ini diyakini bisa meluruhkan lemak jahat saat ada dalam perut dan darah kita. Jika kurang asam, bisa ditambah irisan jeruk nipis.

Konon, masakan dengan bahan dasar daging dan tulang kaki sapi ini dapat mencegah anemia, meningkatkan sel darah merah, dan meningkatkan kesehatan kulit. Tentu saja, asal makannya jangan berlebihan.

Saat kaledo disajikan, jangan heran jika peralatannya juga banyak. Ada sendok, garpu, pisau sumpit, hingga plastik sedotan. Sendok dan garpu tentu saja jadi standar makan. Pisau untuk memotong daging jika seratnya terlalu panjang. Sumpit untuk mengorek sumsum dalam tulang. Sedotannya untuk menghisap sumsum.

Nah, tampaknya puncak kenikmatan kaledo adalah saat menyruput sumsum lewat sedotan ini. Setelah mencicipi kuah yang terasa asam, setelah mengunyah daging yang gurih, maka tiba saatnya menikmati sumsum. Rasanya, menggelegar.

Dulu, kaledo mucul seiring lebaran. Kini, di kota Palu, sudah bertebaran warung, depot, dan rumah makan kaledo. Saking populernya, kaledo disebut makanan khas kota Palu. Di pusat-pusat keramaian di kota atau di pantai selalu ada warung kaledo.

Oh, ya. Kalau kurang mantap dengan singkong, silakan saja minta nasi. Penduduk setempat memang terbiasa makan kaledo dengan singkong. Namun, seiring meningkatnya wisatawan dan pendatang, nasi juga disediakan. Kalau pas Idul Fitri atau Idul Adha, biasanya disajikan juga burasa (beras ditambah santan dibungkus daun pisang lalu direbus).

Mantap…!

Facebook Comments

POST A COMMENT.