Mempertuhankan Ketidaktahuan

Catatan Oase :

MEPNews.id —- Mengapa orang perlu belajar ? Belajar adalah jalan untuk membuat apa yang kita ucapkan, kita lakukan menjadi sesuatu yang mencerahkan. Belajar itu berasal dari sebuah peristiwa kita tidak tahu, ingin tahu dan kemudian mencari tahu. Dalam proses mencari tahu, seharusnya suasana batin dibentuk siap menerima apapun pemberitahuan tanpa harus mencaci apalagi menghakimi. Suasana batin yang tergesa gesa mengahkimi tanpa ada ilmu yang memadahi justru itu aka menjadi jalan kita memelihara kebebalan dan kebodohan.

Bukankah dalam hidup dan kehidupan, kadang kita jumpai orang senang menghakimi dan mencaci, padahal pengetahuan tentang sesuatu yang dia caci tidak memadahi apalagi dipunyai.

Suatu saat saya pernah berada dalam sebuah ruang diskusi, tema yang dibahas tentang sebuah kebersamaan dan berkomitmen. Nah sayangnya ketika bediskusi dengan tema itu, sebagian peserta berdiskusi dengan suasana saling menyalahkan, memojokkan tanpa pengetahuan yang memadahi. Kadangpun disuarakan dengan suara, intonasi dan pilihan kata yang jauh dari makna tema. Sehingga diskusi menjadi debat kusir, karena pengetahuan yang dimiliki memang tidak ada, yang ada pengalaman pengalaman pribadi yang kemudian dipersepsi dan dipercaya sebagai kebenaran.

Ketika persepsi persepsi dan ketidaktahuan dipaksakan untuk dibenarkan, maka yang terjadi adalah suasana kegelapan akal dan kekuatan pemuasan diri menjadi pilihan, ego dan superego tak lagi menjadi rujukan, maka saat itu kita sedang mempertuhankan ketidaktahuan yang kita miliki.

Mengapa Suasana Seperti Itu Bisa Terjadi ?

Dalam tradisi nalar akademis, setiap orang pasti mempunyai pengalaman pengalaman hidup. Pengalaman pengalaman itu setidaknya akan menjadi sebuah ” pengetahuan “. Pengetahuan yang kita ketahui, kadang mempengaruhi keseluruhan pandangan kita. Padahal apa yang kita ketahui hanya sebagian kecil.tapi yang sebagian kecil itulah yang kita paksakan kepada orang lain, sehingg menimbulkan kegaduhan dan kegelapan dalam berpikir dan bertindak.

Sebagai contoh, kalau ada orang dengan karakter yang sama, misalnya sama sama baik, peduli, respect , sopan, tapi yang satunya hangat dan yang satunya dingin, maka penilaian kita pasti akan fokus pada perbedaan yang ada. Sehingga apa saja yang baik pada diri seseorang, akan hilang begitu saja dan fikiran kita akan fokus pada hal yang tidak kita sepakati.

Kekuatan fokus yang kadang menjuruskan kita pada kekuatan melihat hal yang berbeda, kadang mengaburkan kita dalam menilai orang lain, dan biasanya cenderung akan menjadi keliru. Fokus pada satu hal dan melupakan hal baik lainnya, dikuatirkan akan memandu kita menuju situasi ” keangkuhan ” kegelapan rasa dan kegelapan pikir. Dan inilah yang sering disebut dengan semangat mempertahankan kebodohan.

Menguatkan Kemampuan Memahami Orang Lain

Memahami orang lain sejatinya adalah sesuatu yang muda untuk dilakukan. Tapi kadang terasa sangat sulit bagi seseorang. Mengapa ? Ibarat gelas kalau kita selalu merasakan penuh isinya, maka hal hal lain yang akan masuk pasti akan tumpah. Begitu juga pada diri manusia, kalau ada perasaan bahwa apa yan dia pahami dan ketahui dianggap sebagai sesuatu yang benar, meski yang diketahui hanya sedikit, maka saat itu kita memposisikan diri pada kemampuan tidak menerima pemahaman dari orang lain.

Ketidakmampuan seperti itu kadang juga berdampak pada perilaku. Orang akan cenderung menyatakan yang lain salah, yang lain tidak bertanggung jawab, mengeluarkan kata kata yang tak mendidik dan selalu dipenuhi oleh kebencian dan kegaduhan jiwa.

Melatih diri dengan kecerdasan memahami orang lain adalah hal penting. Memahami orang lain itu bisa dilakukan sebagiamna kita berusaha memahami diri kita. Apa yang kita sukai dan apa yang tidak kita sukai bila dilakukan orang lain terhadap kita, kalau kita terapkan dalam diri kita dalam memperlakukan orang lain.

” Kalau tidak ingin disakiti orang, maka jangan memyakiti orang “, begitulah kira kira gambarannya.

” Janganlah mempertuhankan hawa nafsu, sesungguhnya hawa nafsu kadang membawa kepada kehancura ”

Assalammualaiku wr wb….selamat beraktifitas, semoga Allah memberkahi..aamien.

Surabaya, 12 Mei 2018

M. Isa Ansori

Anggota Dewan Pendidikan dan Pengajar Psikologi Komunikasi

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.