Mbah Sariyadi

Oleh: Moh. Husen

MEPNews.id —- Hari Sabtu, Minggu, hingga Senin 14 Mei 2018, Mbah Sariyadi bakal sibuk dengan kedatangan tamu-tamu dari jauh, yakni dari Jombang, Surabaya, dan Lumajang. Juga ada tamu dari Semarang, tapi ditangani oleh seseorang yang lainnya lagi. Tamu jauh dari tiga kota itu akan turun di stasiun kereta api Kalistail, lantas on the way ke pondok pesantren Hubburridho Siliragung, sebuah wilayah selatan kabupaten Banyuwangi.

Untuk tamu yang dari Lumajang akan datang agak awal, sekitar jam 11 siang, kemudian diajak jagongan ngopi-ngopi di pasar Gendoh, lantas sorenya mungkin jagongan disebuah basecamp di Genteng, kemudian sekitar jam 9 malam bareng-bareng menjemput tamu yang dari Jombang dan Surabaya, yang akan tiba di stasiun Kalistail, dan tancap ke Siliragung.

Tamu-tamu tersebut diundang ponpes Hubburridho dalam rangka Ngaji Bareng Tasyakuran Khataman Kitab Ihya’ Ulumuddin dan Tafsir Jalalain. Mbah Sariyadi dan kawan-kawannya akan siap mengawal tamu-tamu itu hingga selesai acara.

Mbah Sariyadi ini sosok yang ramah dan renyah bila ada kawan yang datang jagongan kepadanya. Enak diajak ngomong dan guyon-guyon yang lucu-lucu hingga tertawa terpingkal-pingkal. Mbah Sariyadi juga kutu buku. Dia punya pasar di Gendoh dan sandingannya selain kopi bubuk yang nikmat, juga ada buku-buku yang tergolong lumayan berat-berat dan berkelas.

Bila disebutkan ada buku-buku berbobot dan berkelas, mohon jangan terlalu serius untuk kemudian dibantah: “Lebih berbobot dan lebih berkelas mana dengan Al-Quran sehingga sekarang kita tak lagi bergetar dengan Al-Quran, bahkan memandangnya pun biasa-biasa saja dan remeh-remeh saja, apalagi membukanya, tak ada rasa penasaran lagi terhadapnya. Buka saja, bergetar tidak?!”

Mohonlah jangan terlalu serius seperti itu. Nanti bisa pusing lagi kepala ini kalau ada yang bertanding argumentasi bahwa disamping ada ayat qauliyah yakni Al-Quran, juga jangan lupa ada ayat kauniyah, yakni alam semesta beserta isinya. Ada firman Allah yang tersurat melalui Al-Quran. Juga ada firman Allah yang tersirat yakni seluruh jagat alam raya ini, baik yang nampak maupun yang tidak nampak, termasuk alamnya kaum bangsa Jin dan sebangsanya yang ghaib-ghaib, sehingga menjadi gawatlah kalau membaca firman Allah yang tak hanya Quran ini kemudian dijadikan alasan untuk meninggalkan Quran bahkan mungkin untuk mengingkari Quran sebagai karangan Nabi Muhammad belaka.

Beruntunglah menurut kawannya Mbah Sariyadi yang menulis Mbah Sariyadi ini, bahwa di daerah kita masih selalu senantiasa ada turun temurun dari generasi ke generasi hingga sekarang, yakni tradisi baca Quran sungguh pun hanya surat Yasin, sungguh pun seminggu sekali, tapi rasa-rasanya sudah membuat Allah jatuh cinta dan senantiasa meredam murka-Nya, terlebih lagi tatkala nama kekasih-Nya, Muhammad shollallahu alaihi wasallam, disebut-sebut, meleleh penuh cintalah Allah kepada kita semua.

“Kita ini tiba-tiba nyelonong ngomongin Al-Quran mungkin terkena vibrasi hawanya bulan Ramadhan yang akan datang sesaat lagi,” kata kawannya Mbah Sariyadi yang menulis Mbah Sariyadi ini, tapi entah ngomong kepada siapa.

Akhirul kalam dan singkatnya kata, kepada Mbah Sariyadi dan semua kawan-kawan penggiat acara Ngaji Bareng, semoga diberi kelancaran dan kemudahan. Mohon maaf khususnya kepada Mbah Sariyadi dari yang menulis Mbah Sariyadi ini karena dalam minggu-minggu terakhir ini ia rajin ngerepoti ngopi gratisan di tempat Mbah Sariyadi. Semoga Mbah Sariyadi senantiasa tabah jika direpoti dengan segelas kopi terus menerus. (Banyuwangi, 12 Mei 2018)

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.