Local Basic Development

Local Basic Development
(Pembangunan Berbasis Lokal)

Oleh; M. Yazid Mar’i

MEPNews.id —Sebagai salah satu kabupaten penghasil minyak terbesar di Jawa Timur, ternyata belum mampu membuat Kabupaten Bojonegoro keluar dari kemiskinan.

Dari total jumlah penduduk Bojonegoro yang mencapai sekitar 1,2 juta 16,6% adalah penduduk miskin. Atau dalam kata lain terdapat kurang lebih 204 ribu penduduk miskin di Kabupaten Bojonegoro.

Hal ini tentu cukup memprihatinkan, karena berada di atas rata-rata penduduk miskin di seluruh Provinsi Jawa Timur sebesar 13%. Berdasarkan data-data di atas dapat disimpulkan bahwa dari total 4,9 juta penduduk miskin di Provinsi Jawa Timur 4 persennya berada di Kabupaten Bojonegoro yang realitasnya sebagian besar berada di daerah pedesaan tepian hutan.

Sungguh ini tidak akan terjadi bilamana konsep pembangunan Bojonegoro lebih di arahkan pada pembangunan berbasis local (Local Basic Development) secara menyeluruh dengan bentuk butom up. Dalam arti lain pembangunan di Bojonegoro seharusnya sebanyak mungkin memperhatikan potensi masing-masing desa/kecamatan dan dengan sebesar mungkin melibatkan masarakat untuk membangun desa/kecamatannya.
Inilah yang mesti harus dilakukan oleh kepala-kepala dinas dalam menerjemahkan konsep pembangunanya, melalui sebuah rencana strategis yang disusun secara sistematis, realistis dan sinergis. Ada peta desa/kecamatan yang menggambarkan potensi dan keunggulan yang bersifat menyeluruh, mulai dari potensi alam, potensi masyarakat, potensi budaya, potensi adat istiadat.

Dan dari potensi itu, kemudian dirumuskan pula upaya pengembangannya, sekaligus mencari sisi kelemahan untuk kemudian dijadikan sebagai solusi pemecahan terhadap berbagai persoalan kemiskinan di masing-masing desa, mengidentifikasi bentuk kemiskinan, apakah cultural atau structural? Ini menjadi penting, untuk menentukan langkah serta upaya mengatasinya.
Sebagai contoh realitas kemiskinan di Desa Sekar, bentuk kemiskinan seperti apa, lalu potensi dan keunggulan yang dimiliki apa, serta sejauhmana peluang untuk mengembangkan potensi yang ada, kemudian siapa yang dilibatkan, seperti apa pelibatannya.

Contoh lain ketika terjadi pembangunan sarana transportasi jalan, tentu perlu memperhatikan bagaimana kelas jalan, bentuknya hingga kepada potensi dan multi efek ekonomi apa ketika pembangunan sarana transsportasi, khususnya jalan itu dilakukan?

Semisal ketika jalan itu jenis jalan beton, tentu harus ada pengkajian, bagaimana struktur tanah, darimana bahan-bahan seperti pasir, koral di dapat? Jika bahan itu bisa didapat di Bojonegoro, tentu pemerintah daerah harus memberikan peluang bagi pengusaha pasir, koral Bojonegoro.

Jika dikhawatirkan dapat menimbulkan keruskan alam dan lingkungan, tentu bisa mengajak para pengusaha sebagai mitra pemerintah untuk tetap menjaga alam dan lingkungan Bojonegoro melalui berbagai program, dengan mensinkronkan renstra di masing-masing dinas yang ada, bukan sebaliknya menutup dan atau melaranng pengusaha sendiri, dan membiarkan bahan-bahan baku itu masuk di Bojonegoro, dengan tanpa reserfe atau tanpa memberikan masukan berarti bagi Bojonegoro juga bagi peningkatan APBD Bojonegroro, sebuah ironi yang mestinya tidak harus terjadi.

Karena dengan memanfaatkan semaksimal mungkin para pengusaha daerah, tentu secara langsung akan mampu membuka peluang-peluang kerja bagi warga Bojonegoro. ***

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.