Taruhan Mental di Era Digital

agus harionoOleh: Agus Hariono

MEPNews.id – Munculnya zaman baru yang bernama ‘era digital’ telah membawa banyak sekali dampak pada kehidupan sosial manusia. Di satu sisi, munculnya era ini membawa dampak positif, antara lain begitu mudahnya dan cepatnya mengakses informasi, mudahnya dan praktisnya berkomunikasi—bahkan sama sekali tidak mengenal jarak—, mudahnya melakukan jual beli, mudahnya mencari sumber pembelajaran, meningkatnya inovasi pendidikan, dan masih banyak lagi yang bisa membantu kehidupan manusia. Sedang di sisi lain, tidak sedikit dampak negatif yang dibawa era digital ini.

Melalui berita di media elektronik maupun on line (daring), kita bisa melihat berbagai macam kasus yang terjadi. Mulai dari kasus penculikan, asusila, perselingkuhan yang mengakibatkan perceraian dan bahkan pembunuhan, pertikaian antar kelompok, bunuh diri dan masih banyak lagi.

Di era ini, media sosial seolah menjadi ‘surga dunia baru’ bagi sebagian orang. Dianggap surga, karena mereka bisa melakukan apa saja sesuai kehendak mereka. Mereka bisa mendapatkan apa saja sesuai keinginan. Itulah surga bagi mereka, sekaligus menjadi tantangan yang tidak mudah bagi kebanyakan orang yang di era digital.

Era digital, terlebih produknya berupa media sosial, telah menawarkan berbagai kemudahan dan kenikmatan bagi siapa saja yang menggunakannya. Kita sering menjumpai polah tingkah orang tua yang tidak ada bedanya dengan anaknya. Mulai dari cara berfoto, berselfie, hingga bercakap di media sosial. Sulit membedakan mana polah tingkah anak, mana polah tingkah orang tua.

Di kampung saya pernah terjadi kasus perceraian akibat dari kurang bijaknya menggunakan media sosial. Salah satu di antara pasangan terjerumus dan hanyut dalam kenikmatan bermedia sosial. Ia berkenalan dengan seseorang. Awalnya hanya say hello, lama-kelamaan jadi sangat dekat. Ia asyik-masyuk bercakap hingga perilakunya, sikapnya dan gaya hidupnya berubah. Gerak-geriknya menjadi aneh. Akhirnya, pasangan curiga dan mengintrogasi. Terjadi pertikaian hebat antara suami dan istri hingga seluruh tetangga bahkan sekampung jadi tahu. Permasalahan tidak bisa diselesaikan lewat mulut, dan berakhir dengan perceraian. Malu, sakit, dihina, dicaci, merasa berdosa; itu lah akibat yang harus ditanggung.

Memang media sosial sering membuat penggunanya menjadi terbuai. Apalagi saat mereka melihat foto DP lawan jenis yang kelihatan bening, rasanya ingin chat dengan kontak itu. Godaannya besar dan kuat. Nah, di sini lah kita bertaruh mental. Kita ingin menjadi pengguna media sosial yang bijak atau justru menjadi budak media sosial.

Media sosial ibarat sebilah pisau yang sangat tajam. Akan bermanfaat dan berguna manakala yang memegang adalah orang yang bijak dan bermental kuat. Sebaliknya, akan merugikan dan menjerumuskan apabila yang menggunakan bukan orang bijak dan mentalnya lemah. Orang yang baik bisa menjadi buruk lantaran tidak kuat godaan media sosial; apalagi orang yang buruk. Oleh karena itu, membentengi diri dari serbuan dan rayuan media sosial menjadi sangat penting.

Untuk mengatasi masalah seperti tetangga saya di atas, bagi orang yang sudah menikah, tentu sikap terbuka terhadap pasangan menjadi cara mutlak untuk dilakukan. Tidak ada maksud lain, karena tujuannya adalah melindungi kelangsungan rumah tangga. Semua menyadari, bahwa masing-masing berpotensi untuk melakukan penyimpangan. Sehingga, selain jalan religiusitas, keterbukaan terhadap pasangan adalah kunci membentengi keluarga dari gempuran godaan media sosial.

Wallahu a’lam!

Facebook Comments

POST A COMMENT.