Ibu dan 2 Anaknya yang Ingin…

agus harionoOleh: Agus Hariono

MEPNews.id – Ketika perjalanan menuju ke Malang, saya terhenti oleh riuhnya orang yang memenuhi jalan. Tampak mereka sedang memaksa seorang ibu dan kedua anaknya. Ada apa?

Awalnya, dari kejauhan, saya melihat seorang wanita di tengah jalan. Saya pikir ia hendak menyeberangkan kedua anaknya. Tapi, saya perhatikan, anaknya mau ke pinggir tapi kok malah ditariknya lagi ke tengah jalan. Seolah-olah, terjadi tarik-menarik antara ibu dan kedua anaknya. Saya sedikit cemas ketika terjadi adegan tarik-menarik itu. Di kiri dan kanan mereka, kendaraan mulai banyak berlalu-lalang dan sebagian dengan kecepatan tinggi.

Semakin dekat, saya melihat beberapa kendaraan di depan saya berhenti sehingga menghentikan semua kendaraan yang hendak melintas termasuk saya. Kemudian satu persatu orang keluar mendekati ibu dan kedua anaknya itu. Awalnya saya tidak memperhatikan sang ibu, karena yang memikat perhatian saya adalah dua anak yang mau lari tapi ditarik ibunya. Eh, setelah saya tengok ibunya, ternyata ia sedang menangis.

Sang ibu menangis sambil memegangi kedua anak-anaknya dengan erat. Tampak, ia dibujuk berapa orang untuk menepi karena mengganggu lalu lintas. Namun, upaya beberapa orang tersebut sia-sia. Ibu dan kedua anaknya tersebut tetap bersikukuh berdiri di tengah jalan. Melihat jalanan semakin padat dan warga semakin banyak berdatangan, akhirnya beberapa orang memaksa sang ibu dan kedua anaknya menepi dengan cara menyeret beramai-ramai.

Saya penasaran dengan kejadian tersebut; ada apa sebenarnya hingga sang ibu nekad berdiri di tengah jalan yang ramai kendaraan. Setelah beberapa saat ibu tersebut ditepikan oleh beberapa orang, kemudian ada yang mengabarkan sang ibu hendak bunuh diri bersama kedua anaknya. Hemmmm… Saya mengelus dada. Ternyata kejadian demikian tidak hanya kabar di televisi maupun media daring yang kejadiannya bisa jadi nun jauh di sana. Ini juga terjadi di dekat saya, bahkan di depan mata saya.

Sungguh miris jika ada orang hendak bunuh diri; apalagi seorang ibu yang mengajak kedua anaknya untuk mati bukan pada waktunya. Meski saya tidak tahu persis apa alasan sang ibu hendak mengakhiri nyawanya, tapi tindakan demikian sungguh tidak bisa dibenarkan. Dari sisi mana pun, tidak ada pembelaan yang bisa membenarkan tindakan bunuh diri. Apalagi bunuh diri dengan mengajak kedua anak yang belum tahu dan mengerti apa-apa.

Jika pun punya masalah besar, tentu penyelesaiannya tidak dengan cara demikian. Menghilangkan nyawa adalah tindakan melanggar hukum Tuhan. Masih ada cara-cara yang lebih arif tanpa harus menghilangkan nyawa.

Meski kasus di atas belum sampai kejadian hilangnya nyawa, tapi beberapa waktu lalu pernah terjadi kasus yang hampir serupa. Ibu bunuh diri bersama anaknya dengan meminum racun serangga. Juga ada kasus bunuh diri sekeluarga.

Masalah apa pun pasti ada jalan keluarnya. Tidak ada masalah yang tanpa ada solusinya. Tentu, jika ada masalah, harus diupayakan untuk dikomunikasikan dengan pihak lain agar ditemukan solusi. Jangan malah menutup diri dan memendam masalah sendirian. Silakan berbagi dengan yang siapa saja sepanjang bisa dipercayai. Dengan sharing pada orang lain, setidaknya tindakan-tindakan fatalistik dengan cara menghilangkan nyawa bisa dihindarkan.

Tentu saja tidak selalu mudah memecahkan masalah. Namun, tidak pula sulit bagi orang yang benar-benar mau mencari solusi untuk hidupnya. Tidak ada yang sulit bagi orang yang benar-benar masih memiliki semangat untuk hidup, semangat untuk memperbaiki diri, dan semangat untuk menjaga nyawanya.

Bagi Muslim, tentu tahu lima hal yang perlu dijaga; agama, nyawa, akal, keturunan dan harta. Nyawa adalah salah satu amanat dari Tuhan yang wajib dijaga. Berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, melakukan pembunuhan tanpa alasan yang benar adalah terlarang.

Dalam Al-Furqân: 68, tersebutkan, “Di antara sifat hamba-hamba Allah Yang Maha Penyayang yaitu tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), kecuali dengan (alasan) yang benar.” Yang disebut dengan al-haq (kebenaran) adalah harus dengan dalil dan bukti. Jika tidak, berarti melakukan pembunuhan tanpa alasan yang benar.

Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari, Nabi berucap, “Barangsiapa yang menjatuhkan dirinya dari gunung lalu dia membunuh dirinya (mati), maka dia akan berada dalam Neraka Jahannam dalam keadaan melemparkan diri selama-lamanya.”

Dasar-dasar di atas bisa sebagai bantahan bagi orang yang suka berkata, “Saya bebas melakukan apa saja atas diri saya.” Kata-kata tersebut adalah perkataan yang keliru dan tidak dibenarkan.

Bagi orang yang sedang tertimpa musibah atau masalah, hendaklah dia mengucapkan, “Innalillahi wa inna ilaihi roji’un” sebagaimana dibimbingkan dalam al-Qur’an, Al-Baqarah: 156. Orang tidak boleh semena-mena terhadap dirinya, tidak boleh menyengaja melukai tangan sendiri lalu berkata “Ini tangan saya. Saya bebas melakukan apa saja terhadapnya.” Apalagi sampai mengatakan, “Ini adalah jiwa saya. Saya ingin membunuh diri atau menjatuhkan diri dari gunung, atau menenggak racun.” Semua ini tidak boleh, karena termasuk berbuat sewenang-wenang atas sesuatu yang bukan miliknya.

Semoga kita dijauhkan dari perbuatan sewenang-wenang terhadap yang bukan milik kita. Semoga kita tetap dalam lindungan dan petunjuk-Nya, diberi kekuatan agar bisa menyelesaikan setiap persoalan hidup, dan dijauhkan dari kelemahan untuk menyelesaikan masalah atau musibah. Aamiin.

Wallahu a’alam!

 

Facebook Comments

POST A COMMENT.