Isi Tidak Sebagaimana Covernya

agus harionoOleh: Agus Hariono

MEPNews.id – Beberapa saat lalu, saya naik bus. Biasanya, saya berkendara sendiri hampir setiap hari rute Malang-Kediri di Jawa Timur. Pada hari itu, saya putuskan naik bus. Itung-itung, menghemat tenaga. Kalau kebetulan ketemu bus yang tidak ‘ngentolan’, bisa hemat rupiah juga. Oke, cukup! Saya tidak bercerita tentang bus, tapi tentang kejadian yang saya lihat dan amati selama perjalanan Kediri-Malang.

Sekarang, untuk pergi ke Malang naik bus tidak perlu menunggu lama. Kini, tidak hanya bus Puspa Indah yang bisa mengangkut dari Kediri ke Malang, namun juga ada bus Bagong. Dengar-dengar, bus Puspa Indah sudah diakuisisi PO Bagong. Tapi, ya sudahlah, cukup di sini pembahasan tentang bus.

Sekitar lima menit dari saya menunggu, tiba-tiba dari arah barat muncul bus putih dengan bodi mirip Bagong. Gendut. Eh, sinkron antara nama dan bodi. Bagong yang gendut. Singkatnya, saya langsung naik dan kebagian tempat duduk paling belakang. Tentu saja, medan perjalanan menuju Malang via Kandangan tidak enak kalau dilihat dari tempat duduk paling belakang. Namun, apa daya, memang saya kebagian duduk di situ. Tidak mungkin saya menggusur penumpang yang lebih dulu naik daripada saya. Lagian, siapa saya koq main gusur seenaknya?

Akhirnya, saya nikmati saja guncangan dan goyangan bus kiri kanan yang kadang disertai loncatan. Meski begitu, saya tetap menikmati ketimbang jika berkendara sendiri. Jika berkendara sendiri, saya harus konsentrasi penuh pada medan nanjak dan berliku, kadang harus tegang ketika hendak mendahului kendaraan lain di jalan berkelok. Dengan menjadi penumpang bus, saya tinggal duduk dan menerima begitu saja kendali sopir terhadap bus yang saya tumpangi.

Kira-kira perjalanan sepuluh menit, ada seorang ibu yang usianya sekitar enam puluhan. Tapi, fisiknya tampak masih sehat dan lincah. Belum lagi suaranya ternyata masih, meniru Syahrini, ‘cetar-cetar membahana’. Saya bisa mendengar jelas karena ibu itu duduk tepat di samping saya.

Awal saya agak risih dengan ibu tersebut karena pakaiannya lusuh dan bawa tas yang juga lusuh. Tapi, saya pura-pura nyaman, meski tidak ngobrol dengannya. Sepanjang perjalanan, saya memang sama sekali tidak ngobrol dengannya.

Lima menit setelah dia naik, ada anak muda yang naik. Kemudian ibu itu memanggil pemuda itu untuk duduk di sampingnya. Mulailah mereka berdua ngobrol. Diawali saling sapa karena mungkin jarang bersua, hingga ngobrol masalah pekerjaan dan bahkan perjanjian kerja. Awalnya saya agak risih karena mereka mengganggu konsentrasi saya ketika membaca buku. Tapi, lama kelamaan kok cerita mereka semakin menarik. Akhirnya, buku saya tutup dan masukan ke dalam tas dan saya menyimak percakapan mereka dengan pura-pura melihat ke arah luar.

Yang membuat saya tertarik adalah, ternyata ibu yang awalnya saya pandang sebelah mata itu ternyata wanita hebat. Ia bukan hanya pedagang di pasar, tapi juga pemilik warung besar di Malang. Ia memiliki beberapa karyawan di warungnya. Bahkan, selama perjalanan itu, saya memperhatikan barusan ia merekrut tiga karyawan baru melalui pemuda yang duduk di sampingnya.

Tidak hanya itu, ia juga bercerita baru saja menolong tetangganya yang tinggal di bantaran sungai dengan membuatkan rumah bersama tetangga yang lain. Ibu yang berpenampilan lusuh tersebut juga tidak luput terhadap pendidikan putra-putrinya. Semua putra-putrinya ia sekolahkan hingga sarjana. Salah seorang anaknya sedang studi S-3 di luar negeri atas bantuan pemerintah dan sponsor. Tentu semua itu didapatkan karena prestasi. Ia juga mengangkat beberapa anak, kemudian ia sekolahkan dan ia arahkan agar bisa mendapatkan pekerjaan layak. Ada pula sebagian anak angkat yang memilih membantu ibu tersebut jualan di warung.

Entah benar atau tidak apa yang diceritakan ibu tersebut. Jika benar, pertama-tama saya patut memberikan apresiasi setinggi-tingginya. Begitu dermawannya ia pada orang lain dan tidak luput pula perhatiannya terhadap pentingnya pendidikan pada generasi penerusnya, bahkan kepada orang lain. Kedua, saya salut, karena meski sudah banyak yang bisa ia hasilkan dan perbuat kepada banyak orang, tapi ia tetap menampilkan sosok yang sederhana. Kesannya tidak diperhitungkan orang, apalagi kalau hanya sekilas melihatnya.

Memang kejadian dalam hidup ini tidak semua nampak. Ada yang memang kita harus menggalinya untuk bisa mendapatkan bentuk yang sebenarnya. Ada tampilan yang kadang bagus luarnya, ternyata dalamnya tidak. Begitu juga sebaliknya. Luarnya biasa-biasa saja, tapi dalamnya bagaikan mutiara.

Semuanya mungkin terjadi dan ada di muka bumi ini. Oleh karenanya, tidak bisa orang mengambil kesimpulan kepada orang lain yang belum diketahui secara mendalam. Tidak semua yang kita lihat adalah benar adanya.

Wallahu a’lam!

Facebook Comments

POST A COMMENT.