Cegukan; Entah Penyebabnya, Ini Penangkalnya

MEPNews.id – Semua orang pernah cegukan. Untuk bebas dari cegukan, umumnya orang mendapatkan ‘obat’ dari keluarga sendiri. Ada yang menyarankan minum sekenyang-kenyangnya, menarik nafas lalu ditahan selama mungkin, bahkan dengan menakut-nakuti atau mengageti korban. Sebagian ampuh, sebagian lagi tidak.

Mengapa demikian? Seperti dikabarkan Kevin Loria di Business Insider edisi 7 Mei 2018, sejauh ini tidak ada pengobatan cegukan yang berbasis ilmu pengetahuan.

“Kita belum sepenuhnya mengerti mengapa cegukan datang dan kemudian pergi. Tetapi, apa pun yang memiliki kualitas mengganggu, nantinya akan menjadi pengalaman positif. Apa lagi jika itu memberi beberapa bentuk stimulasi pengembangan ,” kata Gregory Levitin, asisten profesor otolaringologi (Telinga, Hidung, Tenggorokan) di Sekolah Kedokteran Icahn di Mount Sinai Health System, News York City, Amerika Serikat.

Para ilmuwan tidak tahu penyebab sebenarnya atau pengobatan terbaik untuk cegukan, bahkan tidak tahu cegukan itu sebenarnya apa. Meski demikian, ada sejumlah strategi yang Levitin dan ahli otolaringologi lainnya sarankan untuk mencegah cegukan dan untuk mencegahnya.

Penyebab misterius

‘Cegukan’ adalah kondisi mengeluarkan suara tersendat ketika kita mencoba menarik napas dalam tetapi ada kontraksi tanpa sengaja di diafragma yang menyebabkan pita suara menutup cepat. Secara medis, itu disebut ‘singultus’ yakni istilah Bahasa Latin yang mengacu pada isakan, atau terengah-engah, sambil menangis.

Menurut Levitin, apa pun yang mengembangkan diafragma atau meningkatkan luas distensi lambung bisa menstimulasi saraf yang mungkin menyebabkan spasme refleks. Itu termasuk perilaku antara lain makan berlebihan, makan terlalu cepat, atau minum namun mengisi perut dengan banyak udara (misalnya mengkonsumsi minuman berkarbonasi).

Bayi cenderung minum lebih sering daripada orang dewasa. Ketika minum, apakah dari botol atau payudara, bayi lebih banyak menelan udara. Ini bisa menjelaskan mengapa bayi lebih sering cegukan daripada orang dewasa.

Tapi, kuncinya adalah cegukan berasal dari kontraksi tidak disengaja di diafragma seperti kejang pada otot saat kita bekerja berlebihan.

Obat cegukan

Meskipun dialami semua orang, menurut Levitin, untungnya cegukan ini peristiwa yang jarang dan waktunya terbatas. Levitin menyarankan beberapa hal untuk orang yang cegukan. “Tarik napas dalam-dalam, tahan agak lama, lalu hembuskan. Tarik nafas lagi, tahan, lalu hembuskan,” katanya.

Jika masalahnya disebabkan udara berlebih di lambung, merenggangkan otot-otot perut bisa menggerakkan udara ke sekitar dan memungkinkan beberapa keluar dari lambung. Dalam beberapa kasus, Levitin mencoba memijat pangkal leher tempat saraf frenikus yang menstimulasi diafragma.

Kadang, metode ini berhasil. Tapi, sekali lagi, banyak pengobatan cegukan yang tampaknya manjur hanya sesekali. “Jika Anda melakukan salah satu dari hal-hal ini, biasanya hanya butuh waktu beberapa menit,” kata Levitin.

Meski tidak ada obat medis untuk cegukan, efek samping dari pengobatan lain bisa membantu. Maka, dokter memberi penenang otot atau obat yang membantu cepat memindahkan makanan dari lambung.

Dalam kasus yang jarang terjadi, cegukan dapat berlangsung berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Dalam situasi seperti itu, dokter mencoba intervensi lebih serius. Menurut Levitin, menyuntikkan anestesi ke saraf frenik bisa memberi bantuan sementara beberapa jam. Opsi baru antara lain implan bertenaga baterai yang dapat menstimulasi saraf frenikus. Terapi alternatifnya antara lain berbagai bentuk olah nafas, meditasi atau akupunktur.

Tetapi, ketika kembali ke pertanyaan dari mana cegukan berasal, kita masih belum tahu. “Pada akhirnya, kita mengalami kondisi yang biasa dialami semua manusia,” kata Levitin.

Baca juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.