Ya, Anda Bisa Mati Karena Patah Hati

MEPNews.id – Dalam tiga bulan setelah kematian pasangan, orang lebih mungkin mengalami faktor-faktor risiko yang terkait penyakit kardiovaskular dan kematian. Risiko ini bisa membuat pasangan yang berduka jadi lebih mungkin ‘mati karena patah hati.’

Penelitian dilakukan oleh tim dari Rice University di Houston, Texas, Amerika Serikat. Hasil penelitian diterbitkan di jurnal Psychoneuroendocrinology edisi Juli 2018, Volume 93, halaman 65–71. Ringkasannya dirilis Science Alert pada 6 Mei 2018. Ini penelitian pertama yang menunjukkan kondisi berkabung terkaitkan dengan peningkatan kadar sitokin dan penurunan denyut jantung.

Menurut penelitian itu, individu yang kehilangan pasangan dalam tiga bulan terakhir memiliki kadar tinggi sitokin pro-inflamasi. Ini penanda kekebalan yang menunjukkan terjadinya peradangan dalam aliran darah. Mereka juga mengalami penurunan frekuensi denyut jantung (HRV) dibandingkan dengan yang tidak berduka meski jenis kelamin, usia, indeks massa tubuh, dan tingkat pendidikan boleh dikata sama. Meningkatnya kadar sitokin pro-inflamasi dan menurunnya frekuensi denyut jantung merupakan faktor yang meningkatkan risiko serangan jantung, hingga kematian.

Chris Fagundes (Photo by Jeff Fitlow)

Chris Fagundes (Photo by Jeff Fitlow)

“Dalam enam bulan setelah kehilangan pasangan, orang bisa berada pada kondisi 41 persen peningkatan risiko kematian,” kata penulis utama penelitian, Chris Fagundes, asisten profesor psikologi di Fakultas Ilmu Sosial di Rice University. “Yang penting, 53 persen dari peningkatan risiko ini adalah karena penyakit kardiovaskular.”

Menurut Fagundes, studi ini merupakan langkah penting menuju pemahaman mengapa hal ini terjadi. Studi ini bisa mengidentifikasi bagaimana orang yang berkabung itu punya peluang meningkatkan morbiditas dan mortalitas.

Dalam penelitian, objeknya adalah 32 orang yang baru saja kehilangan pasangan. Usia mereka berkisar dari 51 hingga 80 (rata-rata 67,87 tahun); 22% pria dan 78% wanita. Sebagai pembanding, ada 33 orang dengan jenis kelamin dan usia setara. Kedua kelompok juga relatif sama dalam hal berat badan dan kondisi/perilaku kesehatan.

Setelah diteliti, 47 persen orang yang berduka mengalami tingkat HRV lebih rendah daripada kelompok kontrol.

Mereka juga menunjukkan peningkatan 7% TNF-alpha (salah satu jenis sitokin) dan peningkatan 5% IL-6 (tipe lain sitokin), daripada kelompok kontrol. Akhirnya, orang yang berduka merasa peningkatan 20% lebih tinggi dari gejala depresi daripada kelompok kontrol.

Fagundes mengatakan, penelitian itu menambah pemahaman yang sedang tumbuh tentang bagaimana dukacita dapat mempengaruhi kesehatan jantung. Dia berharap penelitian ini membantu para profesional medis untuk lebih memahami mekanisme biologis yang dipicu kematian. Penelitian ini diharapkan memungkinkan terciptanya intervensi psikologis dan/atau farmakologis yang ditargetkan untuk mengurangi atau mencegah korban ‘patah hati.’

“Meski tidak setiap individu yang berkabung memiliki risiko sama untuk ganggun jantung, saya ingin tegaskan risiko itu memang ada,” kata Fagundes. “Dalam kelanjutan penelitian, kami berusaha mengidentifikasi siapa yang paling berisiko, dan yang lebih tahan terhadap konsekuensi fisiologis negatif dari kehilangan pasangan.”

Baca Juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.