Bersyukur dan Bersabar Soal Limbah Tetangga

bojonegoro - khusnatul mawaddahOleh: Khusnatul Mawaddah

MEPNews.id – Sudah tiga bulan ini rumah saya terkena limbah bau kurang sedap dari tetangga sebelah rumah. Sebelumnya, tetangga samping gang mengeluhkan bau tersebut. Setelah diurusi Pak Ketua RT, eh justru limbahnya dibuang di selokan depan rumah saya.

Bau kurang sedap ini dari limbah tempe yang diproduksi setiap hari. Setiap jam 2 siang sampai malam, bau ini tidak pernah hilang. Bau tersebut membikin pusing kepala dan menyesakkan dada.

Saya mau protes ke Pak Ketua RT, tapi saya dilarang suami dengan berbagai pertimbangan. Akhirnya, setiap hari saya sekeluarga membiasakan diri dengan bau limbah tempe.

Masalahnya kemudian, yang bikin saya merasa kurang enak, adalah hampir setiap hari ada tamu berkunjung ke rumah kami. Mereka umumnya berujar sambil nyengir-nyengir hidungnya, “Aduh, Mbak, kenapa rumahmu jadi bau begini?”

Saya hanya bisa menjawab, “Iya. Maaf, ya. Limbah dari tetangga. Mau gimana lagi?”

Terkadang, sebagai manusia yang tak bisa lepas dari orang lain, dibutuhkan kemampuan untuk mengelola hati. Coba kalau saya protes ke tetangga yang jualan tempe itu; betapa sedihnya mereka. Sumber kehidupan satu-satunya untuk mengobati anak sakit dan untuk membiayai sekolah anak, terpaksa menjadi sumber perkara sehingga harus berurusan dengan emosi tetangga. Kalau saya tidak bisa kasih solusi, kalau saya hanya protes doang, rasanya percuma sebagai manusia terdidik.

Jadi, ada beberapa pertimbangan ketika kita dihadapkan pada masalah bertetangga.

  1. Komunikasi antar warga bisa menjadi jalan tengah untuk membantu masalah limbah. Komunikasi ini perlu mediator yakni pimpinan warga yang peduli dengan masalah warganya.
  2. Di antara warga harus ada rasa saling memahami kebutuhan masing-masing secara personal dalam lingkup lingkungan bahwa semua orang butuh dilindungi.
  3. Mencari cara bagaimana mengatasi limbah warga produsen tempe atau home industri itu untuk memberi kenyamanan bersama.

Terkadang, kita terjebak pada budaya buruk yakni menggunjing sehingga tumbuh rasa tidak suka pada tetangga. Sepatutnya kita bisa menahan diri, selalu meningkatkan rasa syukur, dengan cara lebih santun jika berhadapan dengan tetangga, meski ada masalah.

Tetangga adalah orang yang dekat dengan rumah kita. Kita tidak tahu suatu saat nanti membutuhkan bantuan tetangga. Meski pada jaman now hubungan pertetanggan tidak seerat pada jaman old, paling tidak kita masih punya kesadaran moral untuk saling menjaga hati.

Semoga bermanfaat.

Facebook Comments

POST A COMMENT.