Gernas Baku Antara Seremoni dan Substansi

Catatan : Yusron Aminulloh

MEPNews.id— Hari ini 5 Mei, Gernas Baku (Gerakan Nasional Membacakan Buku) pada anak Usia Dini, diluncurkan di seluruh Indonesia. Gerakan ini diharapkan memberikan semangat dan pemicu agar anak suka membaca buku dengan cara : Orangtua membacakan buku untuk anaknya (PAUD) terutama.

Filosofi dasar gerakan ini bagus. Agar sejak dini memacu anak suka membaca. Apalagi fakta menunjukkan, posisi kita di dunia internasional dalam soal membaca buku, ada diperingkat bawah. Dengan menyasar anak usia dini, ini langkah cerdas.

Kondisi minat baca bangsa Indonesia memang cukup memprihatinkan. Berdasarkan studi “Most Littered Nation In the World” yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca.

Indonesia persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Padahal, dari segi penilaian infrastuktur untuk mendukung membaca peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa.

Seremonial

Persoalannya, ketika keprihatinan itu kemudian dijawab dengan ragam program Kemendikbud, termasuk Gernas Baku yang hari ini diluncurkan. Respon sebagaian besar masih dominasi seremoni. Persepktif positif itu sering tergerus ketika pada level aplikasi.

Upacara Gernas Baku gebyar se Indonesia. Bahkan ribuan orang berkumpul merayakan dengan membacakan buku di berbagai daerah di Indonesia. Malah ada yang memecahkan rekor muri adalah sebuah gerakan artifisial jauh dari substansial.

Begitu megahnya acara diberbagai kota yang diadakan, menjadi berhenti pada upacara. Bahwa itu diperlukan, ya. Tetapi puluhan bahkan ratusan juta rupiah, dihabiskan untuk upacara, bukan untuk menemukan apa makna program ini sesungguhnya, adalah sebuah keprihatinan.

Apalagi ada kebiasaan dana berapapun pemerintah daerah siap dukung asal berdampak publikasi, image dan nama baik sebuah kepemimpinan. Sedangkan program substansi, mendidik, melatih membaca, sudah pasti jauh dari puji pujian — itu biasanya minim dana.

Atas program ini, catatan saya ada 3 hal :

Pertama, kalau upacara menjadi tujuan, kalau keramaian menjadi parameter, jangan kaget dalam waktu yang akan datang gerakan membaca hanya simbolisme. Artifisial, keseolah-olahan.

Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca akan berlanjut tanpa jawaban. Karena kita sibuk dengan upacara upacara.

Kedua, seharusnya, upacara hanya pintu masuk menuju Gernas Baku yang sesungguhnya. Gerakan yang sesungguhnya adalah lembaga Paud, Komunitas Orangtua, Dinas Pendidikan Kab/Kota, melakukan kegiatan masif pendampingan agar orangtua mau membacakan buku untuk anaknya.

Tapi jangan mimpi itu akan datang begitu saja. Dari tidak punya minat baca, tidak mengenal buku, bagaimana tiba-tiba guru dan orangtua membacakan buku untuk anaknya ? Itu butuh proses tekun, parenting, kajian, dialog, pelatihan yang panjang.

Dan untuk sederet langkah ini tidak populer, tidak gebyar, sebagaimana upacara dan pesta. Dan biasanya otoritas pemda enggan mengeluarkan anggaran karena tidak jelas dampaknya jangka pendek.

Ketiga, hari ini saya juga diundang beberapa upacara Gernas Baku yang konon dihadiri ribuan orang. Karena posisi saya di acara itu Sunnah (tidak hadir juga tidak apa apa), maka saya memilih datang ke ibu-ibu Yayasan Al Madinah Kediri. Posisi saya wajib, karena berguna.

Hanya 40 an ortu yang hadir, tidak ada upacara. Tetapi langsung membedah kenapa orangtua perlu membacakan buku pada anaknya, apa bedanya anak yang dibacakan buku dengan tidak dibacakan dan ragam tahapan yang harus dilakukan.

Bahkan langsung latihan membaca buku, memahami intonasi membaca, memahami hubungan yang dibaca dengan imajinasi anak. Hingga membahas tuntas kekuatan pendengaran seorang anak yang lebih tajam dibanding penglihatan, dan mencari titik temu pendengaran bacaan buku dengan musik dan pembahasan lainnya.

Saya dkk sedang merancang keliling Indonesia dengan tim Literasi MEP (Menebar Energi Positif), untuk menemani guru dan para orangtua bagaimana mereka minat baca bagi yang belum, dan menajamkan makna membacakan buku untuk anak,  bagi yang sudah hobi membaca.

Alhamdulillah beberapa panitia yang mengundang dari berbagai daerah paham visi kami. Karena yang ingin kami lakukan, tidak saja untuk hari ini, tapi adalah menanam bibit masa depan bagi anak anaknya.

Pasti tidak heboh, tidak dimuat media, tidak populer, dan hasilnya tidak tampak langsung. Tapi itulah jalan sunyi yang harus diambil.

Sebuah pilihan.   ***

Penulis Master Trainer MEP, aktivis Literasi Nasional

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.