Demi Eksistensi

agus harionoOleh: Agus Hariono

MEPNews.id – Di antara latar belakang aktivitas yang dilakukan oleh kita adalah demi mencapai eksistensi diri. Bahkan, mungkin tanpa disadari, justru sebagian besar aktivitas kita adalah untuk eksitensi diri.

Lalu apa sebenarnya eksistensi itu? Apa sejatinya sehingga banyak di antara kita menggunakan alasan eksistensi dalam setiap aktivitas?

‘Eksistensi’ berasal dari kata bahasa latin ‘existere’ yang artinya muncul, ada, timbul, memiliki keberadaan aktual. Terdapat beberapa pengertian tentang eksistensi yang dapat dijelaskan menjadi empat pengertian. Pertama, eksistensi adalah apa yang ada. Kedua, eksistensi adalah apa yang memiliki aktualitas. Ketiga, eksistensi adalah segala sesuatu yang dialami dan menekankan bahwa sesuatu itu ada. Keempat, eksistensi adalah kesempurnaan.

Dalam KBBI, ‘eksistensi’ diartikan sebagai ‘hal berada atau keberadaan’. Dalam filsafat, istilah eksistensi diartikan sebagai gerak hidup manusia konkrit. Dengan demikian, dalam tulisan ini eksistensi dimaknai sebagai upaya yang dilakukan manusia untuk menunjukkan keberadaan dirinya menuju kesempurnaan.

Dari makna di atas, tidak heran ketika sebagian besar di antara kita berbondong-bondong menjadikan eksistensi sebagai alasan bahkan tujuan dari aktivitas. Mungkin sudah menjadi kodrat manusia, atau sifat bawaan manusia, bahwa tiap-tiap kita memiliki sifat ingin diakui orang lain. Agar diakui orang lain, maka kita harus eksis dan menampakkan diri.

Sekali lagi, hampir setiap aktivitas kita mengarah kepada eksistensi —kita, dalam makna individu maupun kelompok. Contoh sederhana yang bisa dilihat dalam setiap aktivitas sehari-hari kita sebagai individu, antara lain; melakukan kerja yang baik dan maksimal agar diri kita dianggap dan diakui orang lain bahwa kita mampu dan memiliki kapasitas; berbuat baik kepada orang lain; berprestasi dalam bidang apa pun; berfoto dengan berbagai gaya kemudian di-share di media sosial dan masih banyak aktivitas individu yang mengarah kepada eksistensi.

Sebagai kelompok, kita tidak bisa menghitung aktivitas yang dilakukan sebagai perwujudan eksistensi. Misalnya, melakukan kegiatan sosial, mengorganisir anggota secara solid, meningkatkan kualitas anggota, memperkokoh struktur keorganisasian, menjalin kerjasama dengan eksternal organisasi, dan aktivitas lainnya.

Dalam menunjukkan eksistensi, kita menggunakan media apa saja yang sekiranya efektif. Era sekarang, keberadaan media –khususnya media sosial– sungguh menjadi surga dalam upaya menunjukkan eksistensi. Dulu, media paling banter adalah televisi yang berupa audio visual tapi sangat kaku dan tidak komunikatif. Sekarang, keberadaan media sosial begitu fleksibel dan komunikatif. Tentu sangat efektif dan efisien digunakan sebagai ajang menunjukkan eksistensi.

Jika diamati, aktivitas tiap orang atau bahkan tiap kelompok hari ini tidak bisa lepas dari alasan eksistensi, baik itu alasan secara implisit maupun eksplisit. Hampir setiap orang era sekarang memiliki media sosial. Tidak mungkin media sosial itu hanya dimiliki tanpa digunakan.

Nah, ketika orang menggunakan media sosial, sebagian bisa disebut sebagai upaya menunjukkan eksistensi. Apa lagi orang itu rutin share tentang segala aktivitas yang dilakukan setiap waktu. Begitu juga dengan kelompok. Justru kepemilikan media sosial dipergunakan untuk menunjukkan eksistensi, bahkan sulit untuk mencari mana aktivitas yang tidak bertujuan untuk menunjukkan eksistensi.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan eksistensi, karena nyatanya manusia memang butuh. Namun, juga tidak melulu kita harus memburu eksistensi. Di samping eksistensi, masih ada esensi yang menjadi tujuan kita. Eksistensi memang penting, namun jangan sampai melupakan esensi dari setiap aktivitas kita.

Saat kita melakukan kegiatan yang baik, selain alasan eksistensi, kita juga seharusnya memposisikan esensi di sampingnya. Jangan sampai kita menampilkan perilaku yang seolah-olah hanya akan hidup di dunia saja, tapi lupa dengan setelahnya.

Menurut saya, esensi justru menjadi alasan terpenting dalam setiap aktivitas. Setiap aktivitas kita pasti memiliki esensi atau hakikat. Ketika bisa meraih prestasi, kita tidak sekadar menunjukkan tentang eksistensi diri bahwa kita mampu. Lebih dari itu, pada hakekatnya kita mengagungkan Pencipta diri kita. Begitu juga dengan aktivitas lain yang kita (individu atau kelompok) lakukan.

Oleh karenanya, tentu tidak etis jika sebagai makhluk yang diciptakan lalu lupa dengan Yang Menciptakan. Seyogyanya, di samping eksistensi yang kita tuju, esensi juga tidak kita lupakan.

Wallahu a’lam!

Facebook Comments

POST A COMMENT.