Posisi Tulisan Refleksi

agus harionoOleh: Agus Hariono

MEPNews.id – Dalam hal menulis, setiap orang memiliki kesenangannya masing-masing. Ada yang suka menulis puisi, cerpen, novel, berita, refleksi dan lainnya. Yang melatarbelakangi mereka memilih dan menentukan jenis tulisan juga beragam. Kebanyakan dari hasil membaca. Ketika membaca novel, lalu terkesan dengan isi novel tersebut, kemudian tertarik untuk menulis, maka berkemungkinan besar jenis tulisannya akan seperti novel.

Ada juga yang ketika membaca berita langsung tertarik dengan tulisan bergaya berita, tapi belum tentu ia senang menulis berita. Bisa jadi orang suka dan senang membaca berita, tapi bukan jenis tulisannya dan kualitas tulisannya yang membuat mereka tertarik. Mereka lebih tertarik pada isi berita tersebut.

Apa pun jenis tulisannya, sebenarnya tidak jadi soal. Yang lebih penting adalah menulis, tahu apa yang ditulis, dan tahu akibat dari tulisannya.

Akhir-akhirnya ini, bahasan tentang tulis-menulis sedang hangat-hangatnya. Tulisan jenis apa pun banyak dibahas dan dipamerkan di media, mungkin termasuk tulisan ini. Seolah hari ini eranya tulisan. Bagaimana tidak? Hampir semua media sosial tidak bisa lepas dari tulisan, baik yang pendek maupun yang panjang dan berhalaman-halaman.

Selain gambar, suara dan video, seolah tulisan menjadi penjelasan dari ketiga alat penyampai pesan tersebut. Gambar, suara, maupun video, masih memungkinkan terjadi salah tafsir, karena ketiganya tidak memiliki penjelasan berupa kata-kata yang melengkapi informasi. Maka, tidak heran banyak orang sekarang memilih tulisan sebagai senjata ampuh dalam menjalankan misi.

Kekuatan tulisan saat ini seolah menemui masanya. Tulisan bisa menggiring pembaca ke arah yang ingin dicapai penulis. Tulisan juga dapat mengubah cara pandang seorang terhadap apa pun. Tulisan dapat mengacam dan menjadikan perpecahan suatu kelompok. Tulisan pula dapat membersatukan dan mendamaikan orang-orang atau kelompok-kelompok yang berseteru. Oleh karenanya, sekarang, menulis begitu diminati banyak orang –termasuk saya.

Kaitan dengan jenis tulisan, saya kadang dibuat bingung. Kira-kira tulisan saya itu berjenis apa? Saya, dulu ketika belajar menulis, memang suka membaca tulisan refleksi atau renungan. Di situ, menurut saya, banyak termuat nilai-nilai atau hikmah-hikmah yang bisa dapatkan. Akibatnya, ketika saya menulis dengan jenis yang lain, saya pun tetap dengan gaya yang sama, yaitu refleksi.

Misalnya, beberapa waktu lalu ketika saya masih sering menuliskan berita, saya sering menambah tulisan tersebut dengan analisis dan renungan. Harusnya kan berbeda antara berita dengan refleksi. Sepanjang pengetahuan saya, tulisan berita hanya memaparkan data tanpa analisis. Justru ketika melakukan analisis itu salah. Bukan tugas wartawan untk melakukan analisis. Menurut Latief, tugas wartawan itu hanya mengamati, merekam peristiwa, dan kemudian melaporkan kepada publik.

Unsur-unsur berita tidak lebih dari 5W 1H. What mengungkapkan apa yang diinformasikan. Where mengabarkan di mana peristiwa itu terjadi. When, kapan peristiwa itu terjadi. Who, siapa saja yang terlibat dalam peristiwa atau kejadian tersebut. Why, mengapa peristiwa atau kejadian itu bisa terjadi. How, bagaimana proses peristiwa atau kejadian itu bisa terjadi. Ditambah beberapa kutipan langsung dari orang-orang yang terlibat dalam kegiatan atau kejadian tersebut, jadilah berita. Itu lah berita yang ditulis apa adanya, tanpa dikurangi dan ditambahi.

Memang saya kadang tidak puas ketika mendeskripsikan suatu kegiatan atau kejadian hanya polos begitu saja tanpa tahu apa yang bisa diambil dari kegiatan atau kejadian tersebut. Sebenarnya saya juga tahu itu tidak sesuai kaidah jurnalistik. Karena jurnalis seharusnya memiliki independensi atau netralitas. Maka, jurnalis tidak diperkenankan melakukan analisis dan menyimpulkan. Tapi, tidak diberi mandat menyimpulkan saja, sering kali berita dipelintir-pelintir demi kepentingan tertentu. Apa lagi kalau diberi mandat.

Di sisi lain, jika dalam tulisan terdapat banyak sekali analisis, nanti dikira hasil penelitian. Beda dengan wartawan, peneliti justru harus melakukan analisis secara mendalam dengan berbagai pendekatan yang diinginkan atas suatu kejadian. Namun demikian antara peneliti dan wartawan atau petugas sensus memiliki persamaan, yaitu sama-sama mencari data.

Antara peneliti dan wartawan setidaknya, meski hanya sekilas, sudah mendapat gambaran tentang cara kerja dan hasil tulisannya. Kemudian, untuk perefleksi atau penulis renungan, bagaimana cara kerjanya dan menghasilkan tulisannya yang bagaimana?

Pengalaman yang saya lakukan —entah benar atau salah— dalam menulis refleksi bisa dengan menggabungkan kedua cara yang dilakukan wartawan dan peneliti. Namun demikian, hasil tulisannya tidak sebagaimana peneliti yang seringkali berupa temuan ilmiah karena dilakukan dengan prosedur ilmiah, juga tidak seperti berita yang hanya memaparkan data.

Nah, dalam tulisan refleksi, saya sering kali kali menuliskan tentang suatu kegiatan, peristiwa atau kejadian, saya tulis dengan teknik 5W1H, setelah itu ada pembahasannya, dan berakhir pada kesimpulan yang berisi tujuan, manfaat, hikmah dan lainnya. Jadi, menurut saya, tulisan refleksi berada di antara tulisan berita dan penelitian.

Sekali lagi saya kurang puas kalau menguraikan suatu kegiatan atau kejadian hanya datar-datar begitu saja. Oleh karenanya, saya senang membuat tulisan dalam betuk refleksi yang membahas berbagai kegiatan, atau berbagai fenomena yang terjadi di sekitar saya. Iya, mungkin itu disebut egois, tidak bisa menyesuaikan dengan kaidah jenis tulisan. Namun, tidak salah juga, kalau saya juga ingin memuaskan diri saya.

Wallahu a’lam!

Facebook Comments

POST A COMMENT.