Mendikbud Tekankan Lagi Literasi dan Karakter

Fauzi, bakul jamu keliling di Sidoarjo, membawa sejumlah buku untuk dibaca para konsumennya.

MEPNews.id – Memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy kembali menekankan pentingnya penguatan pendidikan karakter dan literasi.

“Kita patut bersyukur atas antusias masyarakat terhadap gerakan Penguatan Pendidikan Karakter. Ini luar biasa. Mereka menyadari penguatan karakter dan literasi warga negara merupakan bagian penting yang menjadi ruh dalam kinerja pendidikan dan kebudayaan,” kata Muhadjir, di Jakarta, 2 Mei 2018, dikutip Antara.

Guru, orangtua, dan masyarakat harus menjadi sumber kekuatan untuk memperbaiki kinerja dunia pendidikan dan kebudayaan dalam menumbuhkembangkan karakter dan literasi anak Indonesia.

Menanggapi perkembangan zaman yang memasuki Revolusi Industri 4.0 yang bertumpu pada cyber-physical system, Muhadjir mengajak para pelaku pendidikan dan kebudayaan dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan tersebut.

Beberapa lembaga survei mengungkap fakta rendahnya budaya literasi di Indonesia. Programme for International Student Assessment (PISA) menyebutkan pada 2012 budaya literasi di Indonesia menempati urutan ke-64 dari 65 negera yang disurvei. Indonesia menempati urutan ke-57 dari 65 negara dalam kategori minat baca. Data UNESCO menyebutkan, posisi membaca Indonesia 0.001%, artinya dari 1.000 orang hanya ada 1 orang yang memiliki minat baca.

Menurut PISA 2015, skor Indonesia dalam sains 403, matematika 386, dan literasi 297. Sains berada di urutan 62, matematika 63, sedangkan literasi 64. Berdasarkan total 70 negara yang disurvei PISA, artinya Indonesia selalu masuk urutan 10 besar terbawah.

Indonesia juga belum mencapai hasil membanggakan dalam survei Kecenderungan Pembelajaran Matematika dan Sains Internasional (TIMSS). TIMMS turut menjadi tolak ukur keberhasilan suatu negara dalam memajukan sains maupun matematika di kalangan peserta didik.

Dalam TIMSS 2015, perolehan poin Indonesia untuk bidang sains sebesar 387 dan menempati urutan ke 45 dari 48 negara. Untuk skor matematika, Indonesia meraih poin 397 dan berada di posisi 45 dari 50 negara. Indonesia kalah jauh dibandingkan Singapura, misalnya, yang prestasi TIMSS per tahunnya rajin menempati posisi pertama.

Pemerintah melalui Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 menyadari pentingnya penumbuhan karakter peserta didik melalui kebijakan membaca selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai.(*)

Facebook Comments

POST A COMMENT.