Masa Lalu Guru

Oleh: Moh. Husen

MEPNews.id —- Menjadi murid itu enak. Jika ada seorang guru, terutama guru perempuan menyodorkan di akun medsos pribadinya mengenai fotonya yang berambut disemir merah, berkuku panjang, dan pakai celana pendek, murid perempuannya tinggal bilang: “Saya boleh ya bu, berpenampilan mencontoh bu guru seperti foto-foto ibu yang aduhai di akun medsos ibu. Bu guru memang tidak pernah ngomong ngajari kami seperti itu, tapi kami hanya mencontoh pose di akun bu guru…”

Apalagi jika ada Pak Guru mantan pemakai narkoba, si murid bisa belagak: “Pak, bukankah bapak seusia saya dulu suka pakai narkoba dan juga bertato? Gila amat dong kalau bapak sekarang menuntut kami berbuat baik, sedangkan bapak seusia kami dulu bisanya cuma bernarkoba ria…”

Memang seakan-akan yang selain guru itu boleh dan halal berbuat buruk, memberi contoh kejelekan, sehingga bila pelaku amoral tersebut adalah bukan guru, maka siapapun saja akan adem ayem, biasa-biasa saja, serta tenang-tenang saja menyaksikannya. Terutama menyaksikan para artis jika berpenampilan negatif, tidaklah pernah dianggap sebagai sesuatu yang membahayakan anak didik yang menontonnya.

Semua orang bisa jadi punya pengalaman buruk direkam jejak masa lalunya. Juga bisa jadi tak punya rekam jejak buruk alias kehidupannya normal dan wajar-wajar saja. Akan tetapi manusia hidup di masa kini dan masa depan.  Tak mungkin ia mengubah masa lalunya. Yang mampu ia ubah hanyalah hari ini dan esok hari.

Apalagi di era pemberitaan online seperti era sekarang ini. Berita seorang mantan narapidana tinggal klik di masing-masing pemilik gadget dan di tahun kapanpun bisa berkemungkinan masih tetap ada. Take record buruk seseorang bisa kekal dalam media online seperti sekarang ini. Kecuali bila telah dihapus.

Dan, celakanya orang yang punya masa lalu buruk dan bahkan keburukannya yang nyata hari ini, justru dengan bangganya di tampilkan di media sosial pribadinya. Apalagi jika yang bersangkutan adalah seorang guru.

Para guru merupakan barisan terdepan dalam penyelamatan negeri ini. Jika Nabi Muhammad SAW bersabda tegaknya suatu bangsa dipersyarati empat hal, yang pertama adalah bi ilmil ulama’, dengan ilmunya para ulama’, maka para guru ini merupakan para ulama’ penjaga tegaknya bangsa tersebut. Yang kedua baru pemimpin yang adil. Ketiga orang kaya yang dermawan. Keempat doanya orang fakir.

Maka betapa mulianya seorang guru. Dia pencerah bangsa yang kelak menciptakan pemimpin yang adil, juga kelak akan membentuk pengusaha sukses yang dermawan, juga menginformasikan bahwa terhadap yang fakir tidaklah memberatkan.

Semua orang, termasuk guru, termasuk juga dunia pendidikan, mungkin mempunyai sejarah yang kelam. Memiliki beberapa hal dari hari-hari kemarin yang mungkin perlu dievaluasi dan ditata ulang. Atau siapa tahu, kelulusan yang hanya berdasarkan ujian nasional tiga hari merupakan “dosa besar” bagi dunia pendidikan, yang hari ini sepertinya sudah berubah.

Ilmu-ilmu dan metode pembaharu dalam dunia pendidikan telah bertaburan dan setiap saat selalu bergerak berusaha saling mencerahkan dimana-mana demi masa depan pendidikan. Apalagi akses internet telah membantu kita semua untuk searching opini dan ilmu mengenai pendidikan dari tokoh yang manapun, yang mungkin lebih kita percayai, akurat, berkualitas, dan–mohon maaf–lebih independen plus tidak terlalu mengikuti arus “ekonomi” belaka. Akan tetapi terkadang kita terlalu memperbesar masa lalu yang negatif dari seorang guru secara berlebihan.

2 Mei merupakan hari Pendidikan Nasional. Namun sungguhpun demikian kita boleh juga membicarakan yatim piatu, pasar shubuh, hingga hipnotis dan tukang sulap. Mohon jangan tertawa. (Banyuwangi, 2 Mei 2018)

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.