Vaksin Baru Bantu Sel-T Lawan Kanker Tertentu

MEPNews.id – Ada penelitian baru yang diterbitkan dalam Cancer Immunology Research oleh dua peneliti dari Augusta University di Amerika Serikat. Hasil penelitian ini bisa berfungsi sebagai batu loncatan dalam membangun vaksin dengan kemungkinan lebih besar menemukan dan menyerang kanker di tubuh manusia.

Dr Esteban Celis dan Dr Hussein Sultan, dari Pusat Kanker Georgia di Augusta University, menyatakan kunci dalam strategi vaksin ini adalah meningkatkan jumlah waktu bagi sitokin yang disebut interleukin 2 (IL2) di dalam tubuh. IL2 adalah molekul dalam sistem kekebalan yang bertugas mengatur aktivitas beberapa sel darah putih yang dikenal sebagai sel-T.

“Setelah pemberian vaksin berbasis-peptida pada model tikus yang kena kanker, kami melihat sinyal IL2 berkelanjutan secara dramatis meningkatkan jumlah sel-T pembunuh kanker tertentu (CD8 +),” kata Dr. Hussein Sultan, mitra pos-doktoral di laboratorium Celis yang memimpin Imunologi Program Inflamasi dan Toleransi Kanker.

Selama percobaan mereka, Celis dan Sultan juga melihat ada peningkatan kemampuan sel-T untuk menyerang benteng kekebalan kanker berupa protein yang disebut programmed death-ligand 1 (PD-L1). Telah diketahui, protein PD-L1 dapat diproduksi sel-sel kanker yang memungkinkan mereka menghindari penghancuran oleh sel-T.

“Bersama-sama, hasil ini secara substansial meningkatkan khasiat antitumor dari vaksin berbasis-peptida terhadap tikus yang kena kanker,” kata Sultan, dikutip EurekAlert! edisi 1 Mei 2018.

Celis menambahkan, “Agar efektif, IL2 perlu diberikan sebagai kompleks antibodi IL2 dan anti-IL2, atau dalam bentuk polietilen yang dimodifikasi glikol IL2 (PEG-IL-2). Formulasi ini memperpanjang separuh-umur IL2, yang memungkinkan aktivasi berkelanjutan dari reseptor IL2 pada sel-T yang dihasilkan vaksin. Ini memungkinkan mereka bertahan lebih lama di dalam tubuh dan bisa menyerang tumor.”

Menurut Celis, sulit bagi vaksin untuk menginduksi antibodi terhadap kanker. Sebagian besar antigen kanker bukanlah protein asing seperti halnya virus. Di sisi lain, sel-T memiliki kapasitas untuk mengenali jenis antigen lainnya.

“Seperti yang kita tahu, sel-sel kanker terjadi ketika sel-sel normal mengalami mutasi tertentu,” kata Celis. “Jadi, mereka tidak selalu terlihat asing bagi sistem kekebalan kita.”

Baik Celis dan Sultan berharap pengamatan mereka terhadap model tikus yang kena kanker ini dapat membuka jalan ke studi klinis terhadap pasien kanker manusia.

“Saya merasa bekerja dalam proyek penelitian ini sangat bermanfaat dan menarik,” kata Sultan. “Saya ingin membantu komunitas ilmiah menemukan pendalaman tentang cara menggunakan sistem kekebalan tubuh untuk melawan penyakit yang menghancurkan ini.”

Baca Juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.