Menikmati Hasil Belajar Anak

Oleh Astatik Bestari

MEPNews.id – Hari itu Jumat, 27 April 2018 pulang dari UNBK Paket C suami saya bercerita bahwa telah makan nasi liwet dan pecel lele masakan si sulung.

“Aku kepingin imbuh tapi wedi, Mi”. Kata beliau bersemangat setelah berhari-hari nafsu makannya menurun.
“Iya, Bi. Makann Njenengan memang ada takarannya”. Respon saya menguatkan semangat diet rendah karbohidrat.

“Kakak makan nunggu umi datang”. Beliau menirukan jawaban si sulung saat beliau menanyakan “Apakah Kakak sudah makan?”

“Hemm..kakak bikin capeknya umi hilang saja” saya membatin demi mendengar cerita suami saya ini.

“Anak-anak sudah sholat semua. .” Suami saya mmengabarkan kepada saya setelah sejenak menceritakan si sulung mencari ikan lele di kolam lele di belakang rumah, sampai ‘nyambel’ ikan lele tersebut .

“Waduh, saya ketinggalan dong, munfarid ini” saya membatin lagi. Lalu saya pamit ambil wudhu untuk sholat ashar.

Di ruang keluarga, saya jumpai si sulung lihat TV.

“Kata abi, kakak sudah sholat ya?” saya ingin memastikan bahwa saya akan sholat tidak berjamaah sore itu.

“Belum. Kakak nunggu umi kok”. Plong. Bahagi untuk kedua kalinya. Pertama tidak mau mendahului makan sebelum saya makan, kedua: nunggu saya datang untuk sholat Ashar berjamaah.

Cerita ttersebut mengingtakan saya pada masa kecil si sulung. Ia sudah biasa mendahulukan orang tuanya dalam hal makan ‘berkat’ dari hajatan tetangga. Abinya selalu menanamkan agar mendahulukan uminya untuk makan atau sekedar melihat isi ‘berkat’ hajatan tersebut. Sementara untuk sholat berjamaah ada komitmen tidak tertulis bahwa anggota keluarga wajib sholat jamaah saat waktu sholat sudah tiba. Jadi, sebelum waktu sholat tiba, anak-anak atau orang tua bisa melanjutkan aktivitas di luar rumah; bisa sibuk dengan pekerjaan dan anak-anak asyik dengan bermainnya di luar rumah.

Jika si Sulung terbiasa mengutamakan orang tua, saya lihat memang ia punya kepekaan sosial tinggi, tidak tega dan mudah iba. Saya juga punya cerita tentang cara dia menyikapi situasi yang ada. 28 April 2018 ba’da maghrib, saya ditawari si Sulung makan.
“Umi makan ta? Sama kakak ya?” Ia menjumpai saya di ruang keluarga, mendengarkan si bungsu cerita hasil ulangan di madrasahnya.

“Iya”. Tanpa pikir lama saya menyetujuinya. 10 menitan berlalu, saya ngintip dia di dapur, sepiring nasi dan cobek berisi telor sambel versinya beranjak dibawa ke ruang keluarga.

“Lho kok makan di situ?” saya belum paham maksudnya.

“Tetap di sini saja, Kak!” saya sudah duduk di kursi meja makan . Ia mengikuti saya di belakang. Lalu ikut duduk di depan saya

“Lha nasinya umi kok ndak diambilkan?” Hehe. Sok jadi ibu, muncul prilaku minta dilayani.

“Ya ini sama Kakak jadi satu. Nasinya tinggal ini saja”. Katanya sambil menunjuk ke nasi yang kurang lebih 1,5 porsi makan. Saya baru ‘ngeh’ , jadi makan bersama sepiring itu solusi nasi ndak cukup uuntuk 2 porsi.

“Anak pondok banget”. Batin saya tertawa dan salut dengan solusinya ini.

Perjalan belajarnya dari dinamika hidup membuatnya bisa menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi agar ia dan orang- orang di sekelilingnya tetap survive.

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.