Siskamling Digital

agus harionoOleh: Agus Hariono

MEPNews.id – Judul di atas dalam rangka memerangi hoax (berita palsu). Tidak bisa dipungkiri, pesatnya perkembangan teknologi, selain berdampak positif, juga tidak sedikit menyisakan dampak negatif. Dampak negatif itu muncul kebanyakan disebabkan orang yang tidak bijak dalam menggunakan teknologi tersebut. Maraknya hoax juga akibat kurang bijaknya masyarakat dalam menggunakan teknologi, khususnya media sosial.

Media sosial saat ini memiliki pengaruh yang luar biasa, bahkan bisa menggantikan media mainstream (arus utama). Kenapa bisa demikian? Karena kebanyakan orang sekarang tidak mau repot melakukan klarifikasi tentang informasi yang masuk ke dalam media sosialnya. Seolah informasi yang masuk tersebut sudah memiliki nilai kebenaran haq, karena sudah disebar ke mana-mana alias viral. Sehingga layak untuk diteruskan kepada yang lain.

Ukuran kebenaran juga akhirnya bergeser. Karena banyak di-share maka dianggap sudah benar. Tentu hal tersebut sangat memprihatinkan dan membahayakan. Kita bisa membayangkan kayak apa semrawutnya kalau semua orang bisa membuat informasi lalu disebar, menjadi viral dan dianggap menjadi kebenaran. Padahal, yang membuat kabar tersebut hanya iseng atau bahkan sengaja berbuat jahat.

Saya agak risih sebenarnya ketika melihat banyak berseliweran informasi yang tidak jelas di grup-grup media sosial. Sejumlah konten yang berbau ceramah agama, lowongan kerja, kecelakaan, penipuan dan berita lainnya kadang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Melihat kondisi itu saya jadi berpikir, mungkin banyak orang dengan mudah share informasi yang ‘dianggap’ baik, benar dan bermanfaat, karena mereka menganggap itu adalah bentuk kebaikan. Seolah mereka tidak sadar, bahwa zaman sedang begeser. Apa yang dilakukan di dunia maya sama hukumnya dengan di dunia nyata.

Mereka pikir dengan men-share di dunia maya maka tidak berdampak apa pun di dunia nyata. Sehingga, tanpa merasa berdosa, informasi apa pun di-share ke mana-mana, tanpa tahu pasti apa isi informasi tersebut, tanpa tahu pasti kebenaran informasi tersebut.

Orang kadang hanya melihat tentang prinsip berbagi, bahwa berbagi memang baik. Tapi, harus dilihat dulu konteksnya. Tidak semua berbagi informasi itu baik, apalagi informasi yang belum diketahui kebenarannya.

Ambil contoh, tentang lowongan pekerjaan. Orang men-share info lowongan yang di dalamnya terdapat link. Padahal, ia sendiri belum membuka link tersebut. Nah, dalam kasus seperti ini, apa bisa disebut sebagai berbagi kebaikan? Iya, kalau link-nya benar tentang lowongan pekerjaan. Kalau link-nya berisi penipuan, kan justru menjerumuskan?!!

Selain tidak bijak, penyebaran hoax juga dipengaruhi kemampuan berliterasi yang rendah. Orang yang kemampuan literasinya rendah, biasanya nalarnya gampang dikibulin, gampang percaya, dan suka ikut-ikutan. Padahal, dalam agama jelas diajarkan, kalau tidak bisa berbicara yang baik, menyampaikan informasi yang benar, lebih baik diam!

Pilihan diam ini yang saya pilih, karena saya anggap paling sedikit risikonya. Saya hanya berbagi informasi jika informasi tersebut sudah saya ketahui kebenarannya. Kecuali kalau memang sengaja bercanda dengan informasi berbau lelucon. Tentu saya tidak perlu cross check kebenarannya, karena tujuannya untuk guyonan.

Mendorong masyarakat untuk ‘saring sebelum sharing’ ternyata juga tidak mudah. Kebanyakan masyarakat sudah terlanjur terpesona oleh keasyikan berbagi. Berbagi kebaikan itu murah tanpa modal. Tinggal pencet tombol, klik, informasi sudah tersebar kepada sekian puluh bahkan ratusan orang. Kemudian ia bangga karena merasa sudah berbagi.

Kegiatan inilah sebenarnya yang menyulitkan pemberantasan hoax. Ada yang mengatakan, “Hoax diproduksi oleh orang pintar yang jahat, dan disebarkan oleh orang bodoh yang baik hati.” Nampaknya klop, sehingga hoax sulit diperangi dan diberantas.

Pengetahuan tentang menyaring informasi itu penting, namun kudu sedikit repot. Kalau tidak ingin repot, ya jangan menyebar informasi apa pun yang tidak tahu sumbernya.

Agar kita tidak termasuk penyebar hoax dan agar kita turut berpartisipasi melawan hoax, mari kita ikuti ‘siskamling digital’ dengan cara tidak turut menyebarkan informasi yang tidak kita ketahui kebenarannya. Bila mengetahui ada kelompok yang dengan sukarela melakukan pemberatasan hoax dengan cara research atau cross check, silahkan laporkan hoax pada mereka. Kalau ada unsur pidananya ya langsung saja laporkan ke polisi.

Walahu a’lam.

 

Facebook Comments

POST A COMMENT.