Mencerdaskan Hati Menempatkan Posisi

isaOleh: M. Isa Ansori

MEPNews.id – “Setiap orang pasti mempunyai kebutuhan,” begitulah Maslow menjelaskan teorinya. Kebutuhan manusia dalam pandangan Maslow dipetakan menjadi beberapa tingkatan,  mulai dari yang paling dasar hingga yang paling tinggi yakni kebutuhan dihargai dan diapresiasi. Adapun sifat pemenuhannya tidak harus bertahap tapi bisa saling bersamaan dan melengkapi.

Di lain sisi, seringkali dalam pemenuhan kebutuhan itu manusia mengandalkan ‘id.’ Apa yang diharapkan harus terpenuhi. Yang penting ia merasa terpuaskan. Meski kadang dalam hal pemuasannya itu bertentangan dengan norma yang ada. Norma yang dimaksud tidak harus norma budaya tapi kadang juga norma etika.

Sebagai contoh; kita sedang membutuhkan pertolongan orang lain, lalu kita datang ke tempat orang yang kita mintai pertolongan, lalu kita memaksa orang yang kita mintai pertolongan itu mengikuti apa yang kita inginkan. Jika ini terjadi, tentu saja kesan minta pertolongannya menjadi berubah; dari minta tolong menjadi memerintah. Nah, kalau seandainya Anda ada pada posisi sebagai orang yang dimintai pertolongan, apa yang akan Anda rasakan?

Kecerdasan Menempatkan Diri

Kecerdasan menempatkan diri itu berkaitan dengan kemampuan kita memahami posisi kita saat itu; apa yang kita butuhkan dan apa yang harus kita lakukan; bukan apa yang harus dilakukan oleh orang lain. Karena, apa yang akan dilakukan orang lain berkaitan erat dengan apa yang akan kita lakukan terhadap diri kita. Apa yang akan dilakukan orang lain terhadap apa yang kita butuhkan, seringkali disebut sebagai ‘tindakan’.

Kecerdasan menempatkan diri juga berarti bahwa ketika kita dalam posisi yang lemah, kita membutuhkan orang lain, sehingga kita sudah semestinya mengikuti apa yang akan dilakukan orang lain untuk kepentingan terbaik kita. Sehingga, dalam proses pemenuhan pemuasan kebaikan, itu bisa berlangsung secara nyaman. Memaksakan apa yang kita mau ketika kita meminta bantuan orang lain, merupakan bentuk ‘egoisme’ bahkan menjurus pada kesombongan.

Dalam terminologi merasakan kenyamanan, setiap orang dituntut bisa saling memahami dan saling tenggang rasa. Erryc Berne, dalam analisis transaksionalnya, mengatakan kemampuan menjadikan diri kita dan orang lain sama-sama merasa nyaman ketika saling berkomunikasi dan bekerjasama. Ia menggambarkan pola hubungan yang “I am ok. You are ok.”

Hal yang bisa dilakukan adalah dengan memulai proses merasakan apa yang bisa kita rasakan terhadap orang lain. Misalnya, kalau kita tidak ingin dicubit orang maka jangan mencubit orang, sehingga kita akan berhati-hati bersikap terhadap orang lain. Kemampuan merasakan apa yang kita rasakan berkaitan dengan orang lain, akan memandu sikap dan cara kita bersama orang lain.  Sehingga, dalam pola relasi yang dibangun akan saling menjaga dan saling percaya serta saling menerima.

Nah, Kawan… Hidup itu butuh kenyamanan. Dalam pemenuhannya, kita tak bisa merasa diri paling mampu dan tak membutuhkan orang lain. Maka, melepaskan diri dari perasaan paling tahu dan paling bisa merupakan keniscayaan. Berpikirlah ke depan. Ketika kita sudah saling percaya dalam membangun relasi, maka tanggung jawab untuk kepentingan terbaik bersama akan menjadi pilihan…. Semoga saja!

Orang yang rendah hati, senantiasa bersikap sopan, santun, dan lembut kepada orang lain tanpa melihat umur, jabatan, kekayaan, dan hal lainnya. Dia merasa semua orang memiliki derajat yang sama. Dia mampu memosisikan dirinya setara dengan semua orang; tidak lebih baik, tidak lebih kaya, tidak lebih mahir, dan tidak lebih mulia. Tentu saja, karena sikapnya ini dia justru akan dimuliakan dan dihormati oleh orang-orang di sekitarnya.

“Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin ketinggian (menyombongkan diri ) dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”[Al-Qashash/28: 83]

Facebook Comments

POST A COMMENT.