Mengimunisasi Kekuatan Komitmen

isaOleh: M. Isa Ansori

MEPNews.id – Jumat 20 April 2018, saya diajak bertemu kawan-kawan di sebuah food court rakyat di Jalan Urip Sumoharjo, Surabaya. Tak kurang dari 15 orang hadir dalam diskusi pukul 15.00 – 19.00 itu. Diskusi dimulai dengan ungkapan perasaan dinamisasi pergerakan. Terasa sekali hampir semua yang hadir mengalami gangguan dari dalam. Mereka merasakan mulai ada yang membuat distruksi pemahaman sehingga akan berakibat melemahkan perjalanan.

Diskusi menyampaikan informasi dan kejadian silih berganti disuarakan. Intinya sebagian besar mereka merasakan gangguan dari dalam dan dari luar yang memperlemah perjuangan. Berbagai olahan isu dibenturkan ke sana dan ke mari. Dengan harapan, si penebar isu mendapatkan perhatian dan respon dari yang lain. Tapi akhirnya semuanya bisa menyadari bahwa selalu ada gangguan  dalam setiap perjalanan yang kita lakukan.

Sebagai bagian dari diskusi, saya hanya mendengarkan dan mencoba membuat catatan kecil berkaitan dengan rangkaian gangguan yang terjadi. Saya memilah-milah kalimat yang dianggap distruktif itu macam apa saja, pola penyampaianya seperti apa, dan siapa saja yang dijadikan sasaran penyampaian  pesan destruktifnya. Catatan-catatan kecil itu lah yang kemudian membantu saya menggambarkan peristiwa menjadi  lebih sederhana dengan harapan agar mudah mengurainya.

Saya memulai tanggapan saya kepada teman-teman dengan sebuah cerita: Suatu saat, Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan, terjadi fitnah terhadap Aisyah istrinya. Siti Aisyah, kala itu, dalam perjalanan mengikuti rombongan Rasulullah untuk berperang. Setelah mendapat kemenangan dalam perang, saat pulang ke Madinah, rombongan Rasulullah istirahat di suatu tempat. Saat itu, Siti Aisyah yang diangkut dalam tandu tertutup, diturunkan dari onta yang membawanya. Tanpa diketahui para pengawal, Aisyah turun karena mau buang air. Setelah itu Aisyah kembali ke tandunya. Akan tetapi dia kemudian mendapati kalungnya tidak ada di lehernya. Lalu dia keluar kembali, dan mencari kalungnya yang hilang. Saat itu, waktu istirahat sudah cukup, dan rombongan kembali melanjutkan perjalanan, tanpa disadari Aisyah tidak ada dalam tandu. Perlu diketahui, tubuh Aisyah kecil sehingga para pengangkat tidak sadar bahwa tandu itu kosong. Singkat cerita, Aisyah tertinggal di hutan lalu memutuskan untuk tetap menunggu di situ sampai tertidur. Kebetulan, seorang sahabat bernama Sofwan bin Mutahol Assulami juga tertinggal di belakang rombongan. Dia sangat kaget melihat Aisyah yang sedang teridur di jalan. Dia mengucapkan: “Innalillahi wa inna ilaihi rojiu’n.” Aisyah terbangun. Singkat cerita, Sofwan mempersilahkan Aisyah naik ke atas ontanya, dan dia menuntun onta itu. Peristiwa itu menimbulkan fitnah bahwa Aisyah istri Rasulullah Saw selingkuh. Fitnah itu dikompori oleh Abdullah bin Ubay. Sesampai di Madinah, Aisyah sakit sampai satu bulan tanpa mengetahui ada fitnah terhadap dirinya. Yang dia herankan adalah Rasulullah tidak memperlihatkan kasih sayangnya seperti biasanya bila dia sakit. Setelah dia tahu fitnah itu, sakit Aisyah semakin parah. Dia mohon izin kepada Rasulullah untuk sementara akan tinggal di rumah orang-tuanya, Abu Bakar Siddieq. Yang dia lakukan hanya menangis dan menangis, karena dia merasa tidak pernah berbuat sesuatu yang difitnahkan kepadanya. Kondisi fitnah itu tentu menyebar hingga mencapai satu bulan lamanya. Dan selama itu pula, tidak ada wahyu yang diterima Nabi Muhammad SAW. Sampai kemudian, Allah SWT mengabarkan berita gembira kepada Nabi yang menyatakan Aisyah RA terbebas dari segala tuduhan perselingkuhan dan fitnah itu.

Setelah itu, saya mencoba mengingatkan yeman-teman diskusi bahwa selalu ada upaya melemahkan apa yang kita lakukan baik itu dari kawan ataupun dari orang lain yang seringkali kurang sepaham atau bahkan mempunyai kepentingan tertentu. Perilaku seperti ini kadang harus dipahami sebagai upaya mencari perhatian.

Sebagaimana digambarkan Berne, karakter manusia itu ada tiga. Satu, karakter orang tua. Kedua, karakter orang dewasa. Ketiga, katakter anak-anak. Karakter orang tua akan merujuk pada sikap orang tua,  misalnya; suka menasehati, minta selalu didengar, kadang mau menangnya sendiri dan lain lain. Hal yang sama juga terjadi pada karakter anak, misalnya; suka menangnya sendiri, mencari perhatian, egois dan lain lain yang menggabarkan perilaku anak kecil. Karakter dewasa adalah rasional dan bijak, mampu memberi dan menerima dalam dialog, serta mampu menjalankan saran orang lain yang dirasa baik.

Nah, karakter distruktif itu seringkali dilakukan oleh mereka yang berkarakter orang tua dan anak. Saran saya kepada teman-teman adalah bersikap lah dewasa dalam menyikapi peristiwa yang cenderung  merusak. Sikap yang bijak adalah diam dan membuktikan pada hal-hal yang menurut kita penting. Percayalah kebenaran pasti akan terlihat dan kebohongan dengan menyebarkan isu yang kurang membangun kebersamaan pasti akan terkuak.

Mendewasakan Diri

Apa itu mendewasakan diri? Mendewasakan diri merupakan upaya membangun karakter kita menjadi lebih dewasa. Karakter yang rasional, mau mendengar, bijak, menghormati serta cenderung  menghindari hal hal yang merugikan.

Mendewasakan diri bisa dilakukan dengan cara berlatih memahami dan mendengar ucapan orang lain, sehingga kita bisa lebih cermat melihat persoalan yang diucapkan. Dengan mendewasakan diri, kita akan bisa menempatkan diri pada posisi yang tepat ketika berhadapan dengan orang yang mempunyai  kecenderungan disrtuktif.

Salah satu bentuk upaya mendewasakan diri adalah dengan sabar dan tekun mendengarkan apa yang disampaikan orang lain, lalu merespon dengan sikap dan bahasa yang bijak yang bisa menghargai  perasaan orang lain. Upaya seperti ini adalah bahagian dari komunikasi intrapersonal, di mana setiap orang dituntut untuk mampu  merasakan perasaan orang lain sebelum bertindak. Diharapkan dari kemampuan interpersonal ini orang lalu mempunyai kecerdasan intrapersonal. Kecerdasan menempatkan diri di hadapan orang lain.

Jadi saya berharap kepada kawan-kawan memaklumi bahwa selalu ada peristiwa destruktif  yang mengikuti kita. Maka, dewasa adalah jalan pilihan untuk menghadapinya. Kedewasaan adalah kunci kebersamaan dan memiliki daya ungkit menggerakkan energi kebersamaan, saling merasakan, saling percaya dan saling mengapresiasi, dan mungkin juga saling melindungi. Kedewasaan bisa menjadi obat imunisasi kita mempertahankan dan meningkatkan daya tahan kita sebagai pribadi maupun sebagai kelompok. (*)

Facebook Comments

POST A COMMENT.